Masyarakat Keluhkan Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Goyage

0
862

KARUBAGA, SUARAPAPUA.com — Masyarakat keluhkan pelayanan di Puskesmas Goyage, Distrik Goyage, Tolikara, Papua. Pelayanan di Puskesmas tersebut dikeluhkan karena hampir dua tahun tidak melakukan pelayanan dengan baik karena tenaga kesehatan di wilayah tersebut sedikit dan pasien yang harus dilayani banyak. 

Salah satu pasien yang datang ke puskesmas tersebut saat dijumpai suarapapua.com mengungkapkan, pelayanan di puskemas ini sejak tahun 2010 hingga 2015 berjalan baik, namun sejak tahun 2016 pelayanan tidak berjalan maksimal.

“Sejak 2010 sampai 2015 pelayanan berjalan baik. Tetapi sejak 2016 pelayanan tidak maksimal. Sebabnya banyak, sekarang yang layani di puskesmas hanya empat orang. Obatnya juga tidak lengkap. Saya sakit malaria, tapi obat malaria tidak tersedia, jadi perawat hanya kasih obat umum saja,” ungkapnya pada Selasa (29/8/2017) di Goyage, Tolikara, Papua.

Ia menambahkan, dirinya cukup prihatin dengan kondisi pelayanan di puskesmas tersebut. Sebab saat ia datang ke Puskesmas hanya satu petugas yang melayani pasien.

Sementara itu, Yendiles Africha Towolom, honorer yang bertugas di Puskesmas Goyage, mengatakan, sejak berdirinya pada tahun 2002 sejak masih di Kabupaten Jayawijaya, tenaga medis ditempatkan di puskesmas Goyage tidak pernah bertugas.

“Setahu kami ada satu orang dokter dan perawat enam orang, tetapi sampi saat ini tidak pernah ada di tempat tugas. Mereka ada di mana, kami juga tidak tahu,” ungkapnya kepada suarapapua.com.

Yendiles menjelaskan, di bawah tahun 2015 pelayanannya sedikit baik, karena saat itu tenaga medis ada dan dibantu oleh Tenaga Kader Kesehatan tujuh orang. Lalu, setelah pemerintah tiadakan Kader Kesehatan, mereka (kader kesehatan) sudah tidak bekerja dan saat ini yang tersisa hanya satu orang.

“Di sini yang ada hanya Kepala Puskesmas Goyage, Thim Yigibalom dan dibantu dua tenaga honorer dan saya sendiri juga honorer. Tetapi dua tenaga honorer itu tidak masuk kerja beberapa waktu terakhir,” kata Towolom yang juga honorer di puskesmas Goyage.

Soal fasilitas, ia mengatakan, saat ini fasilitas penunjang kurang memadai. Gedung puskesmas dibangun waktu masih dengan kabupaten induk (Jayawijaya), sekarang sudah mulai rusak, lalu ada dua rumah medis, dan peralatan di ruang puskesmas juga kurang.

Yendiles menambahkan, Puskesmas Goyage ini Puskesmas induk dari Kabupaten Jayawijaya. Namun tenaga medis maupun fasilitas juga kurang memadai. Kata dia, puskesmas tersebut membawahi dua Pustu yaitu Pustu Air Garam dan Pustu Geya.

“Tetapi Pustu Air Garam tidak bisa beroperasi sampai saat ini karena pimpinan pustu tidak pernah ada di lapangan sampai saat ini karena letaknya di tempat yang sangat sulit. Jadi biasanya kepala puskesmas, saya dan dua teman honorer sulit untuk melakukan pelayanan keliling,” ungkapnya.

Ia berharap agar Pemkab Tolikara melihat hal ini dan bisa aktifkan kembali Kader Kesehatan yang ditiadakan tahun 2015. Sebab, menurutnya, para kader kesehatan itu lebih rajin bekerja di Puskesmas pedalaman.

“Persoalan ini bukan hanya Puskesmas Goyage saja, tetapi 25 Puskemas di Kabupaten Tolikara, kami melihat kesehatan lebih penting sekali daripada bidang lain,” kata Yendiles.

Pihaknya berharap supaya Pemkab Tolikara dan Gubernur, dalam hal ini Kepala Dinas Kesehatan Papua agar segera mengambil langkah positif untuk merekrut tenaga medis yang benar-benar melayani rakyat di kampung-kampung, tidak seperti setelah diangkat pegawai tidak mau berkerja dan lebih memilih tinggal di kota.

“Kami sangat salut dengan program bapak seperti program satgas Kaki Telanjang (Kijang). Kalau bisa merekrut tenaga perawat untuk ditempatkan di seluruh pelosok Papua, lebih khusus Tolikara dan kuota untuk Tolikara lebih banyak,” harapnya.

 

Pewarta: Nay Yigibalom

Editor: Arnold Belau