Naftali Fele: Sagu adalah Ibu dari Segala Makanan untuk Orang Sentani

0
2772

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Naftali Fele, penggagas Festival Makan Papeda di Sempe  mengatakan Sagu adalah ibu dari segala jenis makanan untuk orang Papua dan khususnya untuk orang Sentani di kabupaten Jayapura.

Hal ini diungkapkan Fele pada Festival Makan Papeda di Sempe kedua yang digelar pada Minggu (30/9/2018) di kampung Abaar, Kabupaten  Jayapura, Papua.

Fele mengatakan, karena Sagu merupakan makanan lokal yang tidak bisa lepas dari budaya orang sentani, juga karena sagu merupakan ibu dari segala makanan yang ada di Papua, khususnya di Sentani, maka ia penggagas Festival Makan Papeda di Sempe ke-2. Melalui festival yang digelar setiap tahun itu, ia bersama warga yang ada di kampung Abaar ingin menunjukkan cara membuat papeda di Sempe.

Dikatakan, ia melihat semakin banyak orang yang mulai melupakan budaya makan papeda di Sempe yang sudah ada secara turun temurun dengan beralih  ke loyang.

“Makan papeda yang benar adalah makan di Sempe. Kami merasa ini perlu dilestarikan supaya budaya makan papeda di Sempe tetap dilestarikan dan dijaga sebagai kearifan lokal,” katanya.

Dikatakan, kampung Abaar merupakan satu-satunya kampung destinasi wisata dari lima kampung adat yang ada di kabupaten Jayapura. Ia mengungkapkan bahwa bahan baku untuk membuat Sempe hanya ada di kampung Abaar. Hal ini menjadi perhatian warga kampung untuk terus melestarikannya.

Saat ini, kata dia, semua kampung, wilayah, daerah dan komunitas Adat harus mulai berfikir untuk angkat kearifan lokal dan dijadikan sebagai aset pariwisata. Fele mengatakan, untuk kabupaten Jayapura dari 24 kampung yang ada di danau Sentani hanya di kampung Abaar yang membuat Sempe.

Perkembangan pengetahuan dan teknologi membuat benda-benda asing mulai intervensi cara membuat papeda. Karena cara suguhkan papeda yang benar dilakukan di dalam Sempe. Tetapi sekarang ini banyak yang sudah tidak menggunakan Sempe tetapi gunakan loyang.

“Melalui festival ini kami ingin tunjukkan bahwa tempat makan papeda yang tepat adalah di sempe dan gunakan heloi. Dalam satu acara papeda harusnya disuguhkan dalam Sempe bukan di loyang atau bokor,” terangnya.

Ia menambahkan, Sempe dan Heloi memiliki nilai historis yang tinggi.

“Para pemimpin besar seperti Bernabas Suebu, John Ibo, Mathias Awoitauw dan bebepa pemimpin besar makan papeda di Sempe bukan di bokor. Sempe punya nilai historis yang tinggi,” katanya.

Fele berharap agar festival makan papeda di Sempe menjadi acara tahunan kabupaten Jayapura selain festival danau Sentani, Festival Tanah Merah dan Festival Sagu Kwadeware. Karena festival ini kecil tetapi nilainya besar,” harap Fele.

Asisten tiga kabupaten Jayapura yang membidangi administrasi saat hadir membuka festival tersebut mewakili bupati Jayapura mengatakan, apa yang dilakukan oleh masyarakat di kampung Abaar sejalan dengan visi dan misi bupati. Yakni kebangkitan adat.

“Festival ini beda dengan kabupaten lain di Indonesia. Pemerintah berikan apresiasi yang tinggi untuk mengangkat kearifan lokal. Festival ini bukti bahwa ada kearifan lokal yang tumbuh dan berkembang di sini. Yaitu bikin Sempe. Hari ini masyarakat kampung Abaar hidupkan kembali keunikan yang ada di kampung ini,” katanya.

Sementara itu, Marshel Suebu, koordinator Sagu Papua yang ditemui di sela-sela festival menambahkan, ia mengapresiasi upaya yang dilakukan masyarakat di kampung Abaar. Karena kampung memiliki keunikan yaitu Sempe.

“Kegiatan ini sebenarnya mendukung upaya dari teman-teman pegiat sagu papua yang sudah membumingkan sagu,” katanya.

Suebu berharap,  pemerintah provinsi papua dan indonesia mempersiapkan ivent besar dalam rangka mempertahankan pangan sagu.

“Karena sagu memiliki manfaat yang luar biasa. Luasan sagu terbanyak di Indonesia ada di papua.  Terbanyak jenis juga ada di papua. Yang punya hubungan religi dan kultur juga adalah orang papua,” katanya.

Pewarta: Arnold Belau