ArtikelMengukur Empat Sukses PON XX Papua

Mengukur Empat Sukses PON XX Papua

Oleh: Awikaituma Jr)*
)* Penulis adalah Intelektual Papua

Luar biasa jasa Bapak Gubernur Lukas Enembe, bisa selenggarakan PON di Papua. Itu harga diri orang Papua dan semua yang ada di atas Tanah Papua.

Pada tahun 2016, saya mendengar akan ada PON XX tahun 2020 di Papua. Tetapi sekarang dilaksanakan tahun 2021.

Saat itu ada pemaparan di kantor Gubernur Papua tentang proposal Papua jadi tuan rumah PON XX bersaing dengan provinsi Bali. Saya masih ingat hasil pemaparannya, akan ada empat sukses yang harus diraih di Papua pada tahun 2020 melalui pesta PON.

Empat sukses dimaksud, yaitu:

  1. Sukses tuan rumah
  2. Sukses prestasi
  3. Sukses ekonomi
  4. Sukses pembangunan

Ternyata di dalam agenda olahraga ini ada terselubung target lain, katakanlah “4 in 1” alias empat sukses dalam satu agenda.

Saat itu saya pikir luar biasa momentum PON XX ini.

Kini waktu sudah berlalu, kita sudah di tahun 2021. Panitia sudah kerja luar biasa dan maksimal. PON XX sudah di depan mata.

Lalu, bagaimana mengukur sukses itu?. Kita pikir yang sederhana saja.

Sukses tuan rumah, yaitu para atlet tamu harus merasakan aman, nyaman, kenyang, selama PON di Papua dan puas waktu balik ke daerah masing-masing.

Baca Juga:  Papua Sedang Diproses Jadi Hamba-Nya Untuk Siapkan Jalan Tuhan

Untuk aman ada 4000 aparat TNI/Polri. Untuk nyaman, tergantung bagaimana dukungan rakyat Papua. Untuk kenyang dan puas, apakah  semua akomodasi dicukupkan oleh panitia.

Sukses tuan rumah tidak bisa diklaim oleh Papua, tetapi dinilai dalam hati oleh tamu. Kepuasan itu unsur yang dirasakan, bukan diucapkan.

Kemudian, sukses prestasi. Ada 679 medali emas yang akan diperebutkan di PON XX Papua. Papua sudah target rebut 78 medali emas.

Bagaimana dengan target emas provinsi lain?.

Jawa Barat sudah patok target juara umum dengan 164 medali emas. Jawa Timur target 136 emas. Jawa Tengah target 45 emas. Bali target 30 emas. Sumatera Utara target 21 emas. Sulawesi Selatan target 20 emas.

Nusa Tenggara Barat (NTB) target 17 emas. Aceh target 14 emas. Jambi target 12 emas. Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) target 11 emas, dan Nusa Tenggara Timur (NTT) targetkan 10 emas.

Masih ada provinsi lain juga.

Kalau Papua dapat 78 medali emas, berarti bisa masuk 4 besar. Menurut ramalan saya, posisi ketiga akan ditempati Jawa Timur, sedangkan Jawa Barat dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta akan perebutkan posisi 1 dan 2.

Dan, sukses ekonomi. Siapa akan merasakan sukses ekonomi ini?.

Baca Juga:  Freeport dan Fakta Kejahatan Kemanusiaan Suku Amungme dan Suku Mimikawee (Bagian 3)

Yang jelas, pertama, pengusaha yang kerjakan venue-venue PON.

Kedua, pengusaha yang punya hotel, penginapan dan indekos di 4 klaster PON.

Ketiga, penduduk asli yang punya tempat wisata, karena tamu datang umumnya penasaran dengan alam Papua, bukan sekadar nonton olahraga saja.

Keempat, pengusaha yang punya jasa transportasi: udara, darat, dan laut.

Kelima, OAP dan mama-mama Papua yang punya aksesoris Papua dan kerajinan tangan.

Yang menilai PON Papua sukses ekonomi itu pengusaha dan rakyat, bukan Panitia Besar.

Apakah para pengusaha yang kerja venue ini sudah merata dan ada OAP di dalamnya yang turut mengerjakan?.

Apakah sudah disiapkan jauh hari sebelumnya agar OAP punya hotel, losmen atau indekos?.

Adakah dana PON dipakai untuk tata tempat wisata, rapikan pantai, tata bukit dan rawa yang bisa dikunjungi para tamu PON?.

Apakah sudah ada upaya mendorong OAP punya jasa transportasi yang dipakai tim tamu?.

Apakah sudah disiapkan kerajinan lokal atau mungkin malah datangkan imitasi dari luar?. Misalnya pengadaan noken imitasi, apakah ini cocok dengan visi sukses ekonomi di PON XX?.

Kalau semua itu sudah ok, baru sukses ekonomi. Sekali lagi, yang menilai sukses ekonomi itu rakyat akar rumput, bukan pemilik hotel atau panitia PON.

Baca Juga:  Saatnya OAP Keluar Dari Perbudakan Dosa dan Tirani Penjajahan Menuju Tanah Suci Papua

Terakhir adalah sukses pembangunan. Apa ukurannya?.

Yang jelas sudah ada Stadion Lukas Enembe yang berkapasitas internasional. Sudah ada infrastruktur olahraga yang dibangun dimana-mana. Walaupun belum mantap, dan nampak tergesa-gesa, tetapi dianggap sudah cukup baik. Juga sudah ada pembangunan sarana jalan baru sekitaran venue-venue yang ada serta menuju ke tempat pertandingan olahraga.

Seharusnya target PON XX ini juga sudah terbangun jalan menuju beberapa kawasan wisata di Tanah Papua, dan penataan lokasi wisata. Tetapi, target ini kelihatannya gagal. Tamu-tamu nanti datang kemana kita ajak, dimana yang akan dikunjungi?.

Papua terkenal dengan panorama alam, tetapi mereka sampai di sini tidak nikmati itu karena akses dan lokasi wisata tidak disiapkan.

Bagaimana kepuasan tamu?. Bagaimana sukses sebagai tuan rumah?.

Demikian beberapa gambaran yang terbayang dalam pikiran kami di tahun 2016 dan ikuti apa yang sedang terjadi saat ini. PON XX di Tanah Papua tinggal tiga minggu lagi, semoga PON ini menjadi yang terbaik dari yang baik, bukan terbaik dari buruk. Tetapi kalau jadi PON dengan kategori biasa saja tidak masalah, kita tetap maklumi, ini pesta PON yang terjepit antara Corona dan politik. (*)

Terkini

Populer Minggu Ini:

Hilirisasi Industri di Indonesia: Untung atau Buntung bagi Papua?

0
Pertanyaan bagi pemimpin negara yang sedang mendorong hilirisasi: apakah kebijakan hilirisasi memberikan untung atau buntung (rugi) bagi Papua?. Jika kita berkaca dari pengalaman selama ini, hasil kekayaan alam dikeruk secara besar-besaran dari Tanah Papua, tetapi tidak memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat Papua.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.