Seruan Doa Bersama di Kantor DPRP Diawali Bunyi Tembakan

0
3423

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Dibawah pimpinan Ketua Sinode Kingmi Tanah Papua, Pdt. Dr. Benny Giay, Wakil Bupati Nduga Wentius Nimiangge, Ketua Tim Investigasi Pdt Eliaser Tabuni bersama masyarakat, mahasiswa, pemuda, dan simpatisan yang hendak long march ke DPRP Papua diawali dengan tembakan 4 kali, Sabtu (22/12/2018).

Letusan bunyi senjata itu terjadi di Jl. Irian depan kantor Lantamal X Jayapura, saat Ibu Raga Kogoya memimpin di garis depan sambil berorasi, menuju kantor DPRP tampak terjadi adu mulut dengan aparat keamanan.

Dalam perjalanan menuju kantor DPRP, Ibu Raga Kogoya yang ditangkap tim Mabes Polri di Wamena karena memberikan keterangannya kepada BBC News Indonesia dengan video berdurasi 4,45 menit terkait kondisi di Nduga, menyatakan, DPRD, Bupati, Gubernur ada karena ada rakyat, mengapa harus tinggal diam?

“Masyarakat Nduga sedang habis, orang di Nduga sedang punah. Karena kena tembakan militer. Dimana pemerintah dan DPRD, kami ini bagian dari negara juga,” ujarnya.

Dalam video keseluruhan yang berdurasi 5,14 menit terdengar bunyi tembakan di menit 3,9 dan sempat terjadi keributan, kemudian massa diarahkan oleh Polantas ke kantor DPRP.

Sampai di kantor DPRP, dalam pembukaan renungan dan seruan doa, Benny Giay mengatakan, “menuju ke tempat ini kami sempat dihadang dengan berbagai cara, saya melihat kejadian aneh ini. Namun karena campur tangan Tuhan, kami bisa sampai di kantor rakyat.”

Hal tersebut menurutnya bagian dari tantangan sebagaimana selama ini dihadapi orang Papua.

“Kami ke gedung rakyat untuk doa bersama, kami sempat dihalangi. Sampai kantor DPRP pun pintu pagarnya ditutup. Kita tetap menyerukan di jalan akhirnya kami diijinkan masuk,” kata Pdt. Benny Giay di halaman kantor DPRP Papua.

Dijelaskan, tujuan utama memimpin massa berjalan kaki ke Honai atau kantor perwakilan rakyat adalah untuk merefleksikan sambil menyampaikan seruan doa agar umat Tuhan dari Gereja Kingmi di Kabupaten Nduga yang mengungsi ke hutan-hutan akibat operasi militer Indonesia bisa segera kembali ke rumah mereka.

“Kantor DPRP mau ada orang atau tidak ada karena hari pendek atau sudah tutup sidang kemarin. Itu bukan masalah buat kami. Kami kan datang ke halaman kami dari pada lakukan di tempat lain hadirkan masalah baru. Ini tempat rakyat dan pantas untuk kami melakukan kegiatan kami di sini,” ujar ketua Sinode Kingmi Papua.

Sebelumnya, tim evakuasi korban masyarakat sipil di Kabupaten Nduga mengungkapkan adanya pengungsian besar-besaran sejak terjadi penembakan pada tanggal 1 dan 2 Desember 2018.

Tilas Mom, sekretaris Kingmi yang juga terlibat dalam tim tersebut, saat jumpa pers di Kantor Sinode Kingmi Papua, Kamis (20/12/2018), mengatakan, masyarakat sipil lari ke hutan lantaran trauma dengan kejadian masa lalu dan saat ini. Hingga kini belum kembali meskipun sedikit dari yang mengungsi sudah pulang ke rumahnya.

“Tidak sedikit warga sipil memilih mengungsi ke hutan dan hingga kini belum diketahui keberadaannya,” ujar dia mengungkapkan hasil pemantauannya bersama tin.

Baca juga: Masyarakat Sipil di Kabupaten Nduga Masih Mengungsi

Tim tersebut menurut Mom, dibentuk dari beberapa unsur yang di dalamnya ada pemuda, gereja, LSM, dan pemerintah daerah. Tim bertugas untuk mengevakuasi korban entah para pekerja proyek maupun warga sipil di Kabupaten Nduga.

Tim belum melakukan kunjungan ke Distrik Yal, kata dia, lantaran pihak keamanan sudah masuk ke sana lebih dulu. “Sampai kami di sana ada warga yang lari tinggal di hutan, ada yang masuk, tetapi kebanyakan masih di hutan atau dimana tidak tahu. Lebih parah lagi di Distrik Yal yang menjadi tempat utama.”

Penembakan terhadap pekerja jembatan terjadi di Distrik Yal, menurut dia, sejauh ini belum dapat dikunjungi.

“Pemerintah melalui Presiden Indonesia segera intruksikan agar operasi militer harus segera dihentikan,” ujarnya mewakili tim menyambung suara masyarakat sipil di Nduga.

Pewarta: Ardi Bayage

Editor: Markus You