Refleksi 1 Desember 2018: Wakil Negara di Tanah Papua Tidak Perhatikan Nasib Kami

1
1986

Oleh: Septinus George Saa)*

Sebagai generasi muda penerus tanah ini (Papua dan Papua Barat), saya menginginkan kepastian hidup baik (sejahtera) dimana ketika saya berhasil menyelesaikan pendidikan (pelatihan) dengan baik, maka saya dapat ikut mengaplikasikan keilmuan saya. Dalam ini, saya sangat mengharapkan kepastian-kepastian yang disediakan negara lewat perpanjangan tangannya yakni pemerintah di tanah ini (Papua dan Papua Barat).

Mengutip Justin Trudeau, “I am a teacher. It’s how I define myself. A good teacher isn’t someone who gives the answers out to their kids but is understanding of needs and challenges and gives tools to help other people succeed. That’s the way I see myself, so whatever it is that I will do eventually after politics, it’ll have to do a lot with teaching”

Saya sangat berharap peran wakil negara di tanah ini untuk menjadi guru bagi kami generasi penerus tanah ini. Ya, pemerintah bisa hadir menjadi figur yang dapat mengerti akan kebutuhan dan tantangan serta dapat memberikan alat (tools) untuk menolong saya dan kami yang muda-muda ini untuk dapat sukses.

Ini membuat saya harus dengan merendahkan diri hadir untuk meminta tolong kepada pemerintah di tanah ini untuk tidak hanya memikirkan kepentingan politik-ekonomi kelompok dan golongan dan berdiri menjadi sosok ‘guru’ untuk menaungi kami. Pemerintah di tanah ini menurut hemat saya tidak menjalankan tugasnya atau pun mampu  posisikan dirinya sebagai sosok yang mampu menghadirkan kesempatan(opportunity) serta kepastian hidup dan berkarya kepada kami generasi milenial ini.

Saya akui memang, benar bagi kami generasi muda ini harus bekerja keras untuk mengingatkan wakil negara di tanah ini (Pemerintah Papua/Papua Barat). Mengikuti beberapa penyampaian wakil negara tanah ini tentang keberhasilan Otonomi Khusus maupun keberhasilan program pembangunan tiap tahunnya, saya agak miris. Saya bertanya mengapa penyerapan anggaran negara di tanah kami ini selalu saja kurang dari yang diharapkan.

Uang sudah dikasih negara, wakil negara di tanah ini sudah programkan kegiatan pembangunan di tanah ini namun realitanya yang terjadi itu penyerapan anggaran ini hampir selalu tidak memenuhi target. Apakah kami yang muda ini harus kembali mempertanyakan kemampuan pemimpin tanah ini dalam membawa perahu (orang Papua) menjadi negeri emas? Apakah kami yang muda ini harus marah dan bertindak menuntut hak kami dengan cara ‘tidak sopan’ sehingga dapat didengar? Apakah kami generasi emas ‘padat prestasi’ tanah ini harus menjadi pengemis diatas kelimpahan yang ada? Memang sangat-sangat menyebalkan kalau harus dipikir apalagi mencoba memikirkan jawaban atas pertanyaan ini.

Satu kesimpulan saya: pemimpin tanah ini yang adalah wakil negara ini tidak mampu memastikan kebebasan untuk hidup dan berkarya di tanah perjanjian, negeri emas, tanah yang kami cintai ini.

Sangat menyedihkan apabila kita membaca dengan seksama lirik dari lagu “Hai Tanahku Papua” yang ditulis oleh Pdt. I.S. Kijne. Saya ingin katakan kalau kami ini sedang sakit. Ya, kami ini sedang hidup dalam ketidakpastian! Apakah kami harus memberontak kepada negara langsung ketika manusia tanah ini, yang memimpin negeri ini, sama sekali tuli dan buta atas pentingnya menyediakan kesempatan dan kepastian hidup serta memperhatikan kami?

Saya mau ingatkan kepada bapak/ibu pemimpin negeri (tanah ini) yang hebat-hebat dan sudah mantap/mapan dengan mengutip Victor Pinchuk, “Art, freedom and creativity will change society faster than politics.”

