Asbany Wihyawari, Pengusaha Ikan Tuna Papua di Kota Jayapura

0
97

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Asbany Wihyawari, pengusaha Ikan Tuna Orang Asli Papua  telah menjalankan usahanya selama empat tahun belakangan di Kota Jayapura, Papua.

Saat disambangi media ini di gudang pemotongan ikan tuna miliknya pada Rabu (13/11/2019) lalu mengatakan usaha tersebut telah ia jalankan selama empat tahun.

Usaha yang ia jalankan bernama Koperasi Bina Tuna Sahabat. Usahanya telah mendapat sertifikat cara penanganan ikan yang baik dengan dari Kementerian Perikanan dan Kelautan pada tahun 2018.

Jenis produk yang diproduksi adalah Tuna Loin Segar dengan tahapan penanganan: Penerimaan, pendinginan, pencucian, Loining, Triming, Packing dan Penyimanan Dingin dengan klasifikasi C (cukup) dan telah diverifikasi pada 3 Desember 2018.

- Iklan -

Pada Januari – Oktober 2019 Koperasi yang dikelola Wihyawari telah menghasilkan 28,017 ton ikan Tuan. Dengan rincian ikan berat bersih 28.017‬ kg dikemas dalam  1000 box ikan.

Wihyawari berharap agar pemerintah daerah dapat lebih fokus memperhatikan usaha orang-Orang Asli Papua, supaya tetap dapat berkembang dan juga bersaing dengan yang lain.

“Saya harap pemerintah dapat melihat usaha yang kami lakukan dan juga turun langsung ke lapangan. Ada banyak orang–orang Papua yang punya usaha namun tidak di perhatikan dengan baik. Kapan pemerintah dapat menurunkan harga kargo di Jayapura,” ujarnya.

Dengan maksud, agar ketika pemerintah melihat dan membantu, pengusaha orang asli papua dengan muda bisa produksi tanpa pikirkan ongkos dari orang lain.

“Saya mau agar orang tau bahwa ini hasil alam dari Papua, bukan dari daerah lain. Dan kami olah sendiri,” harap Wihyawari.

Hermina Aronggear,  istri Wihyawari menceritakan, ide  awal membuka usaha. Nama usahanya adalah  Pengepul Ikan Tuna Wooi Putra Sabat yang berlokasi di Jl. Hamadi, Belakang Pasar, Jayapura, Selatan, Kota Jayapura.

“Saya dengan suami sudah menjalankan usaha ini selama empat tahun. Ide awalnya itu karena bapa [suaminya] bergaul dengan orang pendatang dan kebetulan punya rumpon sendiri,” jelasnya.

Dengan modal rumpon sendiri dan dengan sering bergaul dengan orang non papua yang juga usaha ikan, ia dan suami sepakat untuk membuka usaha tersebut.

“Kami punya rumpon sendiri, tapi biasanya ikan kami masukan ke orang lain. Jadi saya bilang nanti mereka yang untung. Jadi lebih bagus kalau kita usaha sendiri. Kami sepakat lalu buka usaha ini empat tahun lalu,” jelasnya.

Ia mengaku, ia dan suaminya produksi sendiri seluruhnya. Mulai dari penangkapan, pemotongan dan pengiriman ke Makassar dikerjakan sendiri.

“Kami sudah ekspor juga ke luar negeri,” ungkapnya.

Ia juga mengungkapkan,  ikan Tuna yang diolah dikirim ke Makasar. Di Makasar, diolah menjadi abon atau ikan tuna kalengan.

“Untuk ekspor, ikan yang kami kirim dari sini sudah sudah ekspor ke Singapura dan Jepang. Tapi dengan nama atau kode mereka yang di Makassar bukan lagi dari kami di Papua,” tambahnya.

Pewarta: SP-CR05

Editor: Arnold Belau

Print Friendly, PDF & Email