Riwayat Hidup Jend. Bernard Natoma Mawen: Komando Pertahanan  V Merauke

0
8295

Oleh: Beni Pakage)*

Almahrum Bernard Mawen berasal dari pulau Kimam/Fredrich Hendrik Kabupaten Merauke.
Dia  sekolah di  Pendidikan  seminari Katolik di Merauke, namun pada tahun 1968 ia tinggalkan seminari dan masuk hutan di Merauke bersama kawannya seperti Alex Tumbay (alm), Alex Derey (alm), David Timka (alm), Alberth Atanai (alm) dan Daniel Ita (alm) Bony Mote,(alm) Roberth Pakage (alm) dll.

Setelah selesai PEPERA 1969, yang lain menyerah kembali ke Merauke dan yang lain ke PNG/Australia New Guinea sekarang PNG. Sedangkan beberapa orang Bersama Bernard Mawen jumlah 30 orang termasuk nama nama diatas, membuat Rakit Bambu dengan  layar selimut  meminta suaka ke Australia dan setelah sekitar dua minggu terapung di laut Arafura, mereka tertampar di pulau Quisiland.

Disana Polisi Australia ambil mereka dan kirim ke Melborn Australia. Kemudian Presiden Suharto minta Pemerintah Australia kembalikan warga negara RI asal Irian Barat itu, dan Pemerintah Australia kirim mereka kembali ke Merauke dan ke Port Numbay lewat PNG dan mendarat di Bandara Sentani, dan dijemput oleh militer Indonesia langsung mereka dibawa ke Bayangkara I dan mereka ditahan selama satu tahun lebih.

- Iklan -

Kemudian pada tahun 1971 tuan Bernard Natorma Mawen ditangkap oleh TNI dalam kebun di kepala kali Kota Raja Port Numbay karena secara terbuka melakukan perlawanan kepada Indonesia , dan ia dipenjarakan di Penjara TNI/AD di Ifar Gunung selama dua tahun lebih.

Pada tahun 1973, Gerardus Tomy  bersama Obeth Bil Tabuni masuk di kota Abepura, dan bertemu dengan tuan Bernard Mawen Natorma, Pius Gemen/Katonggot’, Danjel Ita dan mengajak mereka bergabung dengan kelompok perlawanan yang telah melatih diri melawan Indonesia,sehingga  Mereka ikut bersama masuk ke Markas Victoria Waris Keroom Jayapura. Sehingga mulai tanggal: 15 April 1974 Bernard Mawen Natorma ikut sekolah pendidikan Opsiren (SPO) di Markas Victoria.

Dalam bulan Juni 1976  Bernard Mawen Natoma dilantik oleh Presiden S. J Rumkorem dengan pangkat Leptenan IIe.

Pada tahun 1977 Bernard Mawen Natorma ditugaskan oleh J.H.Prai untuk pergi amankan perang rakyat melawan TNI yang mengakibatkan pemboman terhadap rakyat di Wamena. Bernard Maswen Natorma bersama Alex Derey mundur bersama Mathias Wenda dan pasukannya bertahan di daerah Mamberamo selama satu tahun lebih.

Taggal 23 April 1978, Bernard Mawen Natorma diangkat oleh J.H. Prai dengan Pangkat Kapten dengan jabatan Waikil PANGKODAP V Merauke.

Pada tahun 1981 tuan Bernard Mawen Natorma tinggalkan Markas Victoria/Pemka berjalan kaki menuju Merauke dan bertemu Geraradus Tomy di Markas KODAP V Merauke yang sudah dirikan lebih duluan, sehingga Bersama Gerardus Tomy mereka melakukan aktivitas seperti penerangan, meluaskan daerah kekuasaan, dan latihan.

Bernard Mawen adalah Panglima Kodap V Merauke. Tahun 1984 Bernadus Mawen menolong orang Papua yang dikejar TNI/Polri untuk bisa tiba dengan aman di PNG.

Pada bulan Juni 1986 dari penjara BOMANA PNG  Bernadus Mawen serahkan jabatan sebagai PANGKODAP V Merauke kepada Tuan Bernard Mawen Natorma.

Tgl 4 Juni 1998 Bernadus Mawen mensosialisasikan Logo Nasional Papua Barat Seperti Bendera, Burung Mambruk, Poster Lambang OPM, untuk bangkitkan semangat perjuangan mendukung OPM.

Tgl 23 Juni 1998 Benard mengirim surat kepada TNI (Kopasus) Ddngan logo Dewan Komando Militer Tertinggi TPN Front Pembebasan West Papua Barat NO 006/A-1/IX/SMK/PANG-KOTAB/TPN-P.B/98 TGL 6 MRT 1998 ditujukan kepada Pangdam VIII/CEN tentang Permintaan Kemerdekaan Republik West Papua sebelum tahun 2000 yang ditandatangani Bernadus Mawen Tgl 2 S.D 3 Feb 2002, 43 Orang Anggota Bernadus Mawen menyerah.

Tgl 25 April 2005, 1 Orang simpatisan TPN/OPM tertangkap oleh Kipan D Yonif
643/WNS di Bupul 12 Distrik Elikobel Kab. Merauke tanggal  27 April 2006  Bernard Mawen laksanakan Rapat Bahas Persiapan Unras Bulan Mei 2006.

Dia bertahan sekitar 50 tahun lebih melawan Indonesia menuntut kembalikan Hak Politik Orang Papua sampai tanggal: 16 November 2018 menebus napas terakhir.

)* Penulis adalah pengamat sosial di tanah Papua

.

Print Friendly, PDF & Email