Kisah Para Pedagang Cina di Bosnik, Biak

0
2379

ETNIS Tionghoa atau yang sering kita kenal sebagai orang Cina memiliki jiwa dagang yang tinggi, mereka memasuki berbagai tempat terpencil hampir di seluruh pelosok pulau-pulau Nusantara. Jejak-jejak mereka terekam dalam berbagai catatan tempo dulu bahkan generasi mereka sampai hari ini masih dapat kita jumpai di berbagai daerah di Indonesia.

Orang Tionghoa terdiri dari berbagai kelompok-kelompok suku seperti Kanton, Tiociu, Khek (Hakka), dan sebagainya. Di Papua mereka tidak asing lagi, hampir di setiap daerah di Papua ada orang Cina, bahkan perkawinan antara orang Papua dan Cina memiliki identitas tersendiri di bumi Cenderawasih. Seperti ada istilah PERANCIS (Peranakan Cina Serui), CIKO (Cina Korido), Cina Sowek dan sebagainya.

Periode 1600-1700-an

Masuknya Pedagang Cina di pulau Biak khususnya di Bosnik tidak diketahui dengan pasti. Tapi ada sedikit petunjuk mengenai keberadaan mereka di pulau Biak. Penjelajah Belanda Jocob Le Maire dan Willem Corneliz Schouten berlayar hingga di kepulauan Padaido, Biak Timur pada tahun 1616 di sana Jacob le Maire, melihat penduduk Padaido ada yang memiliki porselen Cina dan manik-manik berwarna kuning”. (Kamma, 1972:41), apakah mungkin para pedagang Cina sering berlayar ke Biak? mungkin saja namun tidak selalu sebab pada periode tahun 1600-an kebanyakan pelaut Biak yang sering berlayar ke Halmahera untuk melakukan barter kemudian membawa pulang berbagai barang berharga seperti kain timor, senjata, piring porselen cina, manik-manik, budak dan berbagai jenis barang.

Komoditas barter yang sering di bawa orang Bosnik ke Maluku adalah amber (ambergris), budak, burung, kulit penyu, sagu, mutiara, tripang, samfar dan barang dagang lainnya. Mereka sering berdagang hingga ke Tidore, Ternate untuk menukarnya dengan para pedagang China, Bugis, Makassar, Ternate-Tidore.

ads

Roorda van Eysinga, Philippus Pieter (1796-1856) dalam bukunya Handboek der Land-en Volkenkunde, Geschied-, Taal-, Aardrijks en Staatkunde van Nederlandsch Indie volume II (1841), dia menulis tentang situasi perdagangan di pulau Jailolo, Halmahera Barat pada 1600-1700-an. Mengenai orang Papua, dia mengatakan bahwa di pulau Jailolo (Batu China) orang Papua terlibat. “Ekspor terdiri dari Emas, Mutiara, Penyu, Sarang burung Walet, Sagu, Tripang, Rempah-rempah dan buah-buahan. Orang Bugis, Orang Papua dan Orang China berdagang di pulau ini”. (Pieter, 1841: 271)

Periode 1800-1900-an

Dalam analisa penulis bahwa pada periode 1600-an dan 1700-an belum ada orang Cina yang menetap di Bosnik dan sekitarnya. Memasuki periode tahun 1800-an barulah ada pedagang Cina yang menetap di Bosnik khususnya di kampung Manduser. Ketika getah damar memiliki prospek yang bagus dalam dunia perdagangan dunia, para pedagang Cina membaca peluang tersebut, dan Bosnik merupakan salah satu penghasil terbesar damar di pulau Biak.

Copal damar mulai diperdagangkan di Bosnik pada tahun 1800-an, kedua zendeling kawakan J. L. VAN HASSELT dan W. L. JENS sewaktu berkunjung ke Bosnik pada 10 Juli 1882, Van Hasselt mengamati bahwa , ‘dalam beberapa tahun terakhir orang Bosnik sudah menjual ribuan pikol damar’. Menurut laporan lain di masa itu sudah ada pedagang Cina di kampung Manduser. Mengingat damar merupakan komoditas yang menguntungkan, banyak pula orang Cina mulai berdatangan ke Biak dan tinggal di Bosnik. Wilayah Bosnik dan Mokmer menjadi tempat strategis untuk transaksi dagang. Karena prospek perdagangan dan pertumbuhan ekenomi mulai nampak, para pedagang Cina, masyarakat setempat maupun pemerintah Belanda mulai mengelolanya. Selain para pedagang Cina, ada juga pedagang Bugis-Makkasar, orang Eropa, dan Orang Maluku.

Rumah Perdagangan di Bosnik pada tahun 1927. (pustakapapua.com)

Dalam arus perdagangan ini, ada pergolakan yang timbul yang membuat pembantaian seorang pedagang, yaitu kapten H. C. Holland dan tiga rekan bisnisnya. Kapal mereka diserang oleh Korano Baibo Morin yang berasal dari kampung Bosnik pada 22 Juli 1886. Bersama para Manbri dari kampung Mokmer mereka menyerang kapal Coredo hingga terbunuh sang kapten Belanda. Peristiwa ini, tidak memadamkan perdagangan, pemerintahan Hindia-Belanda terus memantau perkembangan perdagangan di kepulauan Biak, dan terus menempatkan pos-pos pemerintahan.

Sejak 1800-an hingga 1900-an, beberapa pedagang Cina yang menetap dan membangun bisnis mereka di Bosnik adalah Pan Tjin Lok, Oej Tjioe, Ang The, Lin Teng, Oei Ling, Oei Pin Boo, Ngo Nai, dan Tan (Tania), Kho, Thung, Soe, Kho (Kho Hon Gan), Lee, dsb. Pedagang Cina ini ada yang menikah dengan orang Bosnik, maupun dengan penduduk pulau Biak dari kampung lainnya. Seperti beberapa keluarga Tan di Biak (Bosnik) moyang mereka awalnya datang kepulau Yapen, Serui dan berdagang di sana, belakangan turunannya datang ke Biak. Banyak anak-anak mereka yang lahir di Bosnik, dan di kampung Inofi-Manduser kita bisa melihat kuburan-kuburan tua orang-orang Cina.

Sejak 1910-1937, produksi damar Bosnik mencapai 6980 ton. Dr. W.C. Klein juga melaporkan bahwa Nederlandsch Nieuw-Guinea mengekspor hampir 1000 ton damar lebih banyak dari tahun sebelumnya yaitu mencapai angka 2.574 ton pada tahun 1937. Dan pada tahun 1937, Bosnik menghasilkan 231 ton (Jurnal De Handel Van Nederlandsch en Australisch Nieuw-Guinea, 1934, hlm. 255). Ekspor damar Nieuw Guinea ke beberapa negara seperti Jepang, Cina, Afrika, Australia, Amerika dan Eropa.

Hingga hari ini masih dapat dijumpai orang Cina dan keturunan peranakan Cina-Biak di Bosnik. Beberapa keturunan Cina banyak tersebar di pulau Biak dan Supiori ada yang masih tetap menjalankan bisnis mereka. (*)

)* Artikel ini disadur dan diterbitkan ulang dari pustakapapua.com setelah mendapat izin untuk menerbitkan ulang dari pengelola situs web Pustaka Papua. Anda bisa membaca artikel-artikel menarik tentang Papua di PustakaPapua.com

SUMBERPustaka Papua
Artikel sebelumnya130 Orang Tewas Akibat Kerusuhan Usai Pertandingan Arema FC Vs Persebaya
Artikel berikutnyaTidak Berani Memproses Pelaku Pelanggaran HAM Berat Paniai 2014