BeritaHUT KAPP Dogiyai: Bangkit Mandiri, OAP Harus Kembali Budaya Kerja

HUT KAPP Dogiyai: Bangkit Mandiri, OAP Harus Kembali Budaya Kerja

DOGIYAI, SUARAPAPUA.com — Tak sedikit masalah dan kendala dialami orang Papua selama masa Otonomi Khusus (Otsus) sejak tahun 2001, kendati jargon pemberdayaan masyarakat terus gencar dikumandangkan. Pengalaman selama lebih dua dekade mengajarkan orang Papua harus bekerja keras demi hak hidup di negerinya sendiri.

Setidaknya itu benang merah yang dipetik dari sambutan berbagai pihak pada perayaan hari ulang tahun ke-17 Badan Pengurus Daerah Kamar Adat Pengusaha Papua (BPD KAPP) kabupaten Dogiyai, Kamis (30/6/2022) di aula SMP YPPK St. Fransiskus Asisi Moanemani, Dogiyai.

Arnoldus Douw, ketua BPD KAPP kabupaten Dogiyai, mengatakan, lika-liku dan keluh-kesah selama ini terutama masa pemberlakuan Otsus di Tanah Papua, mendewasakan setiap orang asli Papua harus bangkit hidup mandiri.

“Bagaimana hidup orang Papua harus mandiri merupakan satu perjuangan hari ini. Pada masa Otsus, kenyataan sampai hari ini, arus keuangan dikendalikan oleh pendatang. OAP hanya bisa menonton dan tidak berpartisipasi aktif dalam pembangunan ekonomi yang berlangsung di era Otsus,” ujar Arnoldus.

Empat hal penting dia sampaikan dalam sambutannya.

Pertama, kita OAP mati di dalam noken ubi. Orang lain curi dan makan ubi OAP.

Kedua, entah mengapa, OAP hanya jadi penonton, tidak mampu berpartisipasi dan memperoleh keuntungan ekonomi dari pembangunan yang ada.

Ketiga, setiap OAP wajib punya usaha, hidup hemat, menabung.

Keempat, pengusaha OAP sektor riil dan jasa konstruksi, wajib bersatu dalam KAPP.

Lebih jauh dikemukakan, “Melalui Otsus, memanfaatkan Otsus, kita berusaha menegakkan kemandirian OAP dalam hal ekonomi. Dalam hal ini, melalui sektor pengusaha jasa konstruksi dan sektor riil. Ada banyak kendala, tetapi kita juga tetap berusaha untuk hak kita sebagai orang Papua.”

Baca Juga:  Heboh! Banyak Bangkai Babi di Mimika Dibuang ke Aliran Sungai

Di momentum ini, Arnoldus Douw tak lupa hormat kepada pencetus KAPP.

“Hari ini kita mengenang peran besar dari bapak Johni Wamu Haluk, pendiri Kamar Adat Pengusaha Papua pada tanggal 30 Juni 2006. Beliau orang hebat, yang melihat perlu adanya organisasi bagi orang asli Papua,” pujinya.

Arnoldus juga berterimakasih atas kehadiran Yakobus Dogomo, kepala Bappeda Dogiyai. Begitupun pengurus Dewan Adat Daerah (DAD) Dogiyai, Dewan Adat Daerah Istimewa Tota Mapiha, tokoh gereja, tokoh masyarakat, penggerak ekonomi, tokoh pemuda, serta semua anggota BPD KAPP Dogiyai atas kebersamaannya selama ini.

Yakobus Dogomo atas nama pemerintah daerah mengucapkan selamat merayakan HUT ke-17 KAPP, khususnya KAPP kabupaten Dogiyai.

Kehadirannya sebagai pimpinan salah satu OPD, bukan mewakili bupati, wakil bupati atau Sekda, menekankan posisi KAPP sebagai mitra kerja Bappeda Dogiyai.

Dogomo juga menegaskan, pembangunan ekonomi adalah tujuan pemerintah daerah kabupaten Dogiyai.

“Perlu keterlibatan KAPP dalam pengembangan ekonomi masyarakat Dogiyai,” harapnya.

Menyoal modal usaha, Jack akui, sumber dana Otsus dialokasikan melalui Dinas Koperasi dan UKM Dogiyai.

“Bisa berkomunikasi dengan Dinas Koperasi UKM. Tahun ini anggarannya ada di Dinas Koperasi UKM.”

Selama memenuhi ketentuan, pemerintah pasti merespons baik dalam memberikan modal usaha dan itu diharapkan putra daerah makin berdaya dengan memulai usaha kecil.

“Harapan saya, dari modal usaha yang diberikan, coba pikirkan usaha-usaha yang produktif. Yang mampu berkelanjutan. Harus mulai berusaha, tetapi dimulai dari yang kecil,” kata Dogomo.

Ia juga membandingkan pengalaman sebelumnya, ketika suatu paket pekerjaan usai tak bisa berlanjut lantaran modal nihil.

Baca Juga:  YAPMI Berikan Sarana Air Bersih Bagi Warga Distrik Agandugume dan Lambewi

“Setelah dapat dan kerjakan paket pekerjaan, hasilnya habis seketika. Tidak memanfaatkan pendapatan dari pekerjaan itu untuk menjadi modal usaha. Biasanya uang yang ada langsung dihabiskan,” tutur Jack.

Cenderung konsumtif tanpa memikirkan kelanjutnya diminta dicegah jika mau sukses dan mandiri.

Cara pengusaha luar perlu ditiru, untuk bisa survive apalagi persatuan diantara mereka cukup kuat.

“Ada hal baik yang bisa dipelajari dari pendatang di Papua dalam proses mencari dan menguasai sumber-sumber ekonomi. Kata kuncinya, perlu persatuan pengusaha orang asli Papua.”

Harapan lain disampaikan Alexander Pakage, sekretaris DAD Dogiyai.

Dalam sambutannya Pakage mengingatkan pola hidup masyarakat di kabupaten Dogiyai sebagai bagian dari suku Mee harus kembali ke budaya kerja.

“Budaya kita kerja. Maka, mari kembali kepada tanah dan alam, kita harus manfaatkan tanah dan alam,” ujarnya.

Sifat ketergantungan kepada orang lain, tegas Pakage, bukan budaya orang asli Papua termasuk orang Mee.

“Begitu tercerabut dari alam dan tanah, maka orang asli Papua bisa menjadi miskin,” tegasnya.

Lanjut Pakage, “Orang adat harus bekerja. Harus bekerja untuk mendatangkan uang bagi kehidupannya.”

Untuk itu, setiap anak negeri mesti memulainya dengan usaha kecil-kecilan.

“Harus berani mulai dari yang kecil, berusaha dari yang kecil. Hidup hemat dan menabung,” pesan Alex.

Sembari mengapresiasi keberadaan KAPP, Pakage atas nama DAD Dogiyai berharap kesediaan pemerintah bersama semua stakeholder untuk melihat kembali perkembangan ekonomi kerakyatan.

“Harus ada forum bersama untuk membahas situasi ekonomi di kabupaten Dogiyai,” usul Pakage.

Baca Juga:  Akhir Pekan Bersama “Perempuan Penyembah Malaikat”

Ernest Pugiye dari DAD Istimewa Tota Mapiha, menyampaikan pentingnya ruang untuk bicara soal ekonomi dan masyarakat adat.

“Momentum diskusi antar pengusaha OAP itu penting dibuat. Melalui cerita dan diskusi seperti pada perayaan HUT ini, kita bisa saling menguatkan dan merangkul,” kata Ernest.

KAPP Dogiyai menurut Pugiye oase bagi rakyat Dogiyai. Keberadaannya sangat penting bagi OAP menyatukan kekuatan ekonomi, tetapi perannya kurang dianggap dan tak didukung dengan dana yang memadai.

Selama ini, bebernya, anak negeri terpinggirkan dalam berbagai sisi termasuk dalam usaha ekonomi. Ketidakadilan ekonomi sangat terasa di negerinya sendiri.

“Anak Papua mengalami ketersingkiran dalam mengakses sumber-sumber ekonomi. Sudah saatnya orang asli Papua harus menjadi tuan di negerinya,” tegas Pugiye.

Karena itu, ia yakin semua orang bisa bekerja, tetapi lebih optimal dengan memanfaatkan potensi sendiri. Dalam hal ini penting penguatan potensi dalam diri maupun potensi modal yang ada di sekitarnya.

“Tentu setiap anak negeri punya perbedaan potensi diri dan modal. Maka kembali kenali potensi dan tingkatkan,” imbuh Ernest.

Bastian Tebai, sekretaris BPD KAPP Dogiyai, mengabarkan, pada momentum ini diumumkan pula para pemenang lomba menulis artikel opini kategori mahasiswa dan umum.

Empat nama ditetapkan tim juri sebagai pemenang.

Panitia lomba kemudian berikan hadiah berupa uang pembinaan kepada empat penulis artikel opini tersebut.

Karya mereka bersama sejumlah artikel terbaik pilihan juri, kata Bastian, akan diterbitkan dalam buku berisi kumpulan artikel seputar pembangunan dan kehidupan ekonomi di kabupaten Dogiyai.

Rencana buku bunga rampai tersebut akan diterbitkan dalam waktu dekat.

Pewarta: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Politik Praktis dan Potensi Fragmentasi Relasi Sosial di Paniai

0
Politik praktis ini sebagai satu momentum yang disediakan ruang kepada rakyat, sebagai pemilik pesta atau kegiatan rakyat untuk menentukan nasib hidup ke depannya, dengan memperhatikan masa lalu dan kini atas situs-situs potret HAM yang akan melibatkan dan diatur melalui urusan-urusan atau putusan-putusan dan perjuangan pemimpin mereka yang akan terpilih.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.