Banyak kuburan baru di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Kilo Meter 6, Dekai, kabupaten Yahukimo. (Dok. KNPB)
adv
loading...

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Yahukimo merilis angka kematian selama tiga bulan terakhir sejak Mei 2023, mencapai 100 orang.

“Meningkatnya angka kematian di Yahukimo dari bulan Mei sampai Juli 2023 ini bagian dari genosida massal orang Papua. Ini satu ancaman serius,” tulisnya dalam siaran pers, Kamis (27/7/2023).

Diuraikan, di Dekai sebagai ibu kota kabupaten Yahukimo, selama tiga bulan terakhir ini angka kematiannya sangat tinggi. Bahkan kasus kematian massal terus terjadi hingga kini.

Lanjut ditulis, “Wabahnya dimulai sejak 1 Mei 2023 hingga sekarang sudah memasuki bulan ketiga. Dalam tiga bulan ini kami menghitung di kuburan sudah mencapai 100 orang. Belum termasuk dari bulan Januari dan Februari lalu.”

Baca Juga:  Panglima TNI Didesak Tangkap dan Adili Prajurit Pelaku Penyiksa Warga Sipil Papua

Dari pendataan KNPB, tempat pemakaman umum (TPU) Kilo Meter 6 terdapat banyak kuburan baru. Itu artinya ada orang yang meninggal. Setelah didata, dalam sehari, korban meninggal dunia lima sampai tujuh orang. Bahkan didapati 10 orang meninggal.

ads

“Di lokasi pemakaman umum Kilo Meter 6, hampir 100 lebih orang dimakamkan. Hasil survei kami di lapangan membuktikan.”

Satu dari beberapa kuburan baru sejak Mei-Juli 2023 di TPU Kilo Meter 6, Dekai. (Dok. KNPB)

Fakta ini menurut KNPB belum pernah disinggung pemerintah daerah. Termasuk DPRD juga tidak pernah bicarakan kasus kematian tersebut.

Nifal Enggalim, sekretaris KNPB Yahukimo menilai ada banyak faktor yang bisa diduga sebagai penyebab tingginya kematian di kabupaten Yahukimo.

“Ada dua faktor menurut kami. persoalan pertama, pendulangan emas ilegal yang menggunakan excavator untuk beroperasi di Yahukimo. Karena lokasi pendulangan dengan alat berat itu letaknya berdekatan dengan kota, karena dari limbah emas itu bisa jadi faktor meningkatnya angka kematian,” ucapnya.

Baca Juga:  PWI Pusat Awali Pra UKW, 30 Wartawan di Papua Tengah Siap Mengikuti UKW

Agak repot lagi, lanjut Nifal, penanganan medis di RSUD Dekai kurang bagus hingga banyak pasien tidak tertolong.

“Diduga juga intelijen menyusu di rumah sakit. Karena tahun 2010 sampai 2015, ada intelijen menyamar jadi tenaga medis dengan tujuan buruk. Sekarang saat angka kematian meningkat bisa benar dengan dugaan bahwa ada keterlibatan intelijen di rumah sakit,” ujarnya.

Praktik terstruktur tersebut diduga sebagai biang meningkatnya angka kematian di Yahukimo yang kemudian berhasil mekarkan provinsi Papua Pegunungan.

Baca Juga:  PTFI Bina Pengusaha Muda Papua Melalui Papuan Bridge Program

“Oknum tertentu sengaja dipasang untuk kerja ekstra demi kepentingan jabatan di provinsi baru, sementara penguasa memperkuat militer non organik untuk bekerja juga sebagai tenaga medis agar leluasa basmi orang asli Papua terlebih khusus rakyat Yahukimo,” tandas Nifal.

Tuntutan KNPB

Mencermati fenomena tersebut, KNPB menyampaikan beberapa tuntutan kepada pemerintah.

  1. Pemerintah kabupaten Yahukimo harus serius menangani persoalan kematian massal masyarakat Yahukimo.
  2. Pemerintah segera mencari solusi alternatif lain untuk menyelesaikan persoalan genting yang sedang dialami masyarakat Yahukimo.
  3. Segera pecat militer bertopeng tenaga medis yang bekerja di RSUD Dekai.
  4. Hentikan pendulangan emas ilegal dengan menggunakan excavator.
  5. Kepada pembela Hak Asasi Manusia (HAM) se-Papua tolong investigasi kasus kematian di kabupaten Yahukimo. []
Artikel sebelumnyaIzin Lingkungan Hidup PT IAL Tak Libatkan Warga Marga Woro dan Suku Awyu
Artikel berikutnyaKritik dan Saran Terhadap Proses Pemilihan Anggota MRP Pokja Agama di Provinsi Papua Tengah