Tanah PapuaMamtaAsosiasi Wartawan Papua Taruh Fondasi di Pra Raker Pertama

Asosiasi Wartawan Papua Taruh Fondasi di Pra Raker Pertama

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Asosiasi Wartawan Papua (AWP), sebuah komunitas jurnalis asli Papua, menyudahi pra-rapat kerja (Raker) pertama awal pekan lalu di kota Jayapura, Papua, dengan meletakkan fondasi utama demi menunjang pencapaian kinerja publikasi berkualitas.

Sedikitnya 52 orang jurnalis asli Papua dari berbaga media massa lokal dan nasional se-Tanah Papua hadir dalam acara pra-Raker pertama AWP di aula Susteran Maranatha, Perumnas I Waena, distrik Heram, kota Jayapura, Senin (11/3/2024).

Kegiatan dibuka Elisa Sekenyap, ketua AWP periode 2023-2026, menyampaikan beberapa hal, termasuk menjelaskan tujuan pra Raker pertama dan rangkaian persiapan yang dilalui pengurus bersama panitia.

“Teman-teman wartawan, tujuan dari pra-Raker pertama adalah membahas hal-hal penting bagi masa depan organisasi AWP. Di sini ada tiga poin pokok yang akan kita fokuskan selama satu hari ini,” kata Elisa.

Tiga agenda tersebut antara lain pembahasan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), penyusunan program kerja, serta identifikasi sumber pendanaan AWP.

Kristian Ansaka (tengah) bersama Benny Mawel dan Elisa Sekenyap. (Dok. AWP)

Sebagai Fondasi

Rapat kerja berlangsung sehari. Dianggap selesai setelah tiga agenda berhasil dibahas, disusun dan disepakati bersama ratusan anggota AWP.

Peserta rapat dibagi tiga kelompok besar. Masing-masing kelompok membahas ketiga agenda inti.

Mulai dari penyempurnaan dokumen AD/ART, rancangan program kerja jangka pendek dan jangka panjang, hingga mengidentifikasi peluang pembiayaan organisasi dari sumber internal dan eksternal AWP, sukses dituntaskan meski sempat diwarna perdebatan alot selama diskusi kelompok maupun saat pemaparan berlangsung.

Keseluruhan hasil pembahasan dan pemaparan diakhiri dengan kesepakatan bersama.

Hasil perumusan pra-Raker pertama selanjutnya akan dibawa ke Raker pertama yang rencananya akan diadakan dua pekan setelahnya, 25-27 Maret mendatang.

“Setelah ini, nanti ada Raker pertama AWP yang akan diawali kegiatan pelatihan pengelolaan media online selama dua hari. Jadwal kegiatannya sengaja disatukan untuk memaksimalkan pembiayaannya. Hasil draft dari pra-Raker ini akan disahkan pada saat Raker pertama nanti,” jelas Elisa.

Dengan itu, selanjutnya diharapkan menjadi landasan kerja bagi pengurus sekarang dan seterusnya nanti.

“AWP disahkan secara resmi pada tahun lalu, sehingga menjadi tugas pengurus periode ini untuk mengurus semua hal, termasuk tiga poin yang telah kita bahas bersama ini,” imbuh Elisa.

Baca Juga:  Direpresif Aparat Kepolisian, Sejumlah Massa Aksi di Nabire Terluka

Kinerja Jurnalis

Kehadiran AWP menurut Kristian Ansaka, ketua panitia Raker I AWP, tentu beralasan kuat untuk mendukung kompetensi para jurnalis orang asli Papua (OAP). Melaluinya upaya peningkatan kapasitas agar kian berkualitas dalam menjawab kebutuhan publik terus diperjuangkan dari waktu ke waktu.

“Setiap wartawan punya tanggung jawab besar untuk turut berpartisipasi memberitakan kepada publik apa yang terjadi dan segala realitanya. Maka, menjadi penting kapasitas jurnalis ditingkatkan, termasuk kapasitas medianya. Dengan harapan itulah AWP hadir,” ujar Ansaka.

