Tanah PapuaDomberaiSD Inpres 11 Konda Jadi Percontohan Sekolah Sepanjang Hari

SD Inpres 11 Konda Jadi Percontohan Sekolah Sepanjang Hari

SORONG, SUARAPAPUA.com — Samsudin Anggiluli, bupati Sorong Selatan, melaunching Sekolah Sepanjang Hari (SSH) dan SD Inpres 11 Konda, distrik Konda, kabupaten Sorong Selatan, dijadikan percontohan pertama, pada Sabtu (11/11/2023).

Bupati Samsudin Anggiluli mengatakan, kebijakan SSH demi membangun sumber daya manusia (SDM) Papua terutama anak-anak Papua di kabupaten Sorong Selatan, Papua Barat Daya.

Ia berpendapat, penetapan SSH di SD Inpres 11 Konda karena di kampung itulah mayoritas anak asli Papua hidup dan berkembang. Sekaligus ia ingin menghapus stigma kampung adalah wilayah tertinggal dengan berbagai cap kemiskinan dan kebodohan.

“Hari ini kita memulai suatu peristiwa bersejarah di dalam perjalanan pemerintahan dan pembangunan masyarakat di kabupaten Sorong Selatan. Hari ini kita meletakkan dasar-dasar yang kuat untuk peningkatan SDM Papua di kabupaten ini. Hari ini kita memulai Sekolah Sepanjang Hari (SSH) tingkat sekolah dasar di kampung. Mengapa kita memulai SSH di kampung seperti di kampung Konda ini? Karena di kampunglah orang-orang asli Papua bermukim. Di kampung-kampung kebanyakan manusia Papua lahir, di kampung-kampung mereka menjalani kehidupan, dan di kampung-kampung pula mereka meninggal dunia. Tetapi, kampung selama ini sering disamakan dengan ketertinggalan, kemiskinan dan kebodohan. Kita berupaya dan ingin menunjukkan bahwa anggapan seperti itu tidak benar. Pendapat seperti itu sama sekali keliru. Kita bertekad untuk menunjukkan kepada masyarakat luas, bahwa perubahan ke arah hidup yang lebih baik, lebih adil, dan lebih sejahtera, justru dimulai dari kampung-kampung di Sorong Selatan,” tutur Samsudin Anggiluli, melalui siaran pers Humas Setda kabupaten Sorong Selatan, yang diterima suarapapua.com, Senin (13/11/2023).

Bupati menyatakan launching SD Inpres 11 Konda sebagai contoh awal. Tahun 2024, SD di kampung akan dijadikan SSH sebanyak mungkin, sehingga semua SD menjadi SSH di Sorong Selatan. Tujuan SSH agar mendapat perhatian penuh dari pemerintah daerah.

Model SSH adalah anak-anak ke sekolah, mandi di sekolah. Mereka sarapan bergizi, mendapatkan pendalaman iman dan spiritual sebelum menerima materi pelajaran di ruang kelas.

“Hari ini kita launching SSH di SD Inpres 11 Konda. Ini program percontohan. Tahun depan, 2024, akan lebih banyak lagi SD yang berlokasi di kampung-kampung di Sorong Selatan yang akan dijalankan dengan model SSH. Demikian pula di tahun-tahun berikutnya hingga semua sekolah dasar di Sorong Selatan menjadi SSH. Mengapa SSH menjadi jalan yang kita tempuh? Mengapa kita percontohan SSH di SD Inpres 11 Konda? SSH memungkinkan anak-anak kita untuk memperoleh pelayanan lengkap dari pemerintah. Mereka masuk lebih pagi. Mereka mandi di sekolah, mengenakan pakaian seragam dan sepatu dengan rapi di sekolah, mereka sarapan dengan makanan yang bergizi di sekolah. Tidak kalah penting juga adalah mereka memperoleh pembinaan rohani dan spiritual pada pagi hari, sebelum mereka mulai belajar,” bebernya.

Baca Juga:  Oknum TNI AL Ancam Jurnalis, Komnas HAM Bilang Kemerdekaan Pers Belum Berlaku di Papua
Bupati Samsudin Anggiluli saat menyampaikan sambutan pada launching program Sekolah Sepanjang Hari (SSH) di SD Inpres 11 Konda, distrik Konda, kabupaten Sorong Selatan, Sabtu (11/11/2023). (Dok. Humas Setda Sorong Selatan)

“Sesudah itu, mereka belajar sesuai dengan kurikulum. Kita melakukan uji coba SSH dengan bukan hanya satu guru yang mengajar di setiap kelas, tetapi dua orang guru paling sedikit. Alasannya, kebutuhan setiap anak berbeda. Ada anak yang selama ini rajin bersekolah, tetapi tidak sedikit yang jarang masuk sekolah. Bahkan ada yang tidak bersekolah sama sekali. Itu sebabnya, dengan menempatkan lebih dari satu orang guru di setiap kelas, kebutuhan belajar setiap murid bisa dipenuhi dengan lebih baik,” kata Anggiluli.

“Sesudah waktu belajar normal selesai, anak-anak memperoleh makan siang yang bergizi di sekolah. Hal ini penting, karena banyak anak di kampung-kampung yang selama ini tidak makan siang. Apalagi ketika orang tua mereka harus pergi ke dusun untuk berkebun, mengumpulkan makanan atau ke sungai dan laut untuk mengumpulkan hasil. Kalau sudah lapar, mereka tentu tidak bisa belajar dengan baik. Itu sebabnya, melalui SSH pemerintah daerah dan masyarakat, khususnya ibu-ibu di kampung, memberi mereka makanan,” urainya.

“Sesudah mereka makan siang dan beristirahat sebentar, mereka kembali ke ruang-ruang kelas untuk mengikuti pengayaan atau pelajaran tambahan, belajar mandiri dengan menggunakan komputer, mengakses bahan-bahan pendidikan di internet, atau juga belajar di alam, belajar budaya dan kesenian, dan olahraga. Ketika sore hari sudah tiba, mereka mandi, berganti pakaian dari rumah yang bersih, makan snak sore, beribadah, kemudian pulang ke rumah masing-masing. Di rumah mereka membantu orang tua, tetapi sudah tidak lagi mengerjakan pekerjaan rumah dari guru, karena pekerjaan rumah sudah dilakukan di sore hari di sekolah,” tandasnya.

Baca Juga:  Pemkab Tambrauw Bersama Masyarakat Terima Satgas 762 di Fef

Proses SSH berlangsung setiap hari dengan baik, sehingga kata Anggiluli, pemerintah mengupayakan di setiap sekolah tersedia air bersih, listrik dan internet (ALI). Ini harus tersedia di setiap sekolah tanpa kecuali. Ketika ALI tersedia, dan SSH berlangsung dengan baik, maka anak-anak yang bermukim di kampung-kampung yang paling terpencil sekalipun akan memperoleh pendidikan yang bermutu yang sama dengan sekolah maju mana pun di seluruh Indonesia.

Bupati juga membeberkan, SSH dibangun karena melihat dinamika sosial yang sedang terjadi terhadap anak-anak sekolah asli Papua di Tanah Papua dan secara khusus kabupaten Sorong Selatan, seperti kasus anak tidak bisa mengakses pendidikan dengan baik. Ia akui pendidikan adalah jalan utama dalam menyelamatkan anak-anak asli Papua dalam menemukan potensi yang diberikan oleh Tuhan.

“Sekolah Sepanjang Hari adalah upaya yang saya mulai untuk menyelesaikan masalah pendidikan pada khususnya dan masalah pembangunan pada umumnya di kabupaten Sorong Selatan. Kita tahu bahwa selama ini banyak kampung yang menghadapi masalah pendidikan. Ada anak-anak kita yang tidak bersekolah dengan baik, bahkan tidak bersekolah sama sekali. Padahal, tanpa pendidikan yang baik, tidak mungkin mereka bisa mengembangkan potensi yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap umat ciptaan-Nya. Tanpa pendidikan, anak-anak kita tidak akan bisa mengejar perubahan yang terjadi begitu cepat di sekeliling mereka. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka akan tersisih, terpinggirkan, dan tidak memperoleh manfaat apa-apa dari berbagai kemajuan yang terjadi,” tuturnya.

Untuk itu, bupati minta dukungan dari masyarakat dan guru dengan tetap tugas di kampung.

“Dalam berbagai kesempatan, saya selalu tegaskan bahwa SSH hanya bisa berhasil jika ada dukungan dari setiap anggota masyarakat di kampung. Para guru betah tinggal di kampung-kampung. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan menyenangkan bagi anak-anak kita untuk belajar. Sekolah juga harus menjadi tempat yang aman bagi guru-guru kita untuk mengajar. Sekolah juga secara bertahap akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas, termasuk komputer, perpustakaan dan peralatan laboratorium.”

Baca Juga:  Timkes RSUD Raja Ampat Temukan Gizi Buruk di Misool

Lanjut Anggiluli, “Saya mau ajak kepala kampung dan aparat kampung, para tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan, bahwa mari kita jaga sekolah-sekolah kita. Mari kita jaga dan tunjang guru-guru kita. Mari kita buat apa saja yang bisa kita kerjakan supaya para guru betah tinggal di kampung, dan anak-anak rajin ke sekolah setiap hari.”

Bupati meminta para pimpinan OPD di lingkungan pemerintah kabupaten Sorong Selatan untuk melakukan kegiatan yang mendukung beroperasinya SSH secara baik di kampung-kampung.

Begitupun Dinas Kesehatan bertanggung jawab untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan gizi secara berkala kepada para murid.

Kepala Dinas Pertanian diminta membuka kebun di sekitar sekolah, atau mendatangkan bibit ternak, supaya anak-anak bisa belajar berkebun atau beternak sebagai bagian dari proses pembelajaran di sekolah.

OPD terkait harus memastikan ALI tersedia dengan baik di setiap sekolah.

PKK dan OPD terkait lainnya perlu memberikan bantuan dan pelatihan kepada ibu-ibu di kampung karena mereka menyediakan makanan bagi anak-anak setiap hari.

“Setelah kita semua bekerja sama, SSH pasti bisa berlangsung dengan baik. Bukan hanya di Konda, tetapi di setiap kampung di Sorong Selatan,” ujarnya.

Anggiluli menambahkan, selama empat tahun mendatang, 96 SD yang ada di Sorong Selatan, milik pemerintah maupun swasta, sudah harus terapkan model SSH.

“Dengan SSH, kita yakin mutu penyelenggaraan pendidikan di satuan pendidikan di tingkat atas akan berlangsung lebih baik. Karena lulusan SSH sudah memenuhi kompetensi akademik yang seharusnya. Mereka pandai membaca, pandai matematika, dan menggunakan bahasa Indonesia dengan lugas. Mereka juga sudah menguasai dasar-dasar bahasa Inggris. Guru-guru SMP, SMA dan SMK tinggal fokus melanjutkan pembelajaran sesuai dengan kurikulum yang wajib diberikan kepada setiap siswanya. Untuk mendukung SSH, kita juga akan mulai memprogramkan pendirian PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di setiap kampung. Satu kampung satu PAUD. Anak-anak kita yang dididik melalui PAUD pasti akan lebih siap untuk masuk SD yang diselenggarakan dengan pendekatan SSH,” tandasnya. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Koalisi LSM dan Masyarakat Sipil di Fiji Gelar Aksi untuk Pembebasan...

0
Mereka mengatakan bahwa tujuan pawai ini adalah untuk membebaskan Kanaky dan Papua Barat dari perbudakan, genosida, gencatan senjata dan menuntut Pemerintah Prancis dan Indonesia untuk mendekolonisasi kedua wilayah tersebut.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.