RSUD Dekai Tangani Banyak Pasien Malaria

387

YAHUKIMO, SUARAPAPUA.com — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Yahukimo melayani banyak pasien dengan keluhan penyakit malaria dalam beberapa bulan belakangan. 

dr Rahel, direktur RSUD Yahukimo, mengatakan, hampir sebagian besar pasien datang berobat mengeluh karena sakit malaria.

“Semua pasien yang masuk di sini hampir kebanyakan kena sakit malaria, dan sampai sekarang jumlah yang masuk setiap hari 30 pasien, itu dari anak kecil sampai dewasa,” ungkap dr. Rahel kepada suarapapua.com di Yahukimo, Senin (8/5/2017) lalu.

Terkait pelayanan, ia menjelaskan, setelah ia dilantik dan diberikan kepercayaan untuk pimpin rumah sakit, saat ini pihaknya fokus untuk bekerja dan memberikan pelayanan terbaik untuk pasien.

Soal program baru, ia mengaku, masih belum berfikir ke sana, walaupun ada, kata dia akan dijalankan pada 2018 mendatang.

Untuk stok obat di rumah sakit, kata dia, sampai saat ini masih tersedia.

“Saat ini obat cukup dan tersedia. Belanja obat sekarang pakai sistem e-katalog dan itu agak murah, karena kita disarankan beli melalui itu. Jadi, nanti kita sudah tau baru akan beli, sampai sekarang belum, kita masih pakai stoknya yang lama,” jelasnya.

Lanjut dokter Rahel, “Harapan kami di sini, kita ada dapat gedung baru untuk tahun ini, namun di dalamnya harus ada fasilitas baru. Untuk fasilitasnya kami akan sampaikan ke Pemkab Yahukimo.”

Sementara itu, Merina Yelemaken, salah satu pasien yang baru sembuh, mengatakan, dirinya opname di rumah sakit karena sakit malaria tropika +1 dan tersiana +3, juga sesak nafas.

“Saya sudah berobat di sini dan saya sudah sembuh. Sekarang saya pulang ke rumah. Waktu itu tiba-tiba saya sesak napas dan saya punya suami antar ke sini, hasil periksa darah saya kena malaria, dan di rumah sakit ini empat hari, jadi petugas suruh pulang,” katanya.

Mery menilai sangat baik pelayanan dan fasilitas di RSUD Yahukimo. “Pelayanan dan fasilitas di sini bagus sekali. Tidak seperti yang saya biasa dengar dari orang,” ujarnya.

 

Pewarta: Ardi Bayage

Editor: Arnold Belau