Wartawan senior Papua yang juga pernah bekerja untuk Tifa Papua dan Tempo itu menyebut AWP sebagai simbol kebangkitan jurnalis asli Papua. Wadah ini hadir seturut kebutuhan jurnalis asli Papua untuk terus mengasah kemampuan dan kapasitasnya sebagai jurnalis profesional.

Menjadi jurnalis berkompeten dan profesional menurut Ansaka merupakan satu keharusan sekaligus tantangan tersendiri apalagi di era teknologi informasi dewasa ini.

“Mau tidak mau, kita harus terus berbenah diri agar karya-karya jurnalistiknya semakin berkualitas, bermanfaat bagi masyarakat dan pemerintah,” ajak Kris.

Jurnalis senior Papua, Gabriel Maniagasi, sedang memandu jalannya diskusi kelompok. (Dok. AWP)

Lucky Ireeuw, pemimpin redaksi Cenderawasih Pos (Cepos) yang juga salah satu inisiator lahirnya AWP, sependapat.

Ireeuw mau jurnalis asli Papua harus menjadi yang terdepan dalam mengawal dan menyuarakan apa yang terjadi di atas tanah leluhurnya.

“Wartawan asli Papua harus tampil depan. Jangan malah timbul tenggelam, apalagi sampai tenggelam benar. Bila perlu kita jadi pionir, memegang peran utama dan memberi pengaruh besar di daerah kita masing-masing,” kata Lucky.

Dengan kehadiran AWP, Ireeuw berharap bisa mendorong kapasitas jurnalis menjadi lebih baik lagi. Saling bantu, saling mengingatkan untuk tumbuh menjadi jurnalis berkualitas.

Jurnalis senior Papua, Gabriel Maniagasi, sebagai fasilitator Raker AWP, senada dengan Ansaka dan Ireeuw.

Bagi Gabriel, wadah seperti AWP sangat penting ada demi menjawab tantangan profesionalisme wartawan asli Papua.

Baca Juga:  Kondisi Kamtibmas di Papua Barat Daya Sedang Tidak Baik-baik Saja

“Apapun alasannya, AWP diperlukan hari ini untuk masa depan agar menjadi rumah bersama bagi wartawan asli Papua terutama dalam mencapai profesionalitasnya,” kata dosen Uncen yang juga mantan wartawan Jubi dan Suara Pembaruan itu.

Perlu Berbenah

Penilaian berbeda disentil Benny Mawel, mantan jurnalis Jubi, yang kini wakil ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) provinsi Papua Pegunungan.

Mawel melihat pers Papua belum menemukan karakter dalam pemberitaan mengenai isu-isu di Papua secara konsisten. Kebanyakan media di Papua menurutnya masih belum fokus misinya.

“Media harus punya karakter. Karakter itu penting karena media adalah salah satu pilar demokrasi. Bagaimana karya jurnalistik kita bisa menyasar arah pembangunan, bisa mempengaruhi kebijakan pemerintah, dan lain-lain. Dalam setiap pemberitaan harus ada karakter tersendiri sebagai pers berkualitas,” kata Benny.

Kendati masih banyak kekurangan dan kendala, jurnalis asli Papua harap Benny Mawel, tetap tabah dan setia menjalankan tugas mulianya.

“Sebagai mantan jurnalis, saya akan perjuangkan agar ada perhatian dari Pemprov Papua Pegunungan bagi media dan wartawan di komunitas ini,” janjinya.

Dengan itu, Mawel berharap, “Kapasitas jurnalis dan kapasitas media di Tanah Papua bisa ditingkatkan dengan mengadakan berbagai pelatihan yang berdampak positif dari waktu ke waktu.”

Dinamika diskusi kelompok. (Dok. AWP)

Menjawab Kebutuhan

Keberadaan wartawan asli Papua sama halnya dengan wartawan pada umumnya, menurut Alberth Yomo, sekretaris panitia Raker I AWP, tentu saja berperan penting mempublikasikan berbagai hal dengan memperhatikan ketentuan dan kaidah jurnalistik agar dapