BeritaSuara MahasiswaCOPA UNDIP, Sa Pu Keluarga Baru di Semarang

COPA UNDIP, Sa Pu Keluarga Baru di Semarang

Oleh: Dom Yunior Sarwa

Hidup memang sebuah misteri, semua yang kita lalui adalah kehendak yang kuasa. Trada yang tau apa yang akan terjadi dikitong pu hidup. Waktu pertama kali sa dan sa pu sodara Niko ikut program UP4B ( Unit Percepatan Pembangunan Provinsi Papua Dan Papua Barat ), tong dua dapat terima di kampus UNDIP Semarang. Hal yang pertama sa pikir itu, sa bisa ka tra e…? Tinggal disana dalam waktu lama deng orang yang sama sekali sa belum kenal, yang sa tau hanya sa pu bapade pu anak perempuan de pu nama Ena, karena sa ingin kuliah sa tra pikirkan lagi soal itu.

Hari minggu pagi tanggal 2 september 2012 sa deng teman-teman dari Kota Manokwari terbang menuju kota studi masing-masing. Kitong semua tersebar di seluruh PTN yang ada di Indonesia kecuali UNCEN dan UNIPA. Karena sa tra tau letak pastinya kampus UNDIP di Semarang daerah mana, akhirnya sa tanya ke bapak yang duduk baku sebelah deng sa. Bapak dia kasih tau kalau kampus UNDIP itu ada 2. Ada yang di Pleburan ada juga yang di Tembalang. Tapi pace bilang kalau yang S-1 itu biasanya di Tembalang! Pace juga kasih tau nama hotel yang dekat kampus de pu nama hotel E-Plaza.

Begitu sampai di bandara Ahmad Yani Semarang, sa deng Niko langsung naik taxi menuju hotel yang tadi pace su kasih tau ke sa. Besok paginya tong dua Niko dapat antar dari Ena pu pacar de pu nama kaka Juven untuk verifikasi sama melengkapi persyaratan adminitrasi di rektorat kampus, setelah semua beres kk Juven bawa tong dua pulang ke Asman (Asrama Manokwari).

Baca Juga:  Posko Ditutup, KPMY Siap Kirim Bantuan Kemanusiaan ke Yahukimo

Hari demi hari berganti minggu, minggu demi minggu berganti bulan, bulan demi bulan berganti menjadi tahun yang baru tahun 2013 semester 1 sudah terlewati. Selama itu sa masih dalam masa penyesuaian diri dengan tempat dan orang – orang baru yang ada disekitar sa.

Orang – orang Papua yang di UNDIP juga belum banyak yang sa kenal dan dekat dengan dorang, sa hanya kenal beberapa saja itu pun tra terlalu dekat hanya niko deng ena yang sa kenal dekat. Sehari-hari sa hanya jalan main deng teman-teman kampus sesekali kadang main deng teman-teman Papua itu pun Ena yang kasih kenalan ke sa deng Niko. Tra terasa su masuk ujian akhir semester 2, ade – ade baru angkatan 2013 ( Warai dan kawan – kawan ) su datang di Semarang untuk kuliah di UNDIP juga. Beberapa hari disela – sela waktu ujian sa temani dorang untuk daftar ulang di rektorat dan urus dorang masuk di RUSUNAWA UNDIP.

Sekali lagi hidup ini suatu misteri! Tepat hari senin 8 juli 2013 orang yang sa sangat sayangi, sa Papa Pergi untuk selamanya kasih tinggal sa. Saat itu sa masih ujian sa tra bisa pulang ke kampung untuk lihat sa Papa untuk terakhir kalinya, sa bertanya kepada Tuhan, ” Tuhan… kenapa Engkau ambil sa pu Papa ???”, sa belum siap!!! Su trada yang telfon tanya sa kabar, su trada yang tanya su makan atau belum, su trada yang tanya uang jajan masih ada ka belum.

