BeritaFeatureVince Tebay, Perempuan Mee Pertama Raih Gelar Profesor

Vince Tebay, Perempuan Mee Pertama Raih Gelar Profesor

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Bentuk lain dari perlawanan terhadap budaya patriarki sukses direngkuhnya. Vince Tebay buktikan itu dengan menyabet gelar profesor. Perjuangan panjang melewati berbagai tantangan di bangku pendidikan formal mengantarnya sebagai perempuan Mee pertama dalam kategori intelektual tulen.

Kisah sukses seorang Vince Tebay hingga akhirnya dikukuhkan sebagai profesor atau guru besar dalam bidang Administrasi Publik terjadi hari ini, Selasa (19/3/2024) di kampus Universitas Cenderawasih (Uncen).

Prosesi pengukuhan guru besar dipimpin Rektor Uncen, Dr. Oscar Oswald Oktovianus Wambrauw, SE, M.Sc.Agr, dengan ketua senat Uncen, Prof. Dr. Balthasar Kambuaya, MBA, dihadiri sivitas akademika serta pelbagai pihak lainnya memadati auditorium Uncen yang terletak di bilangan Abepura, kota Jayapura, Papua.

Sesaat setelah gelar guru besar disematkan, Profesor Dr. Vince Tebay, S.Sos, M.Si, menyampaikan orasi ilmiahnya berjudul “Pengaruh Karakteristik Budaya Organisasi Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan di Wilayah Meepago (Kabupaten Nabire) – Sebuah Kajian Administrasi Publik”.

Selain Prof. Dr. Vince Tebay, S.Sos, M.Si, bersamaan juga dikukuhkan Prof. Dr. Drs. Jonner Nainggolan, M.Si. Keduanya berstatus dosen Uncen.

Tebay sehari-harinya dosen di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Uncen. Sedangkan Nainggolan dosen pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Uncen.

Keduanya melengkapi daftar panjang profesor/guru besar yang dimiliki Uncen. Total kini berjumlah 28 profesor.

Para profesor tersebut tersebar di hampir sebagian besar fakultas yang ada di Uncen. Terbanyak di Fakultas Ekonomi dan Bisnis yakni 8 orang, disusul Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) 6 orang, FISIP 5 orang, Fakultas Hukum 3 orang, Fakultas Ilmu Keolahragaan 4 orang, serta FMIPA 2 orang.

Baca Juga:  Wawancara Eksklusif Daily Post: Indonesia Tidak Pernah Menjajah Papua Barat!

Sejatinya Uncen memiliki 38 guru besar. Tujuh diantaranya telah meninggal dunia, dan tiga orang pensiun. Hingga kini yang masih aktif ada 28 orang guru besar.

Keberhasilan Prof. Dr. Vince Tebay menjadi inspirasi bagi semua perempuan asli Papua bahwa mereka masih punya peluang untuk mencapai karier tertinggi bila ditekuni serius dengan tentunya mendapat dukungan banyak pihak, termasuk dari keluarganya sendiri.

Kesuksesan perempuan suku Mee ini di dunia akademik meruntuhkan pandangan miring kebanyakan orang yang cenderung rasis dan diskriminatif. Juga, merobek stereotype terhadap orang gunung ketinggalan dan terkebelakang.

Prof. Dr. Vince Tebay mampu menjawabnya dengan prestasi akademik yang dikategorikan sangat luar biasa: guru besar. Ini jabatan akademik tertinggi anak asli Papua.

Uniknya, tak sedikit putra-putri Papua menyandang pendidikan doktoral. Namun untuk gelar Profesor dihitung dengan jari. Vince Tebay yang kedua, setelah sebelumnya Prof. Dr. Dra. Yohana Susana Yembise, Dip.Apling, MA.

Lalu, siapa sebenarnya Vince Tebay?

Ia anak seorang Hamba Tuhan, Pdt. Yosias Tebay, S.Th, M.Th. Buah hati mama Marci Mote.

Vince Tebay lahir di Paniai pada 29 Agustus 1969. Selesaikan pendidikan dasar di Tiom, kini ibu kota kabupaten Lanny Jaya, pada tahun 1983. Kemudian lanjut ke SMP YPPK Taruna Mulia Argapura Jayapura. Tamat tahun 1986, lalu masuk SMA Taruna Dharma Kotaraja Jayapura. Setamat tahun 1989, Vince diterima di FISIP Uncen. Sebagai mahasiswi ia kuliah di program studi Administrasi Negara hingga wisuda tahun 1995.