Silahkan Bapak/Ibu jalankan kepentingan-kepentingan pribadi dan golong di tanah ini tapi jangan korban kami anak negeri penerus tanah perjanjian ini! Ya, kami ini sudah – kaum yang nanti akan meneruskan pembangunan di negeri ini serta akan menghabiskan waktu membereskan masalah-masalah yang kalian(pemimpin tanah ini) tidak selesaikan di masa kalian.

Sebagai anak Papua, kaum masa kini, yang sudah pernah hidup dan melihat kemajuan di berbagai dunia, sebagai anak muda masa kini yang pernah menorehkan prestasi, yang membuka mata negara ini kalau orang Papua itu cerdas, mampu dan pintar, yang merubah paradigma pandangan suku bangsa lain di negara ini kalau orang Papua itu MAMPU, saya mau bilang kalau saya sangat amat kecewa! Ya, kecewa karena kehadiran saya (kami) ini tidak ada apa-apanya. Saya ingatkan bapak/ibu pemimpin negeri ini – kalian harus stop bangun fasilitas fisik dan harus bangun manusia tanah ini, bangun kami ini, berikan kesempatan bagi kami ini, berikan tempat yang layak buat kami ini, hargai kami yang sedikitnya menolong dan menyelamatkan muka kalian ketika kalian berdiri dan berbicara atas nama kami di negara ini. Tolong berikan kesempatan dan tempat dan waktu bagi kami untuk ingatkan kalian kalau kami ini juga penting, kami ini juga prioritas, kami ini aset tanah ini, kami ini penerus kalian yang akan dapat makin memperburuk masa depan negeri/tanah ini atau membawanya menuju gerbang emas.

Saya menjadi kuatir sekali ketika kami yang saat ini di mata, hati, telinga dan jiwa orang Papua adalah generasi emas calon pemimpin negeri ini, dengan prestasi spesial yang nyata, tidak di berikan waktu serta kesempatan untuk berbicara. Saya bertanya, kalau saya saja dengan prestasi spesial dari tanah ini saja tidak perhatikan oleh bapak/ibu wakil negara di negeri ini, bagaimana dengan nasib adik-adik saya yang “baru naik” dan sedang giatnya membangun diri dan ingin berprestasi walau itupun berat dengan kondisi saat ini?

Saya sangat ragu kedepan ini ketika kami yang tidak dihargai saat ini ke depannya akan ikut mengapresiasi bapak/ibu di masa senja kalian kelak. Belum terlambat. Ya, belum terlambat. Bapak/ibu pemimpin wakil negara di tanah ini, tolong kasih kami kesempatan. Kalau kalian memang tidak mampu memimpin sebagai pemerintah, wakil pemerintah, wakil negara yang ditugaskan untuk sejahterakan kami, mari katakan sudah biar kami lihat alternatif lainnya.

Memang benar ketika Kin Hubbard berkata, “We would all like to vote for the best man but he is never a candidate.” Kalau memang Bapak/Ibu hari ini bukanlah ‘the best man’ untuk membawa kami pemilik tanah perjanjian ini menuju gerbang emas, kami siap hari ini untuk mematahkan perkataan Kin Hubbard ini. Kami bersedia dan siap untuk menjadi ‘the best man/woman” tanpa harus mencontohi kalian.

Pemimpin negeri ini, Gubernur/Wakil Gubenur, Bupati/Wakil Bupati, pemimpin SKP/OPD di tanah ini, tolonglah kami untuk menjadi contoh dan figur yang baik/jujur menjalankan misi negara ini memastikan kehidupan yang baik buat kami karena kalau tidak, 1 Desember tiap tahun ini akan menjadi simbol perlawanan kami. Kami bukan melawan negara ini apalagi memberontak melawan bapak/ibu pimpinan daerah ini, kami hanya minta agar kalian pikirkan nasib kami.

Musim saja berganti, manusia saja lahir, hidup dan akan mati, apalagi bapak/ibu sekalian yang sudah lebih dulu melihat matahari ini – masa akan terus berganti, Tuhan kasih kalian kesempatan untuk membuktikan diri kalian layak masuk surga namun kalau masih mau main-main, waktu pasti akan menghukum kalian. Salam perjuangan di hari ini!

)* Penulis adalah Mahasiswa Pasca Sarjana University of Birmingham, Pemenang The First Step to Noble Prize in Physics 2004, Penulis Essay Pendidikan, Sosial, Politik dan Ekonomi