Masker Hasil Jahitan Margareta dan Yubelina Banjir Pemesan

0
1408

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com— Margareta Bame dan Yubelina Sedik, dua perempuan tangguh di Kota Sorong Papua Barat menghabiskan masa karantina akibat Pandemi Covid-19 dengan menjahit masker.

Masker-masker yang dijahit dua perempuan Papua itu untuk mama-mama Papua dan pesanan sejumlah Aparatur Sipil Negara (ASN) di Kota Sorog dan Tambrauw, Papua Barat.

Margareta Bame, ketika dijumpai suarapapua.com, Sabtu (16/5/2020) menjelaskan keinginan awal menjahit masker-masker itu.

Menurutnya awalnya dirinya bersama Yubelina Sedik menjahit masker untuk dijual kepada keluarganya dengan harga yang lebih murah, namun dalam berjalannya waktu keinginan sederhana untuk kalangan keluarga itu beruba drastis.

Dimana banyak pesanan yang datang setelah adanya promosi melalui kelurga dan juga media, seperti Suara Papua.

ads

“Disitulah muncul peluang bisnis. Tentu kami senang bisa punya uang sendiri selama pandemi Covid-19, tetapi karena banyaknya pesanan kami cukup cape. Kami hanya dua orang saja, maka tentu kelelahan,” kata Margareta.

Baca Juga:  PT IKS Diduga Mencaplok Ratusan Hektar Tanah Adat Milik Marga Sagaja

Ia mengatakan, selain menjahit masker bagi mama-mama Papua, pihaknya juga menjahit masker pesanan pejabat.

Dengan menjahit masker, ungkap Margareta pihaknya dibantu Pemerintah Tambrauw dengan sejumlah dana, yang mana dana tersebut telah digunakan untuk membeli satu buah mesin jahit dan kebutuhan jahit lainnya.

“Bapak Sekda Tambrauw bantu saya dengan Yubelina uang 10 juta. 6 juta kami pakai beli mesin, karena selama ini kami pakai satu mesin, yang tentu susah dan bergantian dalam menjahit. Sekarng sudah ada mesin dua dan itu sangat membantu kami berdua. Uang sisa kami beli bahan dan jahit masker.”

Baca Juga:  Pembagian Paket Tidak Transparan Bagi Pengusaha Asli Papua

Selain membantu dana untuk mendukung usaha menjahit masker, katanya pihak Pemerintah Tambrauw melalui Sekdanya memesan 500 masker.

“Karena bapak Sekda mereka buru-buru kembali ke Tambrauw, maka kami hanya dapat 440 masker. 440 masker itu sudah dibeli oleh bapak Sekda dengan harga satuan RP15.000 (lima belas ribu).”

Selain itu, katanya masker jahitan tangan dua perempua Papua lulusan sekolah teknik busana SMK Pius X Magelang, Jawa Tengah itu mulai banyak dipesan, baik dari mahasiswa, DPRD, Dinas Kesehatan Tambrauw, dan juga sejumlah individu.

“Ada mahasiswa Papua di Jerman yang pesan 1000 masker untuk mama-mama Papua di pasar. Bapak Sekda Tambrauw sebanyak 500, DPR Tambrauw, Jery Sedik 500 masker, Kepala Dinas Kesehatan Tambrauw 100 masker, dan juga ibu-ibu yang biasa pesan 20-50 masker untuk di bagi kepada keluarganya,” tuturnya.

Baca Juga:  ULMWP: Aneksasi Papua Ke Dalam Indonesia Adalah Ilegal!

Yubelina Sedik, adik tingkat Maragareta sewaktu mengenyam pendidikan tingkat atas di pulau Jawa mengatakan, mereka berdua merasa bangga bersama-sama menyalurkan kemampuannya melalui menjahit masker.

Karena menurutnya, apa yang dilakukan pihaknya sebagai bentuk kerja sosial, tetapi juga bagaimana belajar kreatif dan mandiri.

“Saya senang dan bangga. Bisa jahit masker untuk mama-mama dan juga dijual. Tidak sia-sia ilmu yang kita telah belajar dan bisa salurkan dengan menghasilkan suatu karya yang mempunyai nilai uang. Semoga suatu saat, kami bisa punya usaha sendiri dan punya banyak karyawaan,” harap Yubelina.

Pewarta: Maria Baru

Editor: Elisa Sekenyap

Artikel sebelumnyaTambah 74 Kasus Baru, 436 Orang Positif Covid-19 di Papua
Artikel berikutnyaDampak Covid-19, Supir Taksi di Sorong Kewalahan Mencukupi Kebutuhan Keluarga