Baca Juga:  Dua Anak Diterjang Peluru, Satu Tewas, Satu Kritis Dalam Konflik di Intan Jaya

Begitu raih titel sarjana, gadis Mee yang akrab disapa Vin itu langsung direkrut sebagai dosen muda di kampus Uncen.

Di mata para dosennya, Vin adalah anak cerdas dan sangat konsisten dalam mengejar cita-citanya. Juga tegas dan berani menyatakan pendapat dan sikapnya. Agak berbeda pembawaannya dibanding rekan-rekan lainnya.

Mengabdi kurang lebih delapan tahun di almamaternya, Vin dinilai punya kemampuan lebih. Karenanya, ia dipercayakan untuk melanjutkan studi magister di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Jakarta. Gelar magister berhasil disabetnya tahun 2008.

Setahun sebelumnya, tahun 2007, Vin juga berhasil meraih gelar magister pertama di Institut Pertanian Bogor (IPB) dengan konsentrasi Manajemen Pembangunan Daerah.

Bersamaan ia berhasil genggam dua gelar magister dengan kualifikasi berbeda.

Sudah begitu, semangatnya tak lantas padam. Langkah Vin tak terhenti sampai di situ. Tahun 2012 ia melanjutkan studi doktoral di Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Jawa Barat. Studi doktoral pilihan konsentrasi Administrasi Publik berhasil diselesaikan dengan prestasi sangat memuaskan.

Sukses menyandang gelar doktoral, Vin tak berpuas diri. Malah masih mau terus melanjutkan pendidikan lagi. Tekad keluar negeri pun tercapai. Vin akhirnya melanjutkan pendidikan post doktoral di Universitas of Wisconsin Medison, Amerika Serikat, pada tahun 2014 dengan mengambil kajian public serve’s on public sector. Hingga akhirnya gelar profesor pun berhasil digenggamnya tahun ini.

Baca Juga:  KPK Menang Kasasi MA, Bupati Mimika Divonis 2 Tahun Penjara

Dari kisah panjang perjalanan pendidikannya, Vince Tebay memberi inspirasi dan motivasi tersendiri bagi semua perempuan Papua terutama perempuan Papua pegunungan terlebih perempuan Mee, bahwa mereka pun dapat menggapai karier tertinggi dalam hidupnya. Mampu mewujudkan impiannya.

Profesor Vince Tebay adalah sosok perempuan pertama suku Mee yang menjadi guru besar. Ia menjadi kebanggaan bagi masyarakat Mee. Terutama keluarga besar, termasuk komunitas ia berhimpun. Juga secara umum orang Papua, karena ini hal jarang terjadi. Bisa dihitung dengan jari.

Tercatat sebagai dosen perempuan pertama yang meraih gelar profesor di FISIP Uncen. Di lain sisi, Vin menempatkan dirinya sebagai profesor perempuan asli Papua pertama juga di lingkungan tempat ia bekerja.

Hanya, Prof. Dr. Vince Tebay adalah profesor perempuan asli Papua kedua yang dimiliki Uncen setelah Prof. Dr. Dra. Yohana Susana Yembise dari FKIP Uncen. Keduanya mencatatkan sejarah sebagai dua orang perempuan asli Papua dengan jabatan akademik tertinggi di Uncen sejak pertama kali kampus tertua ini didirikan 10 November 1962.

Sembari menanti kemunculan perempuan-perempuan cerdas lainnya dalam bidang akademik sebagai guru besar di Tanah Papua, untuk saat ini ucapan selamat dan sukses layak diberikan kepada Prof. Dr. Vince Tebay. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Suku Abun Gelar RDP Siap Bertarung Dalam Pilkada 2024

0
“Masyarakat harus tetap konsisten dengan apa yang disampaikan dalam kegiatan ini. Yang terlebih penting masyarakat harus menjaga keamanan di Tambrauw sehingga semua kegiatan berjalan dengan aman dan damai mulai dari tahapan hingga selesai Pilkada 2024 nantinya,” pesannya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.