BeritaKesehatanGawat! Di Mimika, 2.500 Ekor Babi Mati Terserang Virus ASF

Gawat! Di Mimika, 2.500 Ekor Babi Mati Terserang Virus ASF

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Dalam enam pekan terakhir, ribuan ekor babi peliharaan masyarakat di Timika, kabupaten Mimika, Papua Tengah, mati tiba-tiba. Penyebabnya, virus African Swine Fever (ASF) yang merebak di kota Dollar sejak 10 Januari 2024 lalu.

drh. Sabelina Fitriani, M.Si, kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan kabupaten Mimika, Senin (26/2/2024),.membeberkan fakta hingga hari ini sudah tercatat 2.500 ekor babi milik masyarakat di kabupaten Mimika mati terserang virus ASF.

“Ini data lapangan yang kami miliki terhitung sejak virus ASF merebak di kabupaten Mimika mulai tanggal 10 Januari 2024 hingga hari ini, 26 Februari 2024,” kata Sabelina.

Kian mengganasnya virus ASF diakui satu tantangan serius yang kini harus dihadapi semua pihak di kabupaten Mimika.

Sebab sejauh ini belum ada obat atau vaksin ampuh, tentunya menurut Fitriani, hal yang terus dilakukan adalah memberikan edukasi kepada warga masyarakat untuk mengambil langkah-langkah preventif mencegah makin meluaskan penularan virus ASF.

“Kami terus sosialisasikan agar para peternak dan masyarakat umum harus patuhi dengan beberapa upaya pencegahan supaya penularannya tidak cepat meluas,” jelasnya.

Salah satu upaya pencegahan, kata Sabelina, setiap peternak babi di kabupaten Mimika wajib melakukan sterilisasi kandang babi.

“Hampir setiap hari babi-babi mati akibat terpapar virus ASF, sehingga kandangnya harus disterilkan untuk mencegah penularan lebih lanjut. Vaksinnya memang belum ada. Jadi, upaya memutus mata rantai penyebaran virus ASF di kabupaten Mimika harus terus dilakukan. Dan, itu yang kami dorong kepada para peternak agar harus berperan aktif,” tuturnya.

Baca Juga:  Panglima TNI dan Negara Diminta Bertanggung Jawab Atas Penembakan Dua Anak di Intan Jaya

Virus ASF diketahui dapat bertahan hidup dalam jangka waktu yang lama. Oleh karenanya, kata Sabelina Fitriani, para peternak disarankan untuk melakukan sterilisasi kandang per dua hari.

“Langkah pencegahannya, para peternak harus melakukan sterilisasi kandang babi dengan menggunakan disinfektan. Kandang yang terinfeksi harus dikosongkan dan disemprot dengan disinfektan untuk memastikan sudah bersih dari virus ASF. Selain itu kandangnya disikat dengan bayclin dan sabun. Itu namanya bio sekuriti kandang,” terang Fitriani.

Bagi babi yang masih bertahan disarankan untuk beri serum ScoVet ASF dan vaksin kolera agar antibodinya tetap stabil.

Dikemukakan, wabah ASF telah menjadi perhatian serius bagi para peternak dan otoritas terkait dengan mengambil langkah-langkah pencegahan tepat demi melindungi industri peternakan dan kesehatan hewan di kabupaten Mimika.

Fitriani menambahkan, baru-baru ini telah dilakukan penguburan massal babi-babi di salah satu lokasi milik Pemkab Mimika yang letaknya jauh dari kawasan pemukiman warga Timika.

Merebaknya virus ASF di kabupaten Mimika tentu saja patut diwaspadai tujuh kabupaten lainnya di provinsi Papua Tengah.

Baca Juga:  Festival Angkat Sampah di Lembah Emereuw, Bentuk Kritik Terhadap Pemerintah

Di kabupaten Nabire, misalnya. Pemerintah daerah telah mengeluarkan surat edaran dalam rangka mengantisipasi wabah tersebut masuk Nabire.

Sekalipun Dinas Peternakan kabupaten Nabire menyatakan belum ada kasus ASF, para peternak diminta tetap waspada. Begitupun kepada masyarakat, diwarning untuk tidak impor babi dari Mimika ataupun daerah lain di luar Nabire.

Tak Berdampak ke Manusia

Menurut drh. Daud Edowai, salah satu dokter hewan di provinsi Papua Tengah, mewabahnya virus mematikan itu tidak berbahaya bagi kesehatan manusia. Tetapi sasarannya hanya ternak babi. Dengan tingkat penularan virusnya sangat cepat.

Hingga kini virus tersebut tengah melanda kabupaten Mimika, harap Daud, tentunya kabupaten tetangga, seperti Deiyai, Paniai, Dogiyai, Puncak Jaya, Puncak, Intan Jaya dan Nabire, harus siaga 1 untuk menghindari ASF masuk.

“Kabupaten lain harus waspadai, jangan sampai virus ini masuk serang babi. Kalau itu sampai terjadi, salah satu ternak milik masyarakat akan rugi besar,” ujarnya.

Edowai akui virus ASF sangat berbahaya bagi ternak babi, tidak kepada kesehatan manusia.

Untuk mencegah berbagai kemungkinan di kemudian hari, ia berharap agar perlu ada peraturan daerah (Perda) pengawasan lalu lintas ternak babi.

“Pemerintah daerah bersama pimpinan OPD terkait harus segera memfasilitasi kami untuk menyusun regulasi daerah,” kata Edowai.

Baca Juga:  Bangun RS Tak Harus Korbankan Warga Sekitar Sakit Akibat Banjir dan Kehilangan Tempat Tinggal

Selain itu, pemerintah daerah juga mesti pro aktif terhadap upaya pencegahannya dengan dukungan dana operasional.

“Mohon dukung kami operasional siaga satu virus ASF,” pintanya.

Daud berharap, sejak dini perlu lakukan upaya waspada terhadap ASF, karena virus tersebut telah menghancurkan sentra-sentra peternakan babi di Indonesia, seperti Toraja, Sumatera, Bali, dan daerah lainnya.

Dikutip dari laman Word Organisation for Animal Health (WOAH), African Swine Fever (ASF) merupakan penyakit pada babi yang disebabkan oleh virus ASF (ASFV) dari famili Asfarviridae. Virus ini menimbulkan berbagai pendarahan organ internal pada babi domestik maupun babi hutan. Proses penularan dengan angka kematian yang sangat tinggi, namun hingga kini belum ada vaksin atau pengobatan efektif untuk mencegah penyakit ini.

ASF, dalam bahasa Indonesia disebut penyakit demam babi Afrika, diketahui sebagai penyebab hilangnya populasi babi secara besar-besaran dan dampak ekonomi yang drastis dalam beberapa tahun terakhir. Virus ini menyerang beberapa wilayah di dunia. Selain menghambat kesehatan dan kesejahteraan hewan, juga berdampak buruk pada keanekaragaman hayati dan mata pencaharian para petani.

WOAH atau Organisasi Kesehatan Hewan Dunia bekerja sama dengan mitra, industri, dan pakarnya mendukung negara-negara dalam upaya mencegah dan mengendalikan virus mematikan itu. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Dukcapil Intan Jaya akan Lanjutkan Perekaman Data Penduduk di Tiga Distrik

0
“Untuk distrik Tomosiga, perekaman akan dipusatkan di Kampung Bigasiga. Sedangkan untuk Ugimba akan dilakukan di Ugimba jika memungkinkan. Lalu distrik Homeyo perekaman data penduduk akan dilakukan di Kampung Jombandoga dan Kampung Maya,” kata Nambagani.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.