Papua Jungle Chef Menduniakan Kuliner Asli Papua di Torino, Italia

0
4086

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Sebuah komunitas tukang masak di Papua, The Jungle Chef Community kampanyekan pemanfaatan bahan pangan lokal Papua dan organik dari hutan Papua di Festival Jungle Chef di Torino Italia pada 18 sampai 28 September lalu. Selain melestarikan hutan, juga memperkenalkan keanekaragaman pangan lokal Papua.

Tahun ini, dan untuk pertama kalinya, Indonesia diwakili oleh Charles Toto, seorang jungle chef dari Papua yang menggoyangkan Torino, Italia, dimana ia menjadi sorotan utama dan tamu terpenting dalam perhelatan slow cooking festival yang dilakukan setiap dua tahunnya.

Dalam kesempatan di sana, Charles bukan saja mempromosikan aneka kuliner dari Papua, namun juga sekaligus praktekan masakannya sekaligus presentasikan potensi kuliner Papua. Ia telah mempromosikan Papua ke kancah dunia lewat kuliner Papua dimana saat ini Toto telah menjadi aktor utama yang dia kenal dengan dalam komunitas Papuan Jungle Chef.

Saat diwawancarai suarapapua.com, Selasa (23/10/2018) lalu, Charles Toto menjelaskan,  telah menunjukan potensi kuliner Papua yang diracik secara alami dengan mengambil langsung bahan-bahan masaknya dari alam. Charles mengatakan, ia tidak hanya menjadi chef utama, namun juga menjadi chef soroton dalam acara di Torino.

“Makanan lokal Papua yang dikampanyekan The Jungle Chef pada di Festival Slow Cooking di Torino Italia pada September lalu adalah salah satu event yang sangat perhatian dunia pula nama baik Indonesia dan khususnya Papua, saat itu banyak kegiatan yang hendak kami lakukan yaitu kampanyekan makanan lokal Papua, memamerkan makanan lokal secara langsung pada stand kami di  Torino,” katanya.

Sebenarnya, kata Charles, saat acara masak-masak di Torino, pertemuan chef dan perwakilan negara lain pun mereka benar-benar bawa makanan tradisional dalam acara tersebut untuk mengkampanyekan jenis makanan-makanan tradisional para chef yang hadir dari negaranya masing-masing.

“Khusus untuk negara Indonesia, tahun ini kebetulan kami yang mewaliki Asia-Pasifik-Oceania adalah kami dari Papua yang adalah sekaligus perwakilan Indonesia,” ungkapnya.

Ia menceritakan, pada saat itu banyak negara yang dapat diwakilkan, namun khususnya perwakilan Asia Oceania yaitu Papua Jungle Chef dari Papua, Indonesia dan perwakilan Amerika Serikat diwakili oleh chef keturunan atau orang American-Indian, dari benua Afrika diwakilkan oleh Tanzania dan juga ada chef perwakilan Russia yang hadir mewakili Eropa.

Menurut Toto, sebenarnya waktu masak, di sana tempat pertemuan chef-chef pribumi, jadi anak-anak (baca: para chef) yang benar-benar bawa mereka punya makanan tradisional untuk dibawa di ajang itu.

Chato menjelaskan, total persentasenya yang dapat hadir pada saat itu sebanyak empat negara dan sebagai peserta 50 orang dan partisipan sebanyak 17.000 orang dan pada saat itu pula banyak komunitas yang dapat hadir memamerkan makanan khasnya, bahan-bahan lokal seperti keladi, petatas kebanyakan dari Afrika.

“Kami juga berhasil memamerkan bahan yang sama dari Papua yaitu keladi, petatas dan lainnya yang bernilai ekonomis di Festival Slow Cooking di Torino Italia,” jelasnya.

Menurut dia, sebelum berangkat banyak kendala yang hendak alami dalam pelbagai hal, namun tetap semangat, sehingga berhasil promosikan makanan lokal Papua di negara Italia.

“Yang diundang saat itu saya sendiri, namun saya memprioritaskan berberapa orang  sebagai pelengkap di belakang saya dengan harapan agar mereka juga tahu bagaimana bisa belajar tentang masyarakat lokal atau pribumi di dunia lain dalam hal ini yang akan hadir di Festival Slow Cooking di Italia,” ujarnya.

Bukan itu saja, kata Chato, untuk dapat hadir di perhelatan slow cooking festival ini, ia bersama satu asisten chef juga manager/translatornya harus mencari dana sendiri.

“Kami gelar event masak-masak di Gereja St  Maria Regina Bintaro, Jakarta sebagai upaya mendapatkan dana ekstra untuk menghadirkan dua orang yakni satu chef bernama Ega dan juga Nando sebagai translator dan manager dari Papua Jungle Chef ini. Kami masak makanan buat dua pastor yang pernah bertugas di Papua sebelumnya dan setelah itu dari Gereja Bintaro membantu satu tiket untuk pulang pergi dan Ega untuk membantu sebagai assistant chef pula teman yang merangkap manajer, sehingga sangat terbantu tiketnya dan semua itu dapat dibantu oleh kedutaan Indonesia di Roma Italia,” jelas Toto.

Chato berharap, pemerintah Papua kedepannya dapat membantu Papuan Jungle Chef untuk mendata kembali makanan-makanan asli Papua yang ada di belantara Papua agar orang lain bisa tahu.

“Menurut saya, kami orang Papua pun belum tahu jenis makanan yang biasa konsumsi atau makanan asli dari Papua,” katanya.

Ketika ditanya apa harapan lainnya kedepan, ia menegaskan agar ada dukungan dari pemerintah Papua agar Papua Jungle Chef dapat menata kembali makanan-makanan Papua di belantara Papua, sehingga orang lain dan juga orang Papua sendiri bisa tahu kalau kita di Papua ini sendiri belum tahu dan melakukan pola-pola konsumsi dan bahan-bahan makanan yang selama ini mulai punah.

“Masih banyak orang Papua dan orang di luar tidak tahu jenis makanan asli Papua termasuk jenis buah-buah tertentu,” ujarnya sambil memberikan beberapa nama contoh buah yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat di Inanwatan, Sorong Selatan dan Maybrat.

“Benar, jadi pada waktu itu saya menjelaskan wilayah kami Papua itu adalah bagian dari Indonesia dan bukan Papua New Guinea (PNG) karena para peserta dan pengunjung pikir kalau Papua itu adalah bagian dari PNG, kami memang berbatasan langsung dengan PNG,” ujarnya.

Pengunjung stand Papua Jungel Chef, kata dia, berpikir Papua itu adalah PNG, sehingga harus menjelaskan bahwa Papua memang satu pulau dengan PNG, namun salah satu provinsi di Indonesia.

“Memang banyak teman-teman chef hingga pengunjung yang berasal dari benua Afrika yang merasa dan meyakinkan saya kalau kita semua ini ras kulit hitam ini sebenarnya kita ini satu kulit dan datang kesitu (Papua) dan tinggal berkembang di situ (Papua/Pasifik),” ujarnya ketika ditanya apa saja kesan dari para pengunjung atau chef-chef lainnya ketika bertanya tentang asal dia dan tim.

Chato menambahkan, kalau sebenarnya di Papua juga punya event sejenis. Ia menjelaskan, Papua jungle chef sebenarnya sudah mempunyai event sejenis kalau berbicara tentang festival makanan lokal.

Di daerah Kimaam, Merauke saja ada festival Ndambu. Itu semua proses memasak makanan dan jadi lalu dinikmati, dilakukan secara bertahap dari proses tanam, panen hingga memasaknya walau mereka sudah ada campur modern, tetapi telah terpadukan pola konsumsi mereka sudah ada pencampuran modern di pola-pola konsumsi dan bahan-bahan tradisional, tetap saja semua orang bisa dan akan datang dan belajar dan tahu sejarah makanan orang Papua dan sejarah pergerakan makanan yang masuk dari dunia lain sampai ke Papua.

Misalnya petatas ini dia masuk dari Afrika dan jagung dari Peru, Amerika Latin bisa masuk ke Papua dan mengapa sorgum atau gandung itu bisa masuk sampai di Numfor, Biak.

“Yang sangat menarik dan kita semua bisa tahu dan makin simpati dengan mengikuti sejarah perjalanan makanan di Papua,” urai Chato ketika ditanyakan tentang apakah di Papua ini sudah ada event sejenis.

Soal visi dan misinya secara spesifik, ia menilai kalau kuliner di Papua ini sudah mulai bergeser dan telah terjadi degradasi pola makan.

“Menurut saya, kuliner Papua sudah mulai bergeser dan terjadi degrasi pola makan ketika saya presentasikan ini di depan chef-chef lain di event ini, dimana saya bawa jadi satu point karena anak muda di Papua ini sudah tidak lagi mengagumi makanan lokal seperti keladi, sagu, petatas, apalagi dong lebih suka nongkrong di KFC karena produk-produk luar negeri,” jelasnya.

Namun, kata dia, kebiasaan itu tidak disadari bahwa pola konsumsi orang luar yang dibawa masuk ke Papua itu secara tidak langsung mereka menjajah kita lewat makanan.

“Kita bisa lihat orang tua kita, tete-tete di kampung, mereka itu hidup lama 60-100 tahun dengan kondisi tubuh yang selalu six-pack karena mereka mengkomsumsi makanan alamiah,” jawabnya ketika diminta menjelaskan lebih rinci soal degradasi pola makan di Papua.

Secara spesifik, Chato ingin mengembangkan kuliner Papua dengan mendirikan Papua Jungle Chef Center.

“Kita akan buat Papua Jungle Chef Center, dengan ini kita akan mendata kembali dan membuat perpustakaan tanaman asli dan khusus asalnya dari Papua, tanaman asli Papua yang adalah hasil penemuan masyarakat Papua, sehingga kita sadar kalau kita masyarakat Papua itu jauh lebih modern, lebih maju dari masyarakat tradisional, sehingga hari ini kita tidak perlu salah lagi menilai kalau makanan modern itu lebih maju,” katanya.

“Setelah saya pelajari sampai ke kampung-kampung, masyarakat tradisional jauh lebih modern, mereka akhirnya bisa ciptakan garam hitam, bisa ciptakan garam dari daun, kemarin juga saya bawa garam hitam ke sana presentasi dan ini masyarakat langsung bisa menemukan dan kita bisa buat perbandingan antara garam hitam dan garam hitam dari Nepal dan saya jelaskan ini masyarakat dari kampung di Papua,” tutur Chato dengan semangat, sekaligus mengakhiri perbicangannya bersama suarapapua.com.

Pewarta: George Saa
Editor: Arnold Belau