Sejarah Masuknya Padi di Tanah Papua

0
3172
Para wanita Doreri Manokwari sedang menumbuk padi, sekitar tahun 1909-1911. (pustakapapua.com)
adv
loading...

Jalur Perdagangan

Tanah Papua bukanlah pulau penghasil Padi di masa lalu seperti tempat-tempat lainnya di bagian Nusantara. Padi mulai ada dan masuk di tanah Papua sejak adanya kontak dagang antara para orang Papua dan para pedagang Nusantara lainnya. Lambat laun, orang Papua sendiri mencoba menanam Padi yang ternyata hasilnya sangat memuaskan, dan tumbuh subur di beberapa tempat di tanah Papua, jenis padih ini adalah padi gogos. Kebutuhan akan konsumsi beras bagi orang Papua, semakin tinggi. Sehingga beras merupakan komoditas mahal di masa lalu, dan pada masa-masa silam beras masih langka di Papua.

Kemudian meskipun penyebarannya secara progresif cukup mencolok di beberapa wilayah pesisir tanah Papua. Tetapi, belum menjadi kebutuhan pokok prioritas orang Papua. Karena selain sulit didapat, juga sangat mahal dan terutama kosumsi sagu (papeda), ubir jalar (petatas), singkong (kasbi), keladi masih menjadi makanan pokok kehidupan sehari-hari.

Menjelang tahun 1900-an, konsumsi beras mulai meningkat. Mulai dari masa Belanda, Jepang, sampai masa Pemerintahan Indonesia, pasokan beras terus berdatangan dari tempat-tempat penghasil padi. Generasi-generasi baru sudah menganggap makanan pokok utama mereka adalah nasi.

Darimana Padi Berasal?

ads

Dr. F. C. Kamma, menguraikan bahwa Orang Numfor Doreri, mendapat Padi dari Halmahera Maluku. “Orang Numfor bertemu dengan penduduk ini dalam pelayaran mereka ke Tidore dengan cara yang sudah kita ketahui, yaitu melalui seekor anjing. Kepada orang-orang itu mereka berikan beras dan barang-barang dari besi. Padi tersebut ditanam di ladang, dan untuk ini tanahnya ternyata cocok sekali. Di kemudian hari orang-orang Numfor mempertukarkan alat-alat besi yang mereka tempa dengan beras.”

“Dalam waktu-waktu paceklik Amberbaken merupakan tempat pelarian dan berkali-kali orang Numfor dari Doreh pergi kesana. Di sana mereka pun mengadakan upacara adat istiadat sendiri, karena dengan demikian tidak perlu mereka mendatangkan bahan makanan dari jauh. Bahkan di dalam waktu-waktu paceklik di Maluku, perahu-perahu dari Halmahera datang ke Amberbaken untuk mengambil beras. Dengan demikian terjalinlah hubungan dengan berbagai pihak, tetapi ini sekaligus juga merupakan jalan masuknya penyakit dan wabah, antara lain penyakit kusta”. Tulis Kamma, dalam Ajaib di Mata Kita, Jilid 1, hal. 79-80.

Orang-orang Papua pesisir suku Biak-Numfor menyebut padi atau beras “Fas” atau “Bira” dua kata ini juga digunakan oleh orang Maluku (Tidore, Ternate, sbg). Hubungan antara orang Amberbaken dan orang Doreri seperti marga Rumfabe, Rumsayor, Rumbruren, Burwos dengan penduduk setempat sudah ada sejak lama. Seperti telah diuraikan di atas bahwa Amberbaken merupakan tempat penghasil padi di masa itu bahkan musim-musim pacek-lik di Maluku, dilaporkan bahwa perahu-perahu dari Halmahera datang ke Amberbaken untuk mengambil beras. Apakah orang Halmehera kekurangan beras? Sehingga mereka harus jauh-jauh datang ke Papua?

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Nah, rupanya di Maluku khususnya Ternate dan wilayah sekitarnya produksi padi tidak banyak, sehingga tidak mencukupi kebutahan orang Halmahera belum lagi masalah ekonomi yang terjadi di sana. Pada tahun 1800-an, Pieter Bleeker (1819-1870) yang merupakan seorang Dokter dan ahli ikan Hindia Belanda, menulis tentang keadaan yang terjadi di Ternate bahwa di pulau Ternate masyarakat di sana ‘dibebani dengan beban yang harus ditanggungnya yaitu untuk menghidupi sultan berserta keluarganya. Banyak keluarga di sana tidak mampu melakukan ini, akhirnya dari Halmahera, Bacan, Sula, dan lainya harus ikut membantu. Dan para pekerja didesak menjadi pelayan tanpa imbalan, kemudian kebutuhan makanan pokok seperi beras, sagu, pala, dan sebagainya sangat mahal, karena barang-barang tersebut di monopoli oleh sultan dan para pangeran… orang-orang Ternate juga suka menanam buah-buahan, pohon sagu dan ‘sedikit padi… bahkan tidak cukup untuk kebutuhan penduduk kecil’. (Bleeker, 1856:186, 1999) Mungkin inilah yang menjadi alasan utama mengapa orang Halmahera, Tidore/Ternate harus berlayar sampai ke Amberbaken untuk memperoleh beras disana.

Periode 1700-an – 1800-an

Tidak begitu jelas kapan persisnya padi masuk di Papua, khususnya di wilayah Doreri Manokwari Amberbaken. Suku Biak Numfor sudah mengkonsumsi beras tahun 1700-an. Merujuk pada Kamus Inggris – Papua (Biak) tahun 1775, terdapat nama “Bira” yang berarti Beras atau Padi dalam bahasa Tidore. Bukti-bukti tertulis mengenai padi di tanah Papua paling banyak didata pada tahun 1800-an. Selain Amberkan, Manokwari, padi juga ditanam di Raja Ampat.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

“Padi ditanam di Jef Bi dekat Waigama dan di daerah pesisir Waigeo Timur dan Barat, ditanam di tanah kering dan kebanyakan adalah sejenis beras ketan (Oryza glutinosa). Untuk padi, mereka mungkin hanya meminjam satu kata, dari bahasa Numfor yaitu Fas. Kecuali di pesta pernikahan atau pesta lainnya, tidak ada beras untuk dikonsumsi dan hasil panen terutama disajikan sebagai hadiah untuk pemimpin (kepala)”. Tulis De Clerq, dalam De west- en Noordkust van Nederlandsch Niuew-Guinea, 1893, hal.189.

Selain tanaman padi yang diproduksi di beberapa tempat di Papua, beras juga dipasok dari para pedagang Seram, pedagang Makasar, pedagang Arab, dan pedagang China. Dalam catatan Dr. W. R. Baron (Tijdschrift voor Neerland’s Indië, 1876) dia menulis juga tentang kontak dagang antara orang Seram Laut dan orang Papua (Raja Ampat dan Fakfak) yang melakukan barter. Orang-orang dari kepulauan Raja Ampat dan Fakfak menyediakan “kulit kayu Masoi, burung Cenderawasih, Mutiara, Tripang, dll”. Sebaliknya, orang Seram Laut menukarnya dengan “Beras, Kopi, Arak, Tembakau, Besi, dsb”.

Periode Tahun 1900-an

Memasuki abad ke-20, masih pada dinasti Belanda, padi mulai ditanam di beberapa tempat. Misalnya sejak tahun 1908, Padi mulai ditanam di Merauke oleh beberapa orang Jawa disana, kemudian disusul orang Timor pada tahun 1909 juga ikut menanam padi sawah. Hingga tahun 1916, komunitas orang Jawa yang bermigrasi dari Jawa pun bertambah. Tahun-tahun berikutnya, penduduk asli juga ikut menanam padi sawah. Banyak dokumentasi orang Belanda memperlihatkan potret penduduk asli ikut menanam padi dan memanennya.

Penanaman padi sawah di Merauke terus berjalan hingga tahun-tahun setelahnya. Impor beras di Papua meningkat pesat khususnya pada wilayah pesisir tanah Papua, pasar-pasar tradisional di Papua sudah menjual beras dengan harga yang sangat mahal. Di pasar Bosnik, Biak Timur misalnya, para pedagang Cina pada tahun 1900-1920-an, sudah menyediakan beras untuk dijual dengan harga f0.20-f0.30 gulden per K.G. dan kebanyakan masyarakat setempat menukarnya dengan damar. Dan setiap tahunnya impor beras diperkirakan mencapai f100.000 gulden pertahun. (De Bruyn, 1920:179)

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Belakangan Pemerintah Belanda memulai proyek besar. Mereka mendirikan Perusahaan Padi Kumbe yang dalam bahasa Belanda disebut “Koembe Rijstproject” yang persiapannya dimulai sejak tahun 1951-1953 dengan dukungan biaya dari MME (Masyarakat Ekonomi Eropa). Proyek tersebut menggelontarkan dana sebesar 47 juta gulden dengan luas lahan 5000 Hektar. Yang nantinya bisa mencukupi kebutuhan beras di seluruh Nederlands Nieuw Guinea (Nugini Belanda).

Penanaman Padi di Merauke unik, sebab berbeda seperti padi gogos atau beras ketan yang di tanam masa lalu di Manokwari, Amberbaken, dan Raja Ampat. Di Merauke mereka nenamam padi sawah dalam jumlah yang besar dan berhektar-hektar lahannya. Ini membuat Merauke menjadi lumbung pangan pada masa pemerintahan Belanda. Sampai saat ini, abad ke-21, Merauke masih menjadi tempat penghasil beras dan produksinya sudah mencapai berton-ton beras.

Pada masa Netherlands Indies Civil Administration atau yang disingkat NICA pada tahun 1950-an, di beberapa tempat di Papua padi dikembangkan. Di pulau Yapen (Serui), Bagaisewar (Sarmi), Fakfak, Manokwari (Ransiki) padi ditanam disana. Di Manokwari setiap tahun diadakan pameran, dimana mereka memamerkan berbagai hasil pertanian termasuk salah satunya adalah padi ladang.

Bulir-bulir padi yang menguning dari masa ke masa, menjadi sebuah capaian yang luar biasa di atas tanah orang Papua. Sejarah hadirnya beras atau padi dalam kehidupan orang Papua di beberapa wilayah sudah ada cukup lama. Dalam periode waktu, catatan tertulis mengenai konsumsi padi menunjukkan bahwa sudah ada sejak tahun 1700-1950-an. Boleh dikatakan, kehadiran beras di tanah Papua telah merubah pola makan orang Papua, sehingga tidak heran jika beras merupakan makanan pokok orang Papua di abad ke-21. Semoga penanaman padi terus digalakan oleh generasi petani modern orang Papua.

)* Artikel ini disadur dan diterbitkan ulang dari website pustakapapua.com setelah mendapat izin untuk menerbitkan ulang. Anda bisa baca artikel-artikel menarik tentang Papua di pustakapapua.com.

 

 

SUMBERPustaka Papua
Artikel sebelumnyaPSU Pilkada Yalimo Siap Dilaksanakan Pekan Depan
Artikel berikutnyaMemori Kolektif Orang Tentang Penipuan Pepera 1969