Siswa SD dan SMP dari Pegubin Tampilkan Tari Kreasi Modern di FDS

0
0

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Delapan Siswa Sekolah Dasar (SD) dan empat siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari pegunungan bintang tampilkan tari kreasi moderen mewakili kab. Pegunungan Bintang di acara tahunan yang digelar Pemkab. Jayapura, Papua.

Kabid Kebudayaan dinas Pendidikan, kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Kab. Pegunungan Bintang, Yasinta Urpon kepada Suara Papua mengatakan, pihaknya membawa anak-anak usia sekolah yang dibina dinas terkait untuk tampil di FDS setelah dipersiapkan selama dua bulan lebih.

“Kami bawa anak-anak sekolah yang kami bina. Untuk masyarakat umum juga kami bentuk sanggar di beberapa distrik, juga di sekolah-sekolah kami bentuk baik di SD, SMP maupun SMA.

“Ini kebetulan kami ciptakan tari kreasi baru. Tari kreasi baru ini dari beberapa tari kreasi daerah yang kami ambil gerakan dasarnya lalu dikolaborasikan menjadi tarian moderen,” ungkap Urpon.

Selain menari, kata Urpon, pihaknya menyertakan vokal grup yang juga tampil bersamaan. Vokal grup yang ditampilkan adalah dari sanggar. Sedangkan tarian, ditampilkan oleh anak-anak sekolah.

“Lalu anak-anak yang kami sertakan ini dari SD dan SMP. Dan vokal grup dari sanggar. Setelah itu dua bulan lalu kami ciptakan tari kreasi ini. Kami bina dan peserta kami bawa turun dan tampilkan di sini. Peserta menari dari SD delapan orang dan SMP empat orang,” ungkapnya menjelaskan.

Kalau grup musik, kata dia, pesertanya campuran. Katanya, ada yang dari PNS, pemuda dan pelajar. Itu gabungan.

“Tarian ini belum diberi nama. Tapi istilah kerennya tari kreasi baru,” katanya.

Sementara itu, Kornelia Pekey, kepala dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga Kab. Pegunungan Bintang kepada Suara Papua mengatakan, tarian yang ditampilkan anak-anak sekolah dari pegunungan bintang tersebut belum diberi nama karena bel dilombakan.

“Rencananya pada Agustus mendatang akan dilakukan lomba tarian antar sekolah. Gerak dasar tariannya sudah. Tidak akan ditambah-tambah lagi,” ungkapnya tegas.

Malu Terhadap Budaya

Pekey kepada media ini menjelaskan fenomena yang terjadi di kalangan anak-anak muda Papua. Di mana, ia menilai anak-anak muda merasa malu dan takut menggunakan busana maupun aksesoris budayanya.

“Saya melihat tampilan anak-anak sangat luar biasa di FDS. Untuk Papua pada umumnya tarian daerah itu sama dengan kolot (kuno) untuk anak-anak muda. Busana daerah juga sama dengan kolot. Orang terutama anak-anak muda sekarang itu gengsi menari tarian daerah maupun pake aksesoris yang sedang kami pakai ini,” jelas Pekey.

Ia mengaku terharu, puas dan bangga dengan anak-anak yang dibina dinas pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga pegunungan bintang karena anak-anak sekolah tampil dengan busana adat.

“Untuk pegunungan bintang, untuk kali ini saya merasa terharu. Karena dengan berani anak-anak tampil dengan menggunakan busana dan aksesoris budayanya, menari dan tampil di depan umum,” ujarnya semangat.

Lebih lanjut ia menambahkan,
“Anda bayangkan saja. Anak dari kampung ke kota dan menari di depan ribuan pasangan mata. Bagi mereka, ini catatan penting dalam sejarah hidupnya. Itu yang penting. Siapa pun dia, yang menari dan tampil di depan umum itu menjadi catatan penting dalam hidupnya,” tambah Pekey.

 

Tanamkan Rasa Cinta Budaya

Kornelia mengatakan, melalui kegiatan-kegiatan di sanggar maupun kelompok binaan yang sudah ada, pihaknya bertujuan untuk menanamkan rasa cinta budaya kepada generasi muda Pegunungan Bintang.

“Kami ingin menanamkan cinta budaya. Cinta negeri lewat tarian daerah dan busana adat. Ini sangat penting sekali,” katanya.

Ia tambahkan, untuk anak-anak muda satu hak yang juga penting adalah memberikan dukungan, dorongan, semangat dan motivasi agar rasa memiliki dan rasa cinta budaya itu terbangun.

“Walaupun kami dua tidak menari, tetapi paling tidak dengan menggunakan pakaian adat tampil bersama mereka di atas panggung.
Kami berdiri saja di belakang itu kami berikan satu dukungan yang besar. Yang orang Jawa bilang Tut Wuri Handayani. Kami memberikan dorongan dan semangat kepada mereka,” tambahnya.

Pekey juga mengatakn, bukan tanpa alasan pihaknya tidak membawa serta peserta dari SMA. Namun bagi dia, menanamkan rasa cinta terhadap budaya itu harus dilakukan dari anak-anak usia dini.

“Kami tidak membawa penari dari anak-anak SMA karena walaupun mereka ada sanggar, kami mau yang dari kecil. Ibarat pohon, kalau sudah besar itu susah dibentuk karakternya. Tetapi kalau dari kecil, kita mudah bentuk dia jadi apa saja, mau bagaimana, itu semua masih bisa dilakukan,” terangnya.

Lanjut dia, “Lalu kenapa tarian syukur?
Sekarang orang lupa menanam. Mereka hanya mau terima apa yang sudah ada. Ini kami mengajarkan anak-anak bagaimana dia menanam, bekerja, merawat dan terakhirnya adalah dia selalu bersyukur. Kami bangga mengkafirkan anak-anak,” pungkasnya.

Selain itu, Hilarius Ngalum Tila Pekey, pastor paroki Sarmi yang turut menyaksikan penampilan dari anak-anak Pegunungan Bintang mengaku senang dan memberikan apresiasi.

“Saya tidak tahu persis. Tetapi saya bersyukur mereka bisa tampil di kesempatan ini. Memang mereka pernah tampil satu atau dua kali. Tetapi itu untuk kategori umum. Bukan untuk anak-anak seusia mereka. Kalau yang mereka tampil saat ini adalah rata-rata anak-anak usia dini, anak-anak sekolah dan baru diadakan tari kreasi moderen,” tambah Pater Pekey.

Kata dia, tarian yang ditampilkan tidak asli tradisional tetapi dipadukan dengan kreasi baru.

“Saya dengar sebelum ditampilkan disini mereka sudah tampilkan juga di atas (Pegubin) lalu mereka ke sini.
Saya pikir ini langkah awal untuk promosikan daerah Pegunungan Bintang dengan tari kreasi baru,” ujarnya.

Di samping itu, ia berharap agar pemerintah kabupaten pegunungan bintang adakan lomba antar distrik yang ada di Pegunungan Bintan. Sehingga nantinya yang akan keluar daerah untuk tampil mewakili Pegubin adalah mereka yang menang dan terbaik.

“Harapan saya ke depan, pemerintah bisa adakan lomba antar distrik. Sehingga yang bisa tampil diluar adalah mereka bawa nama pegunungan bintang. Bukan bawa nama Oksibil. Karena ada tujuh suku besar di atas. Saya apresiasi karena ini langkah awal. Dan anak-anak yang turun ini mendapat nilai positif karena mereka sudah bisa meraih dan tampil di depan banyak orang,” harapnya.

 

Pewarta: Arnold Belau