BeritaMahasiswa Uncen Bantah Pernyataan Kapolda Papua Soal Bom Molotov

Mahasiswa Uncen Bantah Pernyataan Kapolda Papua Soal Bom Molotov

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura membantah pernyataan Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw yang diberitakan salah satu media, soal penggunaan bom Molotov oleh massa aksi di Perumnas III Waena, Kota Jayapura, Selasa (27/10/2020).

Frengky Ilintamon, mahasiswa Fisip Uncen, mempertanyakan pernyataan tanpa barang bukti itu. Menurutnya, aparat gabungan sengaja mengalihkan isu dengan tuduhan massa aksi bawa bom molotov.

“Sebenarnya itu mobil bekas dan sudah bakarat yang massa aksi bakar di jalan, kemudian meledak, jadi polisi pikir itu mahasiswa bawa bom molotov,” katanya, Kamis (29/10/2020).

Baca Juga:  Pengurus Baru LMA Malamoi Diminta Merangkul Semua Pihak

Pernyataan Kapolda Papua menurut Frengky, omong kosong dan itu dianggap tuduhan murahan.

Kalau saja mahasiswa benar meledakan bom molotov, kata dia, pasti saja polisi juga akan kena dan massa aksi pun sama.

“Aparat ini hanya bikin propaganda saja, nyatanya kami tidak bawa molotov,” ujarnya.

Sementara itu, Emanuel Gobay, direktur LBH Papua, sangat menyayangkan tuduhan aparat gabungan terhadap mahasiswa yang membawa molotov saat berlangsungnya aksi penolakan Otsus jilid II di Perumnas III Waena, Kota Jayapura.

“Itu hanya tuduhan polisi tanpa adanya barang bukti. Kalau benar mahasiswa bawa molotov, polisi bisa tangkap dan adili orang itu,” ujarnya.

Baca Juga:  Inilah Sikap Resmi KNPB Terhadap Agenda Pemilu 2024

Alpius Doo, mahasiswa Uncen, mengatakan, tak benar dengan beredarnya hoax di media sosial yang diklaim TNI/Polri tak menembak massa aksi, menuduh mahasiswa membawa bom molotov dan aksi tersebut ditunggangi oleh organisasi lain.

“Aksi tolak Otsus adalah murni dari mahasiswa dan rakyat Papua, jadi rakyat jangan terlalu percaya dengan postingan-postingan itu di media sosial, apalagi dibilang bawa bom molotov. Tidak benar itu,” tegasnya.

Baca Juga:  Mahasiswa Papua di DIY Tegaskan Lima Sikap Terkait Kriminalisasi Haris dan Fatia

Sementara, Castro Asso, korban kekerasan, mengaku sangat kecewa dengan tindakan aparat gabungan yang sangat represif terhadap massa aksi.

“TNI saja diturunkan tangani massa aksi, itu kan lucu. Negara ini harus tahu diri, karena sudah termasuk di salah satu negara anggota PBB.”

Asso menilai semua itu pembohongan publik yang sengaja dibuat aparat gabungan agar publik percaya.

“Kita semua sudah baku tahu, jadi aparat tidak usah provokasi dengan berita hoax di dunia maya,” ujarnya.

Pewarta: Yance Agapa
Editor: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Pembangunan RS UPT Vertikal Papua Korbankan Hak Warga Konya Selamat dari...

0
“Penegasan ini disampaikan berdasarkan ketentuan bahwa kawasan resapan air dilarang adanya kegiatan yang berpotensi menimbulkan perubahan lingkungan fisik alami ruang untuk kawasan resapan air dan penggunaan lahan untuk bangunan yang tidak berhubungan dengan konservasi mata air sebagaimana diatur pada Bagian V tentang pengaturan zonasi angka 2 Peraturan Daerah Kota Jayapura nomor 1 tahun 2014,” ujar Gobay.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.