Tanah PapuaDomberaiUKM Mitra Tani di Wermit Sorsel “Sulap” Sagu Jadi Mie

UKM Mitra Tani di Wermit Sorsel “Sulap” Sagu Jadi Mie

SORONG, SUARAPAPUA.com Kelompok usaha kecil menengah (UKM) Mitra Tani di kampung Wermit, distrik Teminabuan, kabupaten Sorong Selatan (Sorsel), Papua Barat Daya, memproduksi berbagai jenis makanan ringan berbahan dasar sagu.

Sagu atau metroxylon sagu rottboel merupakan pangan lokal makanan khas orang asli Papua, kini dapat diolah menjadi berbagai cemilan, cake, kue kering, hingga aneka jenis makanan modern yang omzetnya cukup menjanjikan di pasaran.

Nurhayati, ketua kelompok UKM Mitra Tani, mengajak orang Papua harus mampu berinovasi dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada di daerah masing-masing untuk meningkatkan pendapatan keluarga.

“Sagu merupakan salah potensi lokal yang diunggulkan di Sorong Selatan. Selama ini memang sagu hanya diolah jadi papeda, tetapi kita bisa berinovasi untuk menjadikan sagu sebagai makanan dalam bentuk lainnya seperti mie, kue, ataupun cemilan lainnya seperti yang kami sudah lakukan,” jelasnya kepada suarapapua.com saat ditemui di arena pekan seni dan budaya, Sabtu (2/12/2023).

Baca Juga:  Musdat Sukses, Sub Suku Imu Komitmen Bangkit dari Ketertinggalan

Sagu diakui memiliki kandungan karbohidrat dan serat yang tinggi, sehingga mie sagu tidak memiliki efek negatif bagi usus. Berbeda dengan terigu yang kaya karbohidrat, protein, lemak serta memiliki sifat mengembang.

Dalam acara pekan seni dan budaya yang dilaksanakan 27 November-2 Desember 2023, kata Nurhayati, kelompok UKM Mitra Tani memamerkan sekaligus mempromosikan berbagai inovasi baru dengan bahan dasar sagu.

“Kami ingin masyarakat Papua Barat Daya tahu bahwa sagu tidak hanya dibuat jadi papeda. Masih ada beberapa hasil olahan dari sagu seperti mie, tepung, kacang krispy, cokies sagu kelapa, juga kami pamerkan di sini,” kata Nurhayati.

Baca Juga:  LMA Malamoi Fokus Pemetaan Wildat dan Perda MHA
Mie berbahan dasar sagu saat disajikan. (Reiner Brabar – Suara Papua)

Selama ini kelompok UKM diakuinya kurang mendapatkan perhatian dari pemerintah kabupaten, kota dan provinsi. Di Sorsel, kata Nurhayati, terdapat banyak UKM. Tetapi kurang diperhatikan hingga banyak UKM yang tidak produktif.

“Kita tidak bisa pungkiri kalau hari UKM di Papua Barat Daya belum mendapatkan perhatian serius dari pemerintah kabupaten, kota maupun provinsi. Banyak kelompok UKM yang tidak produktif karena kurang diberdayakan saja. Sebenarnya ada banyak UKM yang produktif, tetapi terkendala untuk mempromosikan atau jual hasil usaha mereka. Dari beberapa kabupaten di Papua Barat Daya cukup jauh jangkauannya. Pemerintah jangan hanya datang sosialisasi terus pulang, tetapi harus carikan solusi agar produk-produk hasil karya UKM dapat diekspor dari provinsi Papua Barat Daya, sehingga masyarakat juga mendapatkan keuntungan dari produknya,” tuturnya.

Baca Juga:  Temui MRP, Forum Pencaker PBD: OAP Harus Diberdayakan di Segala Bidang

Suminto, salah satu pengunjung yang mencoba mencicipi mie (bakso) berbahan dasar sagu mengaku mie sagu sangat berbeda dengan yang lazim dijual di tepi jalan atau warung makan.

“Wah, ini rasa beda sekali. Tidak kental dan sangat lezat.”

Kacang Cripsy produksi UKM Mitra Tani. (Reiner Brabar – Suara Papua)

Karena rasa tambah, ia pesan lagi untuk dinikmati dari rumah.

“Saya dan istri beli beberapa bungkus mie lagi untuk bawa ke rumah,” imbuh Sumin. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.