Baca Juga:  Peduli Korban Erupsi Gunung Ruang, Mahasiswa Papua Serahkan Bantuan Sembako

Setelah ujian selesai sa langsung pulang ke kampung untuk lihat Papa pu makam, kebetulan waktu itu libur panjang. Sepanjang liburan di kampung sa hanya habiskan waktu setiap sore duduk dipinggir pantai lihat kearah laut. Sa masih tra percaya sa Papa pergi pulang sa, sa pikir sa Papa hanya pergi untuk tipu sa supaya sa bisa hidup mandiri, tra jadi anak yang manja. Tapi sampai liburan selesai sa pulang ke Semarang lagi sa Papa masih trada kabar untuk sa.

Mulai saat itu sa merasa sendiri didunia ini, bingung apa yang harus sa lakukan supaya sa bisa bertahan untuk kuliah sampai selesai. Setiap hari sa masih terus berfikir sa bisa ka tra e hidup tanpa sa Papa yang selalu memenuhi sa pu kebutuhan hidup?. Tuhan memang adil, perlahan tapi pasti sa mulai bangkit dari keterpurukan itu.

Suatu hari sa ikut acara makrab yang dibuat oleh kaka-kaka Papua yang kuliah di UNDIP untuk menyambut kedatangan ade-ade angkatan 2013. Dari situ sa baru sadar kalau di UNDIP ternyata ada perkumpulan mahasiswa asal Papua, perkumpulan itu de pu nama Komunitas Papua UNDIP. Selama sa ikut kegiatan itu sa banyak lakukan interaksi dengan kakak-kakak, teman-teman, dan ade-ade asal Papua yang bikin sa lupa apa yang sa selalu pikirkan, apa yang selalu takutkan hilang tiba – tiba. Ternyata banyak dari dorang yang peduli dengan sa pu hidup, sa merasa sa punya keluarga baru di kota Semarang ini.

Baca Juga:  38 Siswa Asal Nduga di Jateng Gelar Kegiatan Evaluasi Nilai Semester dan Praktek Public Speaking

Rasa kebersamaan dan kekeluargaan itu tra habis waktu makrab selesai, tapi tetap terus berlanjut setiap hari selama sa di Semarang. Waktu sa susah, sa lapar, sa trada uang, dong selalu bantu sa !!! hibur sa kalau sa sedih, dong juga selalu bisa buat sa tertawa. Dari COPA juga sa banyak belajar mengenal karakter teman-teman Papua satu dengan yang lainnya, belajar mengendalikan kemampuan emosional, belajar menjadi orang yang peduli dengan orang lain, dan masih banyak hal lagi. Meskipun dorang banyak bantu sa, dong tra pernah tuntut balik apa yang dong su pernah kasih untuk sa. Sa mohon maaf karena belum bisa kasih yang terbaik untuk COPA UNDIP.

Harapan sa kedepannya mari kitong sama – sama membangun COPA UNDIP untuk bisa menjadi lebih besar lagi supaya bisa membuat tong semua menjadi “feel like at home” selama menuntut ilmu di kota Semarang ini lebih khusus di kitong pu kampus tercinta Universitas Negeri Diponegoro. Dan kitong pu rasa kekeluargaan harus selalu tetap terjaga meskipun nantinya kitong akan pulang ke kampung halaman masing – masing. Amin…

Terima Kasih COPA UNDIP.

Penulis adalah mahasisaw Papua yang sedang mengenyam pendidikan di Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Terkini

Populer Minggu Ini:

PAHAM Papua Desak Komnas HAM RI Bentuk Tim Investigasi Penembakan Tiga...

0
“Dengan adanya situasi penembakan yang terjadi lagi, seolah-olah masyarakat sipil di Puncak adalah binatang buruan yang situasinya memprihatinkan. Peristiwa seperti ini terjadi berulang-ulang tanpa penyelesaian. kita baru saja dikejutkan oleh video viral kekerasan TNI dari Yonif 300/Braja Wijaya Kodam Siliwangi terhadap 3 masyarakat sipil, yang mana salah satunya disiksa di dalam drum, yang terjadi awal tahun ini,” ujar Kawer dalam pernyataannya kepada Suara Papua, Rabu (17/7/2024).

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.