ArtikelPresiden RI Giat Kunjungi Papua: Benarkah Jokowi Mencintai Papua?

Presiden RI Giat Kunjungi Papua: Benarkah Jokowi Mencintai Papua?

Oleh: Selpius Bobii)*

)* Koordinator Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDRP2)

“Pak Jokowi cinta mati sama Tanah Papua dan sama orang-orang asli Papua,” kata Billy Mambrasar, staf khusus presiden RI, Joko Widodo (sumber: https://m.jpnn.com/amp/news/billy-mambrasar-pak-jokowi-sangat-mencintai-papua).

Apakah memang benar presiden Jokowi dan orang-orang Indonesia mencintai Tanah Papua dan orang asli Papua? Mari kita memahami dua hal ini: Cinta Tanah Papua dan Cinta Orang Asli Papua.

Ya, benar bahwa motivasi NKRI mencaplok Papua ke dalam NKRI adalah karena mencintai Tanah Air Papua. “Papua bagai surga kecil yang jatuh ke bumi,” kata artis Papua, Edo Kondologit. Tanah Air Papua tersohor di mata dunia karena keindahan alam Papua yang indah mempesona dan kekayaan alam Papua yang melimpah.

Ketertarikan presiden Jokowi sama persis dengan presiden sebelumnya (kecuali Gus Dur) bahwa kecintaan mereka adalah kecintaan kepada tanah air dan isinya, bukan kecintaan kepada orang asli Papua. Emas Papua adalah daya pikat mereka, bukan Mas Papua (OAP).

Presiden Jokowi semakin giat mengunjungi Papua, kini sudah mencapai 13 kali kunjungan, terakhir berkunjung ke Papua antara tanggal 29 sampai dengan 31 Agustus 2022. Tetapi nyatanya hingga kini presiden Jokowi belum mewujudkan Papua Tanah Damai. Jokowi belum pernah mewujudkan janji-janjinya, khususnya dalam penyelesaian kasus-kasus HAM Berat dan distorsi sejarah masa lalu.

Justru di bawah kepemimpinan presiden Jokowi, berbagai macam konflik semakin meningkat di seluruh Tanah Papua. Setiap hari ada gejolak, ada konflik, ada masalah. Hampir setiap hari orang mati dibunuh, baik nyata maupun terselubung; hampir setiap hari terjadi kontak senjata antara TPNPB OPM dan TNI Polri adalah bukti bahwa Papua terus membara. Konflik yang menelan korban yang tidak sedikit adalah konflik antara ideologi Papua Merdeka harga mati dan NKRI harga mati.

Baca Juga:  MRP Berhak Memutuskan Hak-Hak Dasar Orang Asli Papua

Jikalau presiden Jokowi mencintai Tanah Air Papua dan Orang Asli Papua, maka sesungguhnya masalah status politik bangsa Papua sudah lama dibahas dan dituntaskan. Mengapa? Karena akar masalah di Tanah Papua antara bangsa Indonesia dan bangsa Papua adalah masalah pencaplokan bangsa Papua ke dalam NKRI dengan sewenang-wenang. Singkat kata, “distorsi sejarah” yang masih menjadi duri dalam tubuh NKRI.

Presiden ganti presiden sudah berusaha membangun Tanah Papua selama 57 tahun dari tahun 1963, tetapi nyatanya pembangunan bias pendatang yang sudah nampak, bukan membangun orang asli Papua. Terbukti bahwa indeks pembangunan manusia (IPM) masih rendah di dua provinsi, baik Papua dan Papua Barat, ketimbang provinsi lain di Indonesia. Ini sudah menunjukkan bahwa dari sisi pembangunan sudah gagal total, apalagi perlindungan dan penghormatan hak-hak dasar orang asli Papua, terutama jaminan hak hidup orang asli Papua.

Kunjungan presiden RI kali ini (29 – 31 Agustus 2022) ke Tanah Papua bukannya membawa kabar baik, tetapi presiden Jokowi membawa kabar buruk. Menjelang kedatangan presiden Jokowi, di Timika ada 4 orang warga sipil asli Papua asal Ndugama dimutilasi oleh 6 anggota TNI dan tiga warga pendatang. Juga, sewaktu presiden RI berada di Tanah Papua, ada pula beberapa orang warga asli Papua dikeroyok dan disiksa oleh TNI dan Polri di Merauke, sehingga satu orang warga asli meninggal dunia, dan seorang warga asli Papua ditemukan tewas di Timika saat presiden RI bermalam di Timika.

Baca Juga:  Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah di Tanah Papua Harus OAP, Aspirasi Lama

Peluncuran Football Akademi Papua yang dilakukan oleh presiden RI di Stadion Lukas Enembe pada 31 Agustus 2022 adalah bukan kebutuhan yang paling penting dan mendesak. Itu bukan sebagai penghargaan kepada orang asli Papua. Dalam pandangan Indonesia, orang Papua itu senang dengan pertandingan olahraga lebih khusus sepak bola, sehingga untuk mengalihkan perhatian orang Papua, diluncurkanlah akademi sepakbola Papua itu yang dananya dibiayai oleh PT Freeport Indonesia.

Jika presiden Jokowi punya kepedulian, kenapa tidak membangun akademi di bidang lain yang dapat memajukan SDM orang asli Papua? Itu adalah gula-gula politik presiden Jokowi kepada orang asli Papua.

Presiden RI juga berangkat ke Timika pada jam 12 siang. Di sana ia bertemu dengan para karyawan PT Freeport Indonesia. Rupanya agenda yang paling penting dalam kunjungan ke Papua adalah agenda di Timika itu. Di sana ia bertemu khusus dengan presiden PT Freeport Indonesia, tuan Richard Adkerson. Di Jayapura, presiden RI memberi gula-gula politik dengan peluncuran akademi football, dan di Timika ia bermufakat dengan pimpinan PT Freeport untuk semakin giat merampok kekayaan alam Papua yang hasilnya untuk menutupi utang luar negeri Indonesia yang akan dibayar jatuh temponya pada tahun 2023.

Baca Juga:  Operasi Militer: Kejahatan HAM dan Genosida di Papua

Memang presiden Jokowi lebih licik dari pada presiden sebelumnya dan sama kejam dengan presiden Soeharto. Di bawah komando presiden Jokowi yang kelihatannya adem ayem itu, tetapi paling getol dalam membantai orang asli Papua melalui berbagai strategi dan taktik melalui kaki tangannya. Presiden RI dan jajarannya sudah sukses membangun Papua Tanah Darah, sehingga upaya untuk mewujudkan Papua Tanah Damai semakin jauh dari impian.

Camkanlah bahwa gula dan air bisa menyatu jika diaduk, tetapi dua ideologi antara Pancasila dan Mambruk tidak akan pernah menyatu walaupun diaduk berulang kali. Sampai dunia kiamat pun tidak akan pernah menyatu, hanyalah akan ada konflik yang berkepanjangan yang tentu memakan korban di kedua belah pihak, baik Indonesia maupun Papua.

Kunjungan presiden RI kali ini ke Papua jika Tuhan kehendaki, kunjungan ini kunjungan yang terakhir. Presiden RI kembali ke pusat sarangnya di Jakarta untuk mengatur strategi selanjutnya untuk terus menjajah Papua, tetapi saya mau beritahu bahwa rencanamu pasti akan gagal.

Tanah Papua adalah milik Tuhan, maka Tuhan sedang siap berdiri di ambang pintu untuk menegakkan keadilan bagi bangsa Papua indah pada waktu Tuhan.

Sampai kita bertemu pada waktu Tuhan untuk bertemu berbicara nasib dua bangsa antara Indonesia dan Papua yang setara indah pada waktu Tuhan. “Bagi Tuhan tak ada yang yang mustahil”. (*)

 

Jayapura, Kamis, 1 September 2022

 

Terkini

Populer Minggu Ini:

Aparat Kepolisian Diminta Segera Tangani Konflik Antara Masyarakat Asolokobal dan Wouma

0
“Jangan terus pelihara setiap persoalan dengan penyelesaian dengan bayar membayar dengan ternak dan uang. Karena apapun alasannya, yang jadi korban adalah nyawa manusia yang tidak bisa disandingkan dengan ternak dan nilai uang. Oleh sebab itu aparat segera bertindak dan memproses para pelaku sebelum konflik ini meluas dan memakan korban,” tukas Henius.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.