PolhukamDemokrasi261 Link Lao-Lao Papua yang Dibagi di Facebook Telah Dihapus, Ada Apa?

261 Link Lao-Lao Papua yang Dibagi di Facebook Telah Dihapus, Ada Apa?

SORONG, SUARAPAPUA.com Sedikitnya 261 buah tulisan di website Lao-Lao Papua yang telah dishare di facebok terhapus secara tiba-tiba sejak tanggal 9 Januari 2024.

Pihak Facebook Indonesia diduga kuat telah menghapus semua tulisan yang terdapat kata revolusi, revolusioner, sosialisme, Papua merdeka, dan lainnya sejak tanggal 9 hingga 10 Januari 2024.

Mikael Kudiai, pengelola media Lao-Lao Papua, mengatakan, selama dua hari semua postingan Lao-Lao Papua di Facebook yang dianggap melanggar aturan dihapus pihak Facebook Indonesia.

“Sampai saat ini ada 261 link berita dan artikel Lao-Lao Papua yang diposting ke Facebook dihapus, menurut Facebook Indonesia melanggar standar mereka,” kesalnya di grup WhatsApp.

Tidak hanya postingan di fanpage Lao-Lao Papua yang dihapus. Ada beberapa aktivis yang juga mengalami hal sama. Mereka pun kaget dan bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi?

Baca Juga:  PKJ Sorong Raya Minta Polda Papua Proses Hukum Ismail Asso

Jawaban dari pihak Facebook Indonesia di setiap postingan link website yang dihapus, “Sepertinya anda mencoba mendapatkan suka, mengikuti, berbagi atau penayangan video dengan cara menyesatkan. Kami (pihak Facebook) tidak bisa menampilkan konten ini. Konten anda melanggar standar komunitas kami tentang spam. Sepertinya anda menipu orang untuk mengambil uang, property atau hak hukum mereka, postingan anda melanggar standar komunitas kami tentang penggelapan dan penipuaan.”

Postingan dari link website Lao-Lao Papua yang dihapus dan diberikan keterangan oleh pihak Facebook Indonesia seperti terlihat dalam gambar. Ini terjadi pada tanggal 9 Januari 2024. (Dok. Lao-Lao Papua)

Rata-rata aktivis yang share link berita dan artikel, tetapi postingannya tiba-tiba terhapus mendapatkan keterangan yang sama dari pihak Facebook Indonesia. Tidak hanya postingan berita Lao-Lao Papua yang dihapus, tetapi beberapa tulisan atau postingan status aktivis Papua lainnya yang dinilai pihak Facebook melanggar etika dihapus di tanggal yang sama walau postingannya sudah dari sejak lama.

Baca Juga:  BREAKING NEWS: Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti Divonis Bebas

Menurut Mikael Kudiai, aktivis yang juga pengelola media alternatif itu menilai apa yang dilakukan Facebook Indonesia adalah upaya menutup ruang ilmiah menalar seperti berdiskusi, debat, dan kritik untuk perjuangan rakyat Papua sedang dihanguskan dan dihilangkan negara melalui Facebook Indonesia.

“Kami merasa ini ada upaya ruang ilmiah kami untuk menalar seperti diskusi, debat, kritik untuk perjuangan rakyat Papua sedang dihanguskan dan dihilangkan oleh Facebook Indonesia dan negara,” tulis Mikael di fanpage Lao-Lao Papua.

“Lantas kalau semua ruang dibatasi dan tidak bebas sebabas-sebebasnya. Kami harus belajar, bertumbuh, dan berkembang menjadi manusia yang bebas di mana lagi?” kesalnya terhadap situasi yang sedang menimpa website Lao-Lao Papua lantaran semua postingan di facebook dihapus tanpa alasan.

Baca Juga:  Temui MRP, Forum Pencaker PBD: OAP Harus Diberdayakan di Segala Bidang

Mikael juga mengaku website Lao-Lao Papua kena serangan malware. Jika diklik, secara otomatis akan dialihkan ke situs-situs tidak jelas.

“Kami lakukan perbaikan selama seminggu dan pulih kembali. Tetapi, website kami diserang kembali pada tanggal 8 Januari 2024. Saat ini masih dalam tahap perbaikan,” imbuh Kudiai.

Dilansir Kompas.com edisi 4 Januari 2024, presiden Joko Widodo telah menandatangani Undang-Undang nomor 1 tahun 2024 tentang perubahan kedua atas UU nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Hasil perubahan kedua tersebut telah disahkan DPR pada 5 Desember 2023 dan ditandatangani presiden RI 2 Januari 2024. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Referendum Vanuatu Berupaya Menanamkan Stabilitas Setelah Pemerintahan Terbuka

0
"Vanuatu memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, tetapi ketika referendum berfokus pada penghapusan hak konstitusional seorang anggota Parlemen, apakah kita masih berada di negara demokrasi?" kata seorang pengguna bernama Peserta Anonim di grup Facebook Yumi Tok Tok Stret.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.