ArtikelCatatan Aktivis PapuaPapua Harus Ikut Jalan Tuhan Untuk Bebas Berdaulat

Papua Harus Ikut Jalan Tuhan Untuk Bebas Berdaulat

Oleh: Selpius Bobii*
*) Koordinator Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDRP2)

Banyak pihak dari Papua dan dari simpatisan internasional dari tahun ke tahun optimis bahwa ULMWP akan diterima menjadi anggota penuh MSG dalam KTT MSG. Untuk tahun ini akan diselenggarakan antara 19 Juli hingga 29 Juli 2023 di Port Villa, Vanuatu.

Tetapi, kemungkinan besar optimisme itu tidak akan menjadi kenyataan, kecuali kalau ada mukjizat dari Tuhan. Mengapa? Mengingat diplomasi terbuka dan tertutup sedang digencarkan oleh pihak-pihak yang menginginkan Papua tetap berada dalam genggaman NKRI.

Pihak-pihak itu sudah jelas di depan mata kita. Mereka adalah pihak-pihak yang selama ini mengorbankan rakyat bangsa Papua dari segala sisi. Semuanya itu terjadi hanya karena kerjasama bilateral dan multilateral di antara negara-negara di dunia.

Isu Papua menjadi “daya tawar” yang paling ampuh untuk memuluskan kepentingan para pihak itu. Negara Indonesia dijadikan sebagai sapi perah mengambil susu madunya dari tangan NKRI.

Negara Indonesia menyadari akan hal itu, tetapi negara Indonesia mengorbankan segalanya untuk mempertahankan Papua Barat dalam bingkai NKRI. Karena susu madu yang diperas oleh para mitranya itu adalah hasil rampokan kekayaan alam Papua. Dalam hal ini negara Indonesia tidak rugi karena semua yang RI bayar kepada para pihak tertentu itu adalah hasil curian kekayaan alam dari tanah Papua Barat.

Negara Indonesia hanya khawatir dengan kehilangan Tanah Papua dari NKRI, karena mereka berpikir bahwa masa depan Indonesia itu ada di Tanah Papua Barat karena tersedianya cadangan sumber daya alam (SDA) yang melimpah, dan bentangan alamnya yang subur nan indah serta luas.

Baca Juga:  Kura-Kura Digital

Kita bangsa Papua sudah lama mengalami korban di atas korban karena Papua bagaikan “gadis hitam manis tercantik” yang menjadi rebutan dunia, mengingat kekayaan alam Papua yang berlimpah ruah.

Dunia mencintai Papua hanya untuk menyedot kekayaan alam Papua. Sementara manusia Papua pemilik negerinya ditolak dan dibenci, bahkan dibasmi oleh negara Indonesia atas kerjasama para sekutunya. Segala bentuk tirani penjajahan ini mengakibatkan tanah air dan bangsa Papua sedang dalam proses kehancuran dan pemusnahan (ekosida, etnosida, spiritsida, dan genosida).

Negara-negara di dunia hanya mengutamakan dan mengamankan kepentingan mereka masing-masing, sehingga mengabaikan jeritan masyarakat pribumi Papua Barat yang digilas oleh para gajah di dunia untuk memperebutkan kekayaan alam Papua yang berlimpah ruah. Bangsa Papua hingga kini hidup melarat dan merana, serta mati terhimpit di atas kekayaan alam yang melimpah. Ironis memang!

Sampai kapan siklus mata rantai penjajahan ini akan berakhir dari Tanah Papua Barat? Jawabannya adalah kembali kepada kita sendiri bangsa Papua. Orang lain tidak akan datang menolong untuk menyelamatkan kita, kecuali diri kita dan Tuhan.

Bangsa Papua harus sadar, ambil komitmen, bertobat dari dosa, berdamai dan bersatu serta bangkit untuk mengikuti kehendak rencana Tuhan, karena masa depan bangsa Papua itu sudah termeterai abadi dalam rencana dan ketetapan Tuhan, agar pada waktu-Nya bangsa Papua memimpin dirinya sendiri untuk menggenapi rencana Tuhan yang dinubuatkan oleh para pendahulu kita, para misionaris, salah satunya Pdt. I. S. Kijne, serta nubuatan lainnya dalam Kitab Suci.

Baca Juga:  Nasionalisme Papua Tumbuh Subur di Tengah Penjajahan

Hanya dengan kita memahami, mengikuti dan melaksanakan kehendak rencana Tuhan, maka tanah dan bangsa Papua akan dipulihkan oleh Tuhan indah pada waktu-Nya.

Kita sering mengatakan bahwa “banyak jalan menuju ke Roma”, sehingga di dalam perjalanan bangsa Papua banyak organisasi dan proklamasi (deklarasi) dilahirkan. Masing-masing kita mempertahankan jalan kebenarannya masing-masing, sehingga kita sangat sulit bersatu untuk melangkah bersama menggapai impian bangsa Papua.

Kelemahan kita selama ini adalah kita tidak memahami dan tidak melaksanakan rencana kehendak Tuhan tentang masa depan bangsa Papua. Padahal apa yang dipikirkan, direncanakan dan dilakukan oleh manusia, belum tentu hal itu dikehendaki oleh Tuhan. Sebab ada tertulis dalam kitab Yesaya 55:8 “… rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan”. Juga, ada tertulis dalam Kitab Amsal 16:9 “Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhan-lah yang menentukan arah langkahnya”.

Apakah kita terus berharap kepada bangsa-bangsa lain, sementara di dalam diri dan rumah tangga kita belum dibenahi?.

Apakah kita terus melangkah dengan jalan kebenarannya masing-masing yang belum tentu dikehendaki oleh Tuhan, sementara kita mengabaikan jalan kebenaran yang dikehendaki oleh Tuhan?.

Sampai kapankah kita mau sadar dan bersatu di dalam jalan Tuhan yang Bapa Yahwe sudah rancang dan ditetapkan dari semula?.

Apakah kita terus menyalahkan orang lain atau bangsa lain, sementara kesalahan dalam diri kita bangsa Papua belum kita cermati, benahi dan didamaikan?.

Baca Juga:  Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tanah Papua Harus OAP, Aspirasi Lama

Kita musti mengambil waktu khusus, baik secara pribadi masing-masing, dan juga duduk bersama di para-para adat untuk bicara dari hati ke hati merenungkan kembali jalan yang kita sudah tempuh: “Apakah jalan itu sesuai dengan rencana kehendak Tuhan? Ataukah jalan itu lahir dari ambisi kehendak manusia?”.

Akhir dari perenungan khusus itu diharapkan agar ke depan kita sehati sejiwa mengikuti jalan yang Tuhan sudah rancang dan tetapkan dari semula untuk masa depan bangsa Papua dalam kerangka mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Sudah terbukti 60 tahun lebih bahwa jalan yang selama ini kita tempuh belum membawa bangsa Papua masuk ke garis finish. Karena di antara kita saling baku sikut dan mempertahankan jalan kebenarannya masing-masing yang belum tentu dikehendaki oleh Tuhan. Perlu kita sadari bahwa berjalan dengan rencana kehendak manusia, kita akan terus berputar pada porosnya seperti yang kita alami selama ini.

Hanya dengan kita memahami, mengikuti dan melaksanakan jalan Tuhan, maka kita akan segera sampai di puncak kemenangan iman atau revolusi iman yaitu Papua bebas merdeka lahir batin di dalam Tuhan untuk menikmati susu madu di Eden Papua untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Tulisan ini saya buat untuk kritik dan otokritik atas perjalanan yang sedang ditempuh oleh kita bangsa Papua. Harap menjadi maklum. Terima kasih. Shalom.

Atas pertolongan Tuhan, Papua pasti bisa!. (*)

Jayapura, Sabtu, 8 Juli 2023

Terkini

Populer Minggu Ini:

Peduli Korban Erupsi Gunung Ruang, Mahasiswa Papua Serahkan Bantuan Sembako

0
Narek mengatakan, bantuan-bantuan itu disalurkan berkat donasi mahasiswa Papua yang tergabung dalam ikatan IMPIP di Provinsi Gorontalo. Selain itu hasil penggalangan dana di jalan.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.