BeritaUji Tuah Rudy dan Edu Resmikan Stadion Lukas Enembe

Uji Tuah Rudy dan Edu Resmikan Stadion Lukas Enembe

ENAGOTADI, SUARAPAPUA.com — Tim sepak bola Papua dan Jawa Timur punya sederet prestasi di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Gambaran kesiapan kedua tim ini bakal diperlihatkan dalam laga eksebisi menandai peresmian Stadion Lukas Enembe dan sejumlah venue, Jumat (23/10/2020) pekan depan.

Pertandingan ini menarik disaksikan walau akhirnya Polda Papua membatasi jumlah penonton. Polda Papua merujuk Maklumat Kapolri sehubungan dengan perkembangan pandemi Covid-19 di Indonesia.

Meski sekadar uji coba, laga ini bisa dikatakan penuh gengsi. Selain ajang mengukur kekuatan kedua tim sesuai persiapannya jelang PON XX tahun depan, pertandingan ini ibarat uji tuah dari dua pelatih sepak bola dari dua generasi berbeda.

Ya, coach Eduard Ivakdalam bersama tim sepak bola PON Papua akan meladeni tim tamu dari Jawa Timur yang dibesut pelatih kawakan, Rudy William Keltjes.

Baca Juga:  Komite Keselamatan Jurnalis Papua Barat dan PBD Resmi Terbentuk

Rudy adalah gurunya Edu. Tahun 2003 Ruddy pernah melatih Edu bersama para pemain Persipura Jayapura. Rudy juga punya catatan panjang kiprahnya bersama sejumlah tim besar di Indonesia.

Apakah dengan demikian, murid akan ‘hormat’ kepada guru? Di lapangan hijau tak kenal hal ini karena jelas mempertaruhkan reputasi pelatih. Lagi pula ini menyangkut harga diri. Kendati hanya laga persabahatan atau uji coba, kemenangan sudah pasti target utama. Apalagi bermain di kandang sendiri. Di stadion yang bakal digunakan sebagai arena pembukaan PON XX tahun 2021.

Bagi Rudy, tak ada misi kalah atau menang dari ajang ini. Ia memimpin timnya ke Jayapura memenuhi undangan dari Panitia Besar Pekan Olahraga Nasional (PB PON) XX Papua.

Baca Juga:  Beberapa Tuntutan TPNPB OPM Kodap VIII Intan Jaya

“Kami hargai undangan, sehingga tadi kami ke Jayapura. Ya, menang dan kalah itu bukan ukuran. Saya kira ini satu kesempatan bagus untuk menguji sejauhmana kesiapan tim sepak bola Jawa Timur,” tuturnya.

Dari Surabaya ia bawa 20 pemain ke Jayapura. Rencananya, kata Rudy, mereka akan diberi kesempatan bermain.

“Saya mau lihat perkembangan tim, dan secara khusus setiap pemain kami,” ucap pelatih berpostur tinggi ini.

Setelah pertandingan eksebisi di Jayapura, Rudy rencanakan evaluasi total. Juga akan dilaporkan ke PSSI dan KONI Jawa Timur agar ditindaklanjuti sebelum pelaksanaan PON XX di Tanah Papua.

Terpisah, Kenius Kogoya, sekretaris umum PB PON XX Papua, menyampaikan terima kasih kepada tim sepak bola Jawa Timur yang telah merespons baik undangan untuk bertanding dalam rangka peresmian Stadion Lukas Enembe bersamaan beberapa venue PON dan Bandar Udara Dortheys Hiyo Eluay, Sentani.

Baca Juga:  Pilot Philip Mehrtens Akan Dibebaskan TPNPB Setelah Disandera Setahun

“Undangan kami direspons baik begitu surat diterima, dan kemarin tim Jawa Timur sudah tiba di Jayapura. Kami menerima mereka dengan sangat gembira,” kata Kogoya, Minggu (18/10/2020).

Ia menambahkan, tim tamu telah menginap di Wisma Atlet Mandala.

“Kami menyiapkan tempat di sana selama seminggu ini.”

Tim sepak bola Jawa Timur tiba di Jayapura, Sabtu (17/10/2020) kemarin, lima hari sebelum laga persahabatan di Stadion Lukas Enembe. Tim dari Kota Pahlawan itu terdiri dari 20 pemain didampingi sembilan orang offisial dan pelatih.

Pewarta: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Freeport dan Kejahatan Ekosida di Wilayah Suku Amungme dan Suku Mimikawee...

0
Ekosida adalah merusak lingkungan dan memusnahkan manusia secara bersamaan khususnya pada wilayah yang mengalami kemiskinan. Ekosida dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang menimbulkan berbagai masalah sosial, budaya dan kesehatan manusia di sekitar lingkungan tersebut. Masyarakat yang terkena dampak ekosida dapat mengalami krisis ekonomi akibat kehilangan sumber daya ekonomi dan pekerjaan. Ekosida juga dapat menimbulkan penyakit yang mematikan pada tubuh manusia dan mengubah budaya serta mengurangi keeratan interaksi sosial antarwarga.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.