Guru Honor di Pusat Kota Nabire, Mengabdi Tanpa Digaji Selama Lima Tahun

0
364

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Tak ada rotan akar pun jadi. Kalimat ini tepat untuk menggambarkan upaya yang dilkaukan oleh Soter Belau, seorang guru honorer di Kabupaten Nabire yang mengajar tanpa digaji selama lima tahun. Sekolah yang ia ajar berada di Pusat Kota Nabire.

Wartawan Suara Papua berkesempatan untuk bertemu dan ngobrol dengan pak guru Soter di kediamannya tidak lama ini. Kediamannya terletak di Jayanti, Kampung Gerbang Sadu, Distrik Nabire Barat, Kabupaten Nabire.

Sekolah dengan nama SD Negeri Wadio Tengah yang berada di Jayanti didirikan berdasarkan SK Pendirian Sekolah No. 420/764/2009 dan SK Izin Operasional dari Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah No. 420/764/2019.

Sejak berdirinya sekolah ini sampai saat ini, perhatian dari pemerintah daerah, dinas pendidikan Nabire tidak serius dan terkesan terabaikan.

Soter, dengan pendidikan yang pas-pasan rela menawarkan diri untuk menjadi guru honor di SD tersebut. Bukan tanpa alasan, menurut Soter ia mau menjadi guru honor sudah dipertimbangkan dengan matang. Pertama, ia akan mengajar sekolah, anak-anak kelas 1 sampai dengan kelas 3. Di sini, ia menyadari bahwa pengetahuan untuk mengajar belum cukup.

Ada kondisi yang ia lihat. Bahwa anak-anak yang seklah di SD tersebut adalah semuanya anak-anak yang tinggal di Jayanti. Dan dengan hadirnya sekolah tersebut dapat memberikan anak-anak di Jayanti untuk sekolah di lokasi yang tidak jauh dari orang tua mereka dan tempat tinggal mereka.

“Saya beranikan diri untuk mengajar di SD ini karena anak-anak yang sekolah di sini semua anak-anak dari sini (Jayanti). Ini untuk kami orang tua cukup membantu. Karena ada sekolah dekat rumah. Jadi anak-anak tidak perlu sekolah di SP 3, Perumahan Jayanti atau Kali Merah,” ungkap Soter kepada media ini.

Pada tahun 2014, Soter diangkat sebagai kepala sekolah sementara di SD itu. Ia mengaku masih mengalami kendala. Kendala yang ia ungkapkan adalah kendala untuk membayar honor guru. Ada guru-guru datang

Soter Belau mengatakan bahwa, sejak dirinya diangkat sebagai kepala sekolah sementara di SD Negeri Wadio Tengah tahun 2014 silam, ia mengaku masih mengalami kendala terutama dalam pembayaran honorarium para guru, sehingga guru-guru honorer semakin banyak yang pindah dan hanya tinggal dirinya yang harus mendidik 30 lebih siswa-siswi, agar mengikuti proses belajar-mengajar dalam kelas.

“Saya kecewa dengan sikap dinas pendidikan, mereka sudah buka sekolah tetapi justru dibiarkan melarat. Saya sudah masukan proposal di sana, tetapi tidak pernah dijawab. Kalau tidak mampu perhatikan SD Negeri Wadio Tengah, untuk apa dinas buka sekolah ini,” tuturnya kepada suarapapua.com, Selasa (13/8/2019).

Ia bercerita, sejak kepala sekolah SD Negeri Wadio Tengah, Nabire, Manfred Degei dan Yosias Boma sampai saat ini, dirinya dibebani tugas dan tanggung jawab penuh yang harus dipikulnya, di mana dinas pendidikan tidak pernah memberi kepala sekolah ke SD tersebut.

Ada upaya yang dilakukan untuk mengatasi situasi ini. Dari pengakuannya, ia berusaha sendiri cari guru untuk ajar anak-anak di sekolah tersebut. Selain itu, uang pribadinya ia korbankan untuk bayar honor guru.

“Dinas tidak perhatikan sekolah ini. Kepala sekolah tetap pun tidak ada. Honor juga tidak dibayar. Jadi saya pakai uang saya untuk bayar guru-guru yang bantu mengajar di sini,” ungkapnya.

Dari informasi yang ia dapat, saat ini dinas pendidikan sudah beri seorang kepala sekolah. Ia senang, tetapi lebih dari itu ia berharap agar honor guru-guru juga diharapkan untuk diperhatikan oleh dinas. Karena bisa saja guru-guru pergi. Karena tidak ada orang yang mau mengajar tanpa diberi upah yang layak. Yang paling penting, adalah bahwa anak-anak ini harus sekolah. Untuk menunjang agar anak-anak ini tetap belajar, guru-guru yang mengajar harus diperhatikan honornya.

“Tiada rotan akan pun jadi, ya seperti itulah sebenarnya profesionalitas seorang guru diuji, jadi biar bagaimanapun kita harus mengajar, tanpa mengedepankan uang, biarlah Tuhan yang tahu semua yang kita lakukan,” kata Soter.

Selain masalah honor untuk guru, ada masalah lain yang menghantui guru dan para anak-anak sekolah di sekolah tersebut. Adalah persolan pembayaran tanah lokasi sekolah kepada pemilik.

Suara Papua berkesempatan untuk bertemu dan berdiskusi dengan pemilik tempat di mana seklah didirikan. Dia adalah Yulianus Holombau.

Holombau mengatakan, SD Negeri Wadio Tengah, Nabire ini dibangun pada November 2009 silam. Ia melihat ada banyak guru honorer datang mengajar, tapi keluar dan pindah. Alasannya karena tidak ada honor yang dibayarkan pada mereka.

“Ya, wajar saja kalau guru-guru honor itu pindah, karena mereka tidak digaji. Sekarang yang menjadi korban Soter Belau, karena Soter mengorbankan uang pribadinya untuk membayar honor para guru tersebut, tetapi mau apa lagi, karena sekarang sudah tidak ada guru honor di SD tersebut dan hanya Soter sendiri yang mengajar,” kata Holombau.

Kondisi SD Negeri Wadio Tengah, Nabire sudah dipalang sejak tidak ada penuntasan sisa pembayaran lokasi dari dinas pendidikan kabupaten Nabire kepada pemiliknya.

“Mereka hanya bayar setengah saja, sisanya belum, kira-kira 250 juta yang dinas terkait harus bayar,” ujar Holombau.

Pasalnya, Lokasi dibangunnya SD Negeri Wadio Tengah, Nabire masih bermasalah, karena pembayaran yang sering tertunda-tunda dan fasilitas belajar-mengajar yang tidak memadai, membuat SD ini seakan-akan terbelakang di Nabire.

Luas Tanah yang dilepas untuk mendirikan bangunan SD Negeri Wadio Tengah, Nabire adalah 5.000 M². Sebelumnya dinas terkait dengan pemilik lokasi sudah ada kesepakatan bersama antara kedua belah pihak, serta membuat MoU dan melaksanakan penandatanganan di atas materai 6000.

“Saya yakin ada bukti-bukti lain, selain daripada itu, tetapi lebih jelasnya dinas terkait harus bertanggung jawab, agar masalah pendidikan di Nabire ini bisa diatasi dengan baik,” imbuhnya.

Pewarta: Yance Agapa 

Editor: Arnold Belau