BeritaOlahragaJacksen F Tiago Bersama Persipura Terburuk di BRI Liga 1

Jacksen F Tiago Bersama Persipura Terburuk di BRI Liga 1

JAKARTA, SUARAPAPUA.com — Dibesut pelatih asing hebat dengan segudang pengalaman, ternyata bukan jaminan bagi tim sepak bola di kompetisi elit Indonesia. Lihat saja buktinya pada musim ini. Persipura, sang jenderal, harus terjerembap ke zona merah hingga pekan ke-10 BRI Liga 1 musim 2021/2022.

Selama paruh musim ini, penampilan tim Mutiara Hitam —julukan Persipura Jayapura— sangat buruk meski ditangani oleh seorang pelatih bertangan dingin asal negara Brasil, Jacksen Ferreira Tiago.

Jelang pertandingan ke-11 sebelum menutup seri kedua, Persipura belum bangkit dari dasar klasemen sementara.

Posisi Persipura masih di zona degradasi bersama Persiraja Banda Aceh. Dua klub dari ujung timur dan barat Indonesia ini sangat memprihatinkan.

Dari 18 kontestan Liga 1 2021/2022, tiga tim yang ditangani pelatih asing tampil buruk. Selain Persipura, dua klub lainnya adalah PSS Sleman dibawah asuhan coach Dejan Antonic, serta Persija Jakarta bersama coach Angelo Alessio.

Persipura justru yang terburuk di musim ini. Bagaimana tidak, sang jenderal ini hingga pekan ke-10, belum juga beranjak menjauhi zona degradasi.

Ian Kabes dan kawan-kawan bahkan terpaku di urutan kedua paling bawah di atas Persiraja Banda Aceh.

Baca Juga:  Ramai Rumakiek Beringas, Persipura Sikat Kalteng Putra 2-1

Kekalahan beruntun membawa kesebelasan dari Kota Jayapura itu masuk kotak berbahaya. Persipura baru mengoleksi lima poin, tertinggal jauh dari para pesaingnya.

Pemberitaan media massa gencar menyoroti kehancuran Persipura sebagai tim dengan tradisi juara dan banyak melahirkan talenta luar biasa itu.

Bahkan, hasil minor yang telah diperlihatkan sekaligus ikut mencoreng kiprah Jacksen Tiago sebagai pelatih top dan segudang gelar juara bersama Persipura. Pelatih asal Brasil itu pernah membawa Persipura menjuarai Liga 1 pada musim 2008-2009, 2010-2011, dan tahun 2013.

Inilah yang membuat Jacksen kembali ke Persipura. Meski akhirnya harus menjalani dengan hasil paling tidak wajar dan seakan menjadi periode terburuk bagi Persipura maupun coach Jacksen.

Dalam sejumlah sesi wawancara bersama wartawan, Jacksen mengeluhkan sulitnya mencari pemain asing yang ideal. Penyebabnya bisa macam-macam, bisa karena finansial maupun birokrasi.

Badai cedera pemain asing hingga pemecatan Boaz Solossa dan Yustinus Pae pada awal musim juga menjadi tamparan telak. Menyisakan tiga pemain senior di tengah kepungan pemain muda agaknya menjadi bumerang tersendiri bagi Persipura.

“Apapun yang terjadi, kami siap menerima konsekuensinya. Kami tahu bagaimana caranya kerja setiap hari. Saya merasa momentum ini membuat kami berada di posisi paling rendah,” kata Jacksen usai kalah dari Barito Putera, sebagaimana dilansir bola.com.

Baca Juga:  Sore Ini di Cilacap, Mutiara Hitam Siap “Tombak” Hiu Selatan

Mantan pemain Persebaya Surabaya itu beralasan, “Setiap hari kami berpikir bagaimana mencari persoalan dan mengatasinya. Hasil menang, kalah, atau imbang itu sudah biasa dalam situasi sepak bola.”

Kendati begitu, ia tak ingin menjadikannya sebagai kambing hitam dan tetap bertanggungjawab secara penuh terhadap penampilan Persipura di musim ini.

Jacksen mengaku terus berupaya agar skuatnya bisa bangkit dan meraih kemenangan lagi. Pelatih berusia 53 tahun itu masih mencari sumber masalah untuk segera diselesaikan.

“Kami selalu mencoba melakukan sesuatu tindakan kembali ke jalur kemenangan. Kami melakukan sesuatu dalam internal tim. Kami cari apa yang bisa membuat tim ini kembali ke jalur kemenangan,” ujarnya.

Setelah kompetisi pada musim ini digulirkan, Persipuramania terus menerus menyoroti kinerja tim Mutiara Hitam. Termasuk pelatih dan manajemen yang dianggap sangat tertutup dan tak profesional menangani tim sekelas Persipura.

Nama mereka memang sedang diperbincangkan suporter Persipura Jayapura. Bahkan kian menguat tuntutan mengundurkan diri dengan alasan tak kunjung beranjak dari papan bawah klasemen sementara Liga 1.

Baca Juga:  Skuat Persipura Awali Babak Play-off Degradasi Dengan Berat

Memang persaingan di kompetisi Liga 1 sejauh ini tidak hanya berlaku bagi tim berlomba-lomba mencari peringkat terbaik ataupun bagi para pemain yang menjadi tumpuan di timnya masing-masing selama kompetisi bergulir.

Tetapi juga berlaku bagi pelatih yang memimpin skuatnya berlaga di lapangan hijau. Pelatih tentunya paling bertanggungjawab terhadap performa tim.

Persipura, Persija dan PSS adalah tiga tim besutan pelatih asing dengan rapor buruk saat ini. Penampilannya jauh sekali dengan klub lain, misalnya Bhayangkara FC, Persib Bandung, Arema FC, PSIS Semarang, PSM Makassar, Bali United, dan lain-lain.

Bhayangkara FC saat ini tampil perkasa di posisi pemuncak klasemen sementara dengan 25 poin, atau unggul tiga angka dari Persib Bandung yang menempati urutan kedua.

Mempertahankan tradisi juara bagi Persipura sudah tidak bisa. Beranjak keluar dari zona merah adalah perjuangan yang harus dipertaruhkan sang pelatih bersama manajemen untuk menyemangati para pemain agar kembali tampilkan permainan khasnya di lapangan hijau.

Jika itu tidak, turun kasta ke Liga 2 bukan tidak mungkin terjadi. Sebab, sesuai aturan, tiga tim terbawah jatah turun kelas. (*)

Terkini

Populer Minggu Ini:

MRP-PP Minta Penyelenggara Pemilu Berkomitmen Dukung Caleg Putra Daerah

0
"Karena itu, saya berharap buat komitmen dan berikan suara rakyat itu kepada yang punya komitmen untuk membangun Papua Pegunungan, meletakkan fondasi pembangunan. Bukan membeli jabatan untuk kepentingan pribadi dan kelompok tertentu," ungkapnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.