Persipura dan Harga Diri OAP

0
2166

Oleh: Mekcy  Mulait)*

Persipura tim kebanggaan masyarakat Papua disebut sebut mengangkat harga diri orang Papua. Melalui prestasi yang diukir, Persipura dapat berbicara banyak di kanca nasional maupun di level Asia. Hal itu dapat diakui dari 4 bintang yang disandang  di dadanya sebagai jenderal lapangan hijau.

Jika turnamen Torabika Soccer Championship (TSC) 2016 gelarnya dihitung, maka Persipura sesungguhnya berhak menyandang 5 gelar. Tetapi sayangnya turnamen itu tidak hitung sebagai kompetesi resmi nasional meskipun animo pertarungan selagak kompetesi resmi liga Indonesia. Prestasi Persipura secara nasional dilengkapi dengan prestasi di level Asia dimana Persipura menjadi satu satunya tim asal Indonesia yang mampu menembus  semifinal pada kompetesi AFC Cup 2013/2014.

Perjalanan Persipura sampai meraih 4 bintang itu menjadi istimewa dan patut dibanggakan karena prestasi itu diukir disaat persoalan konflik Papua semakin menghangat tahun 2000-an. Persipura juara yang pertama kali pada tahun 2005 ketika kompetesi dalam negeri disebut Liga Utama. Selain itu, Persipura juga menjadi tim pertama juara Indonesia Super Liga (ISL) pada kompetesi 2009 kemudian meneruskan gelarnya  pada 2011 dan 2013.

Pada satu sisi prestasi Persipura boleh dikatakan spetakuler dan karenanya patut dibanggakan oleh orang Papua. Tetapi di sisi yang lain realitas kemiskinan dan ketertindasan di berbagai lini kehidupan di Papua menjadi skandal prestasi Persipura yang tak terbantahkan.

Apakah dengan menyebut  Persipura dapat mengangkat harkat dan martabat orang Papua melalui prestasi dengan sendirinya orang Papua dapat tersenyum-bangga di tengah problem hidup demikian? Tentu kita akan mendapat beragam jawaban sesuai disposisi batin orang Papua karena di saat yang sama realitas menunjukkan Papua merupakan provinsi yang terbelakang dan termiskin di republik ini meskipun dari SDAnya merupakan yang terkaya sampai pada level dunia.

Persipura  Hiburan  bagi  Orang Asli Papua (OAP)

Bukan barang rahasia lagi sepak bola menjadi olah raga paling populer dan diminati banyak orang di dunia. Kita saksikan animo penonton antara sepak bola dengan olah raga lain yang begitu jauh perbedaannya. Puluhan bahkan ratusan ribu pasang mata hadir ketika pertandingan sepak bola dilangsungkan apalagi saat piala dunia atau liga champions Eropa, bahkan liga-liga bergensi (liga Inggris, Italy maupun Spanyol).

Ketiga negara ini menjadi representasi liga bergensi sepak bola di planet ini. Hanya untuk menyaksikan sebuah pertandingan bergensi, manusia nekat menunda sebuah aktivitas ataupun pertemuan penting. Ini menandakan bahwa sepak bola jauh lebih menarik daripada  aktivitas lainnya.

Di negara kita, Persipura bukanlah tim baru dalam kanca nasional. Tahun 70-an Persipura menunjukkan jati dirinya sebagai satu tim terkuat dari Indonesia timur. Banyak pemain bintang dihasilkan seperti  Timo Kapisa, Johanis Auri, Rony Wabia, Rulli Nerre,  dll. Baru tahun 2005 Persipura berhasil membuka krang juara resmi Liga Indonesia di bawah komando paitua Eduar Ivakdalam dan benteng tembok nyong ambon Mauly Lasy dengan menyumbat tim asal ibu kota Persija Jakarta (3-2) pada partai puncak (final) di stadion gelora Bungkarno, Jakarta.

Sejak itu Persipura muncul sebagai satu kekuatan sepak dari timur Indonesia yang disegani. Munculnya sejumlah pemain bertalenta seperti Boaz Solosa, Ian Louis Kabes, Ricardo Salampesy, Manu Wanggai dibawah naungan pemain senior seperti Eduar Ivadaklam dan Jack Komboy (sudah gantung sepatu) membuat Persipura semakin kokoh dan menari nari bagai Cenderawasih di lapangan hijau. Kini mereka menjadi tulang punggung berjayanya Persipura sampai mempersembahkan 4 gelar (2005, 2009,2011,2013).

Semenjak dilatih oleh pelatih asal Brasil Jackson F. Tiago (2008-2014) Persipura mengkombinasi permainan indah ala samba  Brasil  dengan ciri khas Papua cepat dan keras. Hasilnya Persipura mulai mendapat julukan tim samba ala Papua.  Pelatih baru (2017) Wanderley Machado da Silva Junior merasa puas dengan permainan indah, cepat dan akurat bahkan efektif yang ditampilkan Persipura saat menang (0-2) melawan tuan rumah Arema Malang (16/7). Wenderley bahkan memuji permainan timnya terutama pergerakan para pemain Persipura tanpa bola seakan tarian samba di pinggir lapangan dengan Yosim Pancar ala Papua.

Kepuasan pelatih kepala Wanderley atas permainan Persipura yang baru memimpinya 5 laga semenjak dipecatnya pelatih lama, Liaestadi sebenarnya bukan hal baru. Sebelum dirinya bergabung bersama Persipura, pengakuan atas kehebatan teknik maupun seni bermain sebenarnya sudah jauh sebelum itu. Rahmad  Darmawan, mantan pelatih Persipura (2005) dan timnas Indonesia memuji permainan Individu seorang Boas Solosa dengan julukan seniman bola.

Pengakuan yang sama datang dari pelatih tim santos junior U 21, Brasil pada laga persahabatan (3/10/2013) bahwa beberapa pemain Persipura (Boas dan Feri  Pahabol) levelnya sudah layak bermain di liga liga bergensi  di Eropa.

Permainan apik yang dipertontonkan para pemain Persipura seakan menghipnoptis orang Papua untuk segera lupa dengan segala realitas yang terjadi. Keadaan sedih dan kecewa ketika salah satu anggota keluarganya ditembak mati oleh pihak militer TNI/POLRI seakan dihibur oleh permainan indah Persipura dengan hasil kemenagan yang memuaskan. Hal itu dibuktikan dengan dukungannya terhadap persipura baik saat bermain dikandang maupun tandang.

Ketika Persipura bertanding, semua orang sudah tidak terlihat perbedaan kelas. Semua orang Papua baik kecil besar, punya duit  tebal maupun tipis berbondong bondong ke Mandala untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding.  Seakan orang Papua tidak peduli lagi berapa banyak uang, tenaga bahkan waktu yang dihabiskan demi menyaksiakan tim kesayangannya bertarung. Meskipun kemudian terlihat jelas perbedaan kelasnya ketika duduk di kursi yang disediakan sesuai kelas (berdiri, utara, selatan, Liperpool, VIP).

Sponsor dan Pertaruhan Harga Diri OAP

Keberhasilan Persipura sampai menjadi yang terbaik keempat kali tidak terlepas dari berbagai dukungan. Salah satu dukungan yang sangat berarti adalah pendanaan (sponsor). Tanpa dana sebuah tim profesional tidak mungkin terlibat dalam kompetesi. Itulah sebabnya tim tim di Eropa membangun klubnya secara mandiri dan profesional. Indonesia baru membuat komitmen dan keputusan untuk melangkah ke mandiri dan profesional pada tahun 2011.

Semua tim yang sebelumnya masih mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD) diwajibkan mandiri. Bahkan sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2011, klub profesional dilarang untuk menggunakan dana APBD. Persipura secara badan hukum sudah dibentuk menjadi  PT Persipura, namun secara devakto Persipura masih membutuhkan dukungan dana dari berbagai pihak (sponsor).

Artinya dari aspek pendanaan Persipura belum pada tingkat profesional. Masih membutuhkan dukungan dari sponsor. Selama ini dukungan terbesar diberikan oleh PT Freeport  Indonesia minimal 10 miliar per musim. Baru tahun 2017 Persipura mengalami kendala sponsor karena PT Freeport Indonesia mengalami masalah dengan izin opresional yang dibatasi oleh pemerintah pusat.

Bank Papua yang selama ini menjadi sponsor terbesar kedua tidak sanggup menanggung semua beban. Bank Papua pada kompetesi 2017 ini hanya bisa memberikan 15 miliar. Maka itu berarti Persipura masih membutuhkan minimal 10 miliar untuk berpartispasi dalam kompetesi resmi,  Go Jek traveloka, 2017.

Sambil menghormati dukungan dana yang diberikan oleh berbagai pihak, satu hal yang patut kita kritisi adalah motif dukungan yang diberikan oleh sponsor utama selama ini. Dalam hukum sponsor memang selalu ada pertimbangan untung rugi dari pihak perusahaan yang memberikan dukungan dana. Ia akan hitung berapa yang diberikan dan berapa besar yang akan didapat melalui pesan sponsor utamanya. Namun sedikit kekecualian dukungan dana yang diterima oleh Persipura sesuai dengan kondisi (kekuatan) real daerah. Bagi penulis ada dua sponsor utama Persipura yang menjadi dilematis.

Pertama, dukungan dari PT Freeport Indonesia. Kita semua tahu persoalan orang Papua sejak tahun 60-an sampai saat ini yang menjadi korban kekerasan militer karena akar persoalannya adalah terkait keberadaan tambang emas terbesar kedua di dunia itu. Hanya untuk mengamankan kekayaan alam di Papua terutama Freeport,  Amerika, Belanda dan Indonesia membuat kesepakatan New York Agreement 23 Maret 15 Agustus 1962 (keputusan nasip orang Papua) tanpa melibatkan orang Papua sebagai pemilik hak sulung.

Terlaksananya pepera 1969 yang diklaim oleh pihak pemerintah sebagai suatu tindakan pilihan bebas yang final, namun catatan sejarah menyisihkan sebagai tindakan pemilihan yang bermasalah, cacat hukum oleh orang Papua karena penyelenggaraannya tidak sesuai dengan cara hukum Internasional one man one vite. Lalu apakah Freeport yang memberikan dukungan kepada  Persipura yang selama ini mengangkat harkat dan martabat orang Papua melalui prestasinya bebas nilai?

Tentu tidak karena sebagaimana dukungan perusahaan tertentu menghitung untung rugi, demikian juga Freeport sebagai perusahaan tentu memikirkan imbalan apa yang akan diperoleh. Menjaga keamanan operasional  perusahaannya dari masyarakat Papua menjadi imbalan yang realistis karena penjualan nilai sponsor  tidak sebanding  dengan dana yang gelorkan untuk pembiayaan tim Persipura.

Dukungan dana yang tampaknya cuma cuma itu harus dibayar mahal dengan darah orang Papua. Sejumlah kasus kekerasan militer TNI/POLRI, Brimob seperti kasus Paniai berdarah (2014), pembunuhan anak SMA di Timika (2015) oleh anggota Polisi, dan terbaru kasus Deyai berdarah (2/8), 1 tewas dan 7 orang lainnya luka luka oleh satuan brimob meskipun berbeda konteks persoalan, tempat dan waktu kejadian, namun semua mengarah pada satu akar masalah yaitu pengamanan perusahan yang beroperasi di Papua termasuk PT Freeport  dengan kekuatan militer. Itu kasus kasus yang baru terjadi tahuan 2000-an belum terhitung sejak tahun 1960-an sampai saat ini. Berapa ribu nyawa orang Papua dipertarukan cuma cuma demi pengamanan Freeport dan pencurian sumber kekayaan alam lainnya seperti minyak di Sorong.

Masyarakat Papua yang menyadari akar persoalan kekerasan dan pembunuhan di Papua Barat karena keberadaan dan operasionalnya PT Freeport Indonesia selalu berusaha dengan berbagai cara baik tulisan, contohnya: Buku Markus Haluk “Menggugat Freeport” dan Bukunya Pdt. Sofian Yoman “Jatuhnya Rumpun Melanesia di Papua Barat” maupun demonstrasi (2006), dan beberapa tahun terakhir ini untuk menggugat dan menutup perusahaan tersebut.  Namun, Freeport  tetap eksis dan beroperasi  terussss.

Freeport semakin mengambil hati masyarakat Papua karena memberikan dukungan dana kepada Persipura sebagai ikon Papua. Masyarakat Papua seakan dihipnotis bahwa Freeport itu sponsor utama tim kebanggaannya. Maka ketika yang lain bicara untuk menutup perusahaan asal Amerika itu, yang lain seakan merasa berat karena jika ditutup selain akan mengorbankan ribuan karyawan Papua yang mengadu nasib dari perusahaan tersebut, tim kebanggaan masyarakat Papua Persipura Jayapura juga sulit ikut berkompetesi diliga nasional maupun internasional (Asia).

Meskipun demikian kekuatiran ini sebenarnya tidak terbukti karena pada tahun 2017 Freeport menarik diri dari sponsor utama Persipura karena masalah izin operasional antara pemerintah pusat dengan pimpinan perusahaan Amerika namun manajemen Persipura tetap bisa mencari jalan. Dan tanpa dukungan dana dari Freeport pun Persipura tetap terlibat dalam kompetesi meskipun dengan jalan yang sulit.

Kedua keberadaan, Rudi Maswi sebagai manajer Persipura. Pemiliki tokoh PT Bosowa ini terlibat sebagai manajemen Persipura sejak tahun 2011. PT Bosowa miliknya menjadi satu satunya perusahaan yang mensuplai minuman beralkohol di tanah Papua. Sebelum beliau berlabuh di Persipura, wacana penutupan minuman keras mulai gencar di provinsi Papua.

Wacana itu baru terealisasi pada tahun 2015 yang ditandatangi oleh gubernur dan para bupati seprovinsi Papua. Sayangnya implementasi pemberantasan minuman beralkohol sulit sampai saat ini. Ketika UU peredaran minumal beralkohol itu dikeluarkan, salah satu daerah yang sulit menerima adalah kota Jayapura. Ketika itu beberapa anggota DPRD kota melakukan protes karena dianggap tindakan keras yang diambil satpol PP waktu itu diluar kewajaran dan terkesan arogan karena bertindak tanpa memberi batas waktu.

Meskipun demikian tampaknya motif keberadaan Rudi Maswi sebagai manajer Persipura juga bermain peran. Kesulitan dana yang dialami Persipura barangkali di handel juga oleh modal dari Rudi Maswi sehingga Persipura dikenal dengan sebuah tim yang tidak pernah melalaikan bahkan terlambat membayar hak hak para pemain.

Ketersediaan semacam itu menjadi satu kekuatan utama Persipura karena pemain tetap semangt dan kompak karena sebagai pemain profesional hak haknya diberikan pada waktunya. Kita sering temukan banyak tim digugat karena hak hak pemain tidak dituntaskan. Bahkan itu berpengaruh pada prestasi tim.

Dalam arti ini keberadaan bos Bosowa ini cukup mengambil hati orang Papua. Tetapi kemudian kita bertanya lanjut apa artinya antara prestasi Persipura dengan ribuan nyawa orang Papua yang melayang (mati) bahkan keluarga banyak yang rusak karena pengaruh miniman alkohol? Apakah itu tidak berpengaruh karena sesungguhnya bukan salah perusahaan yang mensuplai minuman tetapi manusia yang mengkomsusinya yang tidak kontrol diri? Tentu kita tidak bisa serta merta menyalakan mental manusia yang kurang kontrol diri.

Untuk mengatasi mental manusia Papua seperti itu sebagai upaya pemutusan mata rantai kematian akibat dari minuman beralkohol sudah dilakukan oleh berbagai pihak baik pemerintah, SLM maupun juga oleh Gereja dengan pembinaan mental spiritualnya. Upaya pemerintah yang kongkrit adalah aturan yang ditetapkan wali kota Jayapura, Drs. Tomi Mano tahun 2015 lalu. Beliau berupaya melalui alat perangkat kerjanya, Satpol PP menangkap setiap orang yang ditemukan mabuk di jalan untuk diberikan hukuman dimasukan dalam kola buaya di Entrop.

Namun rupayanya hukuman itu tidak memiliki efek jerat. Kekerasan dan pembunuhan akibat minuman keras berjalan terus sampai hari ini. Itulah sebabnya memusnakan minuman beralkohol dari tanah Papua dirasa solusi yang realistis. Namun sayang sumber pemasok, PT Bosowa terus hidup dan seakan sulit disentuh karena Bosnya sudah masuk dalam lingkaran tim kebanggaan masyaratkat Papua.

Upaya pemda memusnakan ribuan botol hanya tampak pencitraan bahwa pemerinta daerah ada upaya pemberatasan minuman beralkohol. Tetapi apa artinya itu kalau sumbernya tidak diatasi. Itu ibarat berupaya menghilangkan asab semntara apinya terus membara.

Persipura Mengangkat Harga Diri OAP?

Pertanyaan selanjutnya yang perlu kita jawab adalah apa artinya Persipura mengangkat harkat dan martabat Orang Papua disaat yang bersamaan masih yang menghidupkan roda sumber kematian orang Papua sendiri.

Apakah dengan memberikan hiburan atas sejumlah prestasi yang diukir dapat menjawab kecemasan dan harapan hidup orang Papua? Pada satu sisi kita bangga karena memang dalam filosofi hidup manusia harga diri jauh lebih tinggi daripada nyawa sekalipun. Nyawa bisa saja menjadi taruhan ketika orang merebut dan mempertahankan harga dirinya dan bangsanya.

Itu berarti Persipura muncul satu kekuatan yang patut dibanggakan karena melalui prestasinya mengangkat muka masyarakat Papua untuk bicara dengan masyarakat lain di nusantara ini sekaligus masyarakat Asia. Persipura juga mampu menghibur dan mempersatukan semua kalangan masyarakat di Papua ini. Persipura juga menjadi sebuah tim panutan bagi masyarakat Papua dalam meraih kesuksesan dibidangnya masing-masing.

Kerja sama tim, kekompakan dan kerja kerasnya patut diteladani. Oleh karenannya tidak heran kalau seorang intelektual Papua, Dr. Beny Giay menegaskan orang Papua mesti belajar dari Persipura untuk membangun dirinya sendiri dalam seruan surat gembala “minum dari sumur sendiri”.

Tetapi prestasi itu dirasa tidak lengkap kalau disamping suksesnya Persipura masyarakat Papua terus tertinggal dalam berbagai aspek kehidupan dan lebih gawat lagi terus mengalami kematian oleh sumber konflik yang membangun citra diri sebagai malaikat penolong melalui keterlibatannya di Persipura. Maka selain menerima niat baik untuk mendorong dan mendukung Persipura tetapi juga masyarakat Papua mesti lebih kritis melihat motif dibalik dukungannya.

Dan salah satu konsekuensi logis jika ingin Persipura eksis dan disisi lain mengatasi sejumlah sebab kasus kemanusiaan di Papua, mesti membangun tim secara profesional. Membangun tim secara profesional berarti dukungan dana utamanya harus diusahakan sendiri dengan berbagai cara supaya Persipura tidak bergantung pada pihak lain yang selama ini sesungguhnya sumber konflik bagi masyarakat Papua.

Jika tidak maka kata Persipura mengangkat harkat dan martabat orang Papua hanyalah kata kata manis sebagaimana pemerintah pusat memberikan Otsus sebagai gula gula manis supaya orang Papua tidak bicara untuk menentukan nasibnya sendiri.

)* Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya masyarakat Papua