ArtikelBego-krasi

Bego-krasi

Oleh: Victor F. Yeimo)*
)* Penulis adalah juru bicara internasional KNPB

Napas dari persatuan adalah demokrasi. Maka, saat demokrasi mati, persatuan itu mati. Untuk hidup, kau harus menghirup udara —yang terdiri dari berbagai kandungan— lalu berhembus untuk hidup.

West Papua dalam NKRI itu mati, karena tidak ada napas demokrasi; dimana Jakarta semaunya bikin UU, Inpres, dan sebagainya, lalu suruh pasukan reaksionernya borjuis lokal dan TNI-Polri paksakan orang Papua terima.

Baca Juga:  Kura-Kura Digital

Saat rakyat galang tolak Otsus, rekayasa demokrasi prosedural kolonial digalang lewat Pilkada, PON, bahkan sensasi peresmian nama besar. Rakyat yang dukung tentu karena komunalisme demokrasi; patron-clan/client; model demokrasi puritan Jokowi-Maruf yang trada nilai operasional.

Kita sedang dibawa masuk dalam demokrasi milik superioritas Jawasentris dan fundamentalis; yang ekspansionis dan anti demokrasi kerakyatan; yang harusnya partisipatoris berlandaskan konsensus bersama, sebagaimana yang kita kenal dalam budaya Melanesia.

Begitulah akal busuk elit penguasa Jakarta, yang pandai umbar “persatuan” tanpa menghargai perbedaan setiap unsur nilai pembentuk persatuan. Karenanya, Indonesia tidak pernah genggam West Papua dalam persatuan demokratik, karena sejak awal hak penentuan nasib bangsa Papua dibunuh dengan rekayasa.

Baca Juga:  Adakah Ruang Ekonomi Rakyat Dalam Keputusan Politik?

Rekayasa tanpa melibatkan orang Papua dalam menentukan apa bentuk Negara Bangsa yang hendak diperjuangkan, diproklamasikan, dan dijalankan Indonesia; yang seharusnya hasil konsensus bersama bangsa-bangsa, sebagaimana yang kita tahu dalam budaya Melanesia.

Saya kira, ini cukup hanya dalam genggaman kolonial Indonesia. Kita bangsa Papua jangan lagi terjangkit penyakit kebiasaan kolonial; yang demokrasi dipasung dan ditutupi dengan jargon “Persatuan”; yang tulis lain, yakin lain, bicara lain, main lain.

Baca Juga:  Musnahnya Pemilik Negeri Dari Kedatangan Bangsa Asing

Napas dari persatuan itu demokrasi kerakyatan; partisipasi, kolektivisme, konsensus, baku dengar, baku kastau, baku bantu. Duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Maka, perjuangan kebangsaan Papua benar-benar memiliki nilai one people one soul one destiny.

Bersatu!. (*)

Terkini

Populer Minggu Ini:

Kepala Suku Abun Menyampaikan Maaf Atas Pernyataannya yang Menyinggung Intelektual Abun

0
“Kepala suku jangan membunuh karakter orang Abun yang akan maju bertarung di Pilkada 2024. Kepala suku harus minta maaf,” kata Lewi dalam acara Rapat Dengar Pendapat itu.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.