Surat Cinta Untuk Suara Papua:  Lihatlah Dirimu Kini!

0
102

Oleh: Benyamin Lagowan)*

SP……lihatlah dirimu kini!  Engkau sudah semakin besar dan tampil menawan, gagah perkasa, memukau hati banyak orang serta dengan tangguh bersaing di atas kakimu, di atas tanah airmu sendiri, di atas remukan hati dan roh para Manusia tanpa suara, di atas suara-suara mati tanpa roh yang berhamburan ini.  Kau terbaik, we love you!

Situs berita online Suara Papua  (SP) pada tanggal 10 Desember lalu baru saja memasuki usia yang genap ke delapan tahun (2011-2019). Suatu usia yang masih terbilang sangat muda atau setara anak-anak kelas 3 SD. Kita sulit membayangkan bagaimana SP yang masih bayi lima tahunan (Balita) lalu, kini sudah bertumbuh dan berkembang memasuki masa anak-anak. Perkembangan dan pertumbuhan yang positif ini tentu saja, sangat membanggakan dan patut disyukuri. Sosok-sosok yang melahirkan, kemudian merawat dan  membesarkan  SP patut diberikan penghargaan yang setinggi-tingginya oleh semua rakyat pecinta SP. Mereka memiliki andil dan peran yang sangat tidak  ternilai harganya dalam proses tumbuh-kembangnya. Mereka adalah para muda-mudi, bapak-ibu, sosok-sosok panutan bagi bangsa dan rakyat Papua.

Kau  yang Dulu Berjalan Hanya Bermodal Semangat

Tak ada sepeserpun yang didatangkan oleh para pejabat. Tak ada sepeserpun yang dibantu dari para intelek, sejak proses kelahiraannya hingga saat ini. Ia dilahirkan dan terus berjalan hanya karena semangat, idealisme, kecintaan, keingintahuan, kekuatiran, emosi dan terlebih karena dilandasi pertanyaan: mengapa kami tidak bisa?  Demikian rasa yang kini terasa oleh kami, anak-anak muda, yang dekat dengan SP. Walau kami hanya bisa titip nama dan tulisan. Hal itu sangat pasti mendasari tekad dan niat pace yang su pergi. Karena kita baku tahu, baku rasa dalam batin yang menderita dan yang senantiasa saling berkontak.

SP, kau tidak seperti media lain. Yang saat pendiriannya diresmikan dengan disertai suatu acara mewah-meriah, suatu acara besar yang menghadirkan para elit dan korporasi yang akan kemudian menjadikan media tersebut sebagai corong  menghancurkan dan menipu rakyat dengan pencitraan dan pembentukan opini yang kelak mendatangkan tangisan untuk  rakyat dan bangsamu. Modal semangat dan bekal itu, harap terus ada. Tidak hilang atau tertinggal karena zaman. Lalu terus bertumbuh dan  kau harus bertahan sampai kau benar-benar sampai pada pintu kedewasaan yang kita idam-idamkan itu.

Ingat, Mengapa Kau Harus Lahir !

Pertanyaan kami, jika kau kelak lupa diri: ingatlah, mengapa kau dilahirkan ke dunia  orang-orang Papua. SP adalah spesial, berbeda, unik dan khas. Kau tidak lahir karena kebutuhan material, profan, dan kebutuhan publisitas. Kau tidak dihadirkan karena para penguasa, kau juga tidak dilahirkan sebagai media partai politik atau media pengusaha kaya-raya. Tapi Kau dilahirkan oleh anak-anak muda  jalanan yang belia yang masih buta, sederhana, miskin dan berasal dari keluarga yang ditindas oleh tirani kekuasaan dan pengusaha. Dalam situasi ketertidasan yang kronik kau dilahirkan ke dunia orang Papua. Agar menjadi microfon dan megapon bagi bangsamu. Bagi rakyat kita, yang selalu dibayang-bayangi tangisan, air mata, duka dan penderitaan dalam kesengsaraan yang tiada berkesudahan.  Pada merekalah, kita bertugas  dan berbakti dengan penuh tanggung jawab, walau kerap penuh dengn tantangan dan resiko.  Meskipun demikian, kita tidak harus mundur. Tetapi, tetap maju dengan kepala tegak,  sambil senyum dan memberi suara khas kita: suara papua.

Soal Masa Depan yang Tidak Pasti

Dalam lubuk hati kami yang dalam, terdapat rasa bangga, legah, puas dan respek untuk posisi dan pencapaian SP saat ini. Dimana SP telah menjadi media teratas dari media besar lainnya. Dengan rasa itu, kami mau berpesan bahwa tentang menatap masa depan yang fiktif, tidak ada yang bisa tahu, walau bisa diprediksi, hanya belum tentu akurat. Oleh karenanya, SP tetaplah menjadi dirimu sendiri. Dengan penuh optimisme, keyakinan dan sabar untuk berjalan maju. Apapun tantangan, masalah dan hambatan yang akan menghampiri anggaplah sekedar sebagai ujian dalam proses pendewasaan. Ingat filosofi orang-orang tua: “Kita adalah pejalan kaki yang lambat, tetapi tidak pernah berjalan mundur sejengkal pun, melainkan terus maju sampai pada garis tujuan.” Itu adalah petuah dan kompas dalam mengarungi dunia yang ganas, kejam, dan pedih ini. Bersama segenap semua personil yang ada: baik yang lama dan yang baru teruslah melangkah dalam solidaritas generasi muda bangsa tertindas.

Kekuatan dan amunisi yang ada adalah bekal dalam melawan arus gelombang tantangan dan badai kehancuran rakyat Papua. Menjadi Suara Papua adalah mulia karena kita telah berikrar untuk menjadi suara bagi rakyat Papua yang suaranya tidak pernah didengarkan. Yang suaranya terus diabaikan.  Mereka yang hanya bisa diam di dalam rumah-rumahnya sembari menangis, mengusap pipih seketika ketika anak-anak mereka yang luguh datang berlari, terkadang memilih bersuara di bawah-bawah kolong, dan membisu  dalam duka untuk mempertahankan hidupnya.  Mereka  yang memilih diam karena ditekan, karena diancam dan ditodong. Suara mereka kini haruslah didengar, didampingi agar mereka bersuara lantang hingga ke belahan penjuru dunia lain. Karena Kita adalah manusia. Bukan bangsa monyet.  Karena kita manusia yang diciptakan oleh sang pencipta dengan tempat yang kaya rasa. Yang tetapi hingga hari ini masih menjadi pusat perampokan bangsa-bangsa biadab dan rakus. Maka Kita harus tetap berkomitmen melangkah maju untuk memihak dan membela mereka yang tertindas itu. Soal masa depan, kita serahkan kepada Tuhan Sang Khalik yang empuh-Nya tanah dan manusia Papua.

Akhirnya  dengan rasa bangga, cinta, hormat bercampur haru yang dalam, kami yang berkesempatan bisa bersuara hari ini mewakili kaum tak bersuara itu, mengucapkan selamat ulang tahun Suara Papua: teruslah menjadi penyambung lidah dan suara kaum tak bersuara. Tuhan Allah memberkati dalam perkembangan dan pertumbuhan selanjutnya.*

Hollandia Binnen, 17 Desember 2019

)* Penulis adalah seorang dokter muda yang aktif menulis artikel dan Opini untuk Suara Papua