Memori Kolektif Orang Tentang Penipuan Pepera 1969

0
2802

“Orang Papua Barat memandang Peristiwa PEPERA sebagai penipuan, sedangkan Jakarta mengingatnya dengan suara bulat”.

Diana Glazebrook (2008), Permissive Residents West Papua refugees living in Papua New Guinea mengungkap narasi-narasi yang hampir  sama tentang penipuan Indonesia dalam Pepera 1069  diingatan setiap orang Papua Barat yang di ajak bicara dalam pengungsian di Awin Timur, PNG.

Act of Free Choice 1969 sebagai bukti utama penipuan Indonesia dalam merebut wilayah Papua Barat. Tidak sesuai dengan “satu orang satu suara”, seperti yang disetujui oleh PBB, Indonesia mengatur 1000 orang diwakili oleh satu orang. Pria Tua yang tidak bisa membaca atau menulis dipilih, delegasi tidak diizinkan berbicara kepada orang-orang luar, tentara menjaga pintu masuk dan delegasi disertai kemanapun mereka pergi.

Delegasi dikondisikan dalam kontrol yang ketat, diberi makanan dengan baik dan diberikan hadia teko, piring, rasio sanyo sepeda dan sepeda motor honda; dan beberapa diberikan perempuan jawa dan bawa ke Jakarta, disana mereka menginap di hotel-hotel mewah.

Dalam akhir periode, 1960-an, barang-barang impor seprti radio Sanyo dan sepeda motor Honda, keduanya sangat mahal, dan jarang dimiliki oleh orang Papua saat itu. Ini adalah hadia pertama dalam serangkaian penipuan yang dilakukan oleh negara Indonesia untuk merebut Papua Barat. Setelah 1969, Papua Barat menjadi sasaran berbagai kebijakan kolonialisasi.

ads
Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Yohanes, seorang pengungsi Papua Barat memberikan kesaksian sambil mengelengkan kepalanya tentang kekecewaann dia dalam menghadapi penipuan Indonesia. “Mereka mengira hidup mereka akan seperti itu dibawa Indonesia. Pada hari pemungutan suara, pemilih diberikan beras dan ikan kaleng, didistribusikan oleh asosiasi lingkungan dan tinta jempol mereka dibimbing oleh petugas pemilihan Indonesia”.

“Dari pesawat disebarkan ribuan pamplet dari langit yang berbunyi: Kami Rakyat Papua Barat, dengan ini, jadilah satu dengan Republik Indonesia”. Tapi sesudahnya, kehidupan kembali seperti semula. “Dalam retropeksi, kami nenyadari bahwa kami telah menjual diri kami sendiri, menjual tanah kami.Taktis pemilihan, penyembunyian, penyuapan dan rayuan dengan benda-benda yang berhubungan dengan kesenagan sesaat”.

Diana Glazebrook (2008) uraikan, rekaman pidato di sebuah upacara peringatan Arfai di Kam Pengungsian di Blackwara Vanimo pada tahun 1987, penetrasi negara Indonesia terhadap Papua Barat dijelaskan dalam hal pohon beringin  yang mencekik.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

“Pohon Beringin adalah sebuah simbol nasional Indonesia. Bagi Orang Papua Barat, pohon ini menampung roh-roh pengawas, itu adalah tempat Setan. Ini pohon anggur yang menjajah, mencekik pohon lampiran dan mendominasi lingkungan. Elang adalah simbol negara. Ia adalah pemangsa dan pemburu yang merebut mangsa dengan kejam. Kedua simbol ini mewakili gaya pemerintah Indonesia”.

“Mengapa orang Papua berkulit hitam tidak dilindungi oleh pohon beringin? Mengapa hak kami tidak sama dengan orang Indonesia lainya dari Jawa, Sulawesi dan Sumatra? Pohon beringin bukanlah tempat perlindungan tetapi sebaliknya, simbol pembunuhan, pelanggaran hak asasi manusia, dan harkat dan merendakan martabat rakyat Papua. Negara Indonesia sama dengan pohon beringin di lingkungan aslinya, mencekik tanaman lain di dekatnya. Tugas utama revolusi adalah menghancurkan beringin sampai akarnya”.

Lebih lanut, Glazebrook menjelaskan, Pohon beringin yang menjajah adalah analogi yang mencolok. Menurut orang Papua secara kosmologi, pohon beringin adalah tempat kejahatan. Menurutnya, analogi ini sulit untuk dijelaskan, apakah berarti sebelum simbol Partai Golkar dan Suharto yang bertindak dalam pengabungan Papua Barat kedalam Indonesia.

Baca Juga:  Penghargaan Musik di Eropa untuk Black Brothers

Pidato Vanimo itu menggambarkan simbol bekas partai yang berkuasa pada masa orde baru, yang mengklaim Papua barat berada dibawa kedok pohon pelindungan, namun sebaliknya, orang Papua mengalami kerentanan terbesar. Pidato itu mengingatkan kembali, pohon beringin bukan sebagai tanda perlindungan atau keselamatan, tatapi tanda berbahaya dan menindas orang Papua.

Aneksasi Indonesia  melalui PEPERA bertujuan untuk merebut Papua barat yang mencirikan sebagai Taman Eden, memberi makan seluruh Indonesia dan  dunia. Ekstraksi sumber daya alam secara besar-besaran dengan hadirnya Perusahaan tambang emas dan tembaga Grasberg, Freeport Indonesia, anak perusahaan PT. Freeport McMoRan. Para transmigrasi Indonesia juga dipandang, lambat laun merampas tanah pesisir dan menyebar  pedalaman, kebiasaan mereka benar-benar menggambarkan model pohon beringin itu. (*)

Tim Riset Suara Papua

Artikel sebelumnyaSejarah Masuknya Padi di Tanah Papua
Artikel berikutnyaAkar Persoalan Papua Masih Tetap Bagaikan Bara Api