BeritaTitus Pekei Persoalkan Legalitas Yayasan Noken Papua

Titus Pekei Persoalkan Legalitas Yayasan Noken Papua

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Titus Pekei, pendiri Yayasan Noken Papua yang hadir bersamaan perjuangan pengesahan Noken sebagai warisan budaya Papua oleh UNESCO pada 4 Desember 2012 mempertanyakan munculnya satu lembaga lain dengan nama yang sama.

“Ternyata ada nama Yayasan Noken Papua lain juga. Yayasan Noken Papua yang sebenarnya sudah ada sejak sebelumnya, tetapi ada kelompok lain dirikan yayasan dengan nama yang sama. Heran, mengapa harus pakai nama yang sama? Itu tidak boleh. Sudah menyalahi aturan. Pemerintah sampai bisa loloskan sebuah lembaga baru dengan nama yang sebelumnya telah disahkan. Ini harus diperjelas,” ujarnya kepada suarapapua.com, Senin (28/11/2022).

Perjuangan yang dilalui Titus Pekei cukup panjang hingga Noken Papua disahkan UNESCO sebagai warisan budaya takbenda yang membutuhkan perlindungan mendesak. Prosesi pengesahan disaksikan 640 orang perwakilan 148 negara anggota UNESCO. Pada saat itu komunitas kebudayaan dunia takjub bahkan terharu sama Noken Papua.

Karena itu, cara-cara tidak etis yang hanya mau merendahkan hakikat Noken sebagai warisan budaya dunia asal Papua itu diminta segera dihentikan.

“Dugaan saya dengan munculnya nama yayasan yang sama dengan yang saya dirikan itu, mereka punya tujuan tertentu. Pasti tujuannya lain dengan Yayasan Noken Papua yang resmi saya dirikan,” kata Pekei.

Baca Juga:  MRP-PBD: Pemkab Sorong Wajib Melindungi Masyarakat Adat Moi

Menghindari kesan berbeda di tengah masyarakat adat Papua, ia sarankan agar lembaga tersebut ganti namanya.

“Saya mohon, segera ganti nama sesuai tujuannya. Tanpa pakai nama Yayasan Noken Papua.”

Titus tegaskan, keberadaan dua lembaga dengan satu nama yang sama tidak hanya berpotensi diseret ke rana hukum, tetapi juga terkesan buruk terhadap upaya penyelamatan Noken Papua yang merupakan budaya luhur orang Papua semenjak turun temurun.

“Yayasan Noken Papua itu pendirinya saya. Kalau kemudian ada yayasan dengan nama sama, saya katakan itu tidak sah. Itu ilegal. Apalagi dengan melakukan kegiatan lain di luar dari konteks filosofi noken, berarti diidentifikasi sebagai perobek noken mama Papua di Tanah Papua,” kata Titus.

Informasi yang didapat, mereka sedang bergerak di Papua tanpa sepengetahuan penggagas noken Papua di UNESCO yang juga pendiri sekaligus pemilik Yayasan Noken Papua.

“Setelah cek, ternyata diklaim oknum tertentu. Boleh saja sebagai pendiri, tetapi masalahnya nama lembaganya sama. Hal begini seharusnya tidak terjadi. Ini tidak dapat diterima. Kami minta segera bekukan nama Yayasan Noken Papua yang tidak diketahui oleh penggagas dan pejuang noken Papua di UNESCO,” ujarnya sembari mengingatkan hal ini mesti dipahami sesama orang Papua asli ataupun pendatang.

Baca Juga:  Gerakan “All Eyes on Papua” Viral, Perjuangan Kembalikan Tanah Adat!

Sekalipun diklaim memiliki akta notaris dan sertifikat pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM RI, tetapi menurut Titus, herannya pakai nama Yayasan Noken Papua. Sementara nama Yayasan Noken Papua sudah ada dari sejak lama.

Diduga ditunggangi motivasi lain dengan hadirnya lembaga baru dengan nama yayasan yang resmi sudah ada, legalitasnya bisa diuji.

“Sangat aneh, ada nama yayasan yang sama. Mengapa pemerintah bisa izinkan nama yayasan yang sudah ada di Papua? Apa motivasinya? Apa tujuannya? Selama ini apakah sudah aktif dan turut berkontribusi dalam seluruh perjuangan kami?,” tuturnya.

Tokoh sentral dalam perjuangan membawa Noken Papua diakui UNESCO itu menyatakan, nama lembaga tersebut segera dibekukan dan diganti.

“Sekali lagi, saya minta nama yayasan itu segera diganti. Sekalipun ada kerja sama dengan lembaga tertentu di Papua,” tegas Pekei.

Baca Juga:  Rakyat Papua Menolak Pemindahan Makam Tokoh Besar Papua Dortheys Eluay

Titus juga menyampaikan kepada komunitas pengrajin Noken Papua tidak mudah terpengaruh dengan segala macam pendekatan yang terus dibangun di Tanah Papua.

Masyarakat adat terutama pewaris Noken Papua diakuinya telah paham bahwa di tanah ini tiada henti dijejali aneka masalah yang tak ada ujungnya.

“Papua dibuat banyak masalah. Manusia Noken diperhadapkan dengan berbagai cara yang dirancang khusus dengan tujuan akhir yang berbeda. Mama Noken Papua sadar bahwa ada pihak perobek Noken masuk dengan berbagai cara di tanah ini,” tandasnya.

Beberapa mama pengrajin Noken Papua di Jayapura, mengaku tak tahu kalau ada lembaga baru dengan nama yang sama, Yayasan Noken Papua.

Mama Marselina bahkan heran dengan hadirnya lembaga yang namanya sama persis dengan pendiri Titus Pekei, pejuang Noken Papua di UNESCO.

“Selama ini kitong tau itu cuma satu saja, tetapi ada yayasan baru dengan nama yang sama itu aneh sekali. Kami marah karena itu sama saja dorang sudah tidak hargai,” ujar Seli.

Pewarta: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Kunjungi Warga Pengungsi di Nabire, Pj Bupati Paniai Minta Berdoa

0
"Situasi di daerah kita, Bibida, saat ini sedang kurang kondusif. Semua sudah tinggalkan kampung halaman. Kami tidak tinggal diam. Beberapa langkah sudah kami lakukan. Harapannya, situasi segera pulih supaya bisa kembali ke rumah," kata Martha Pigome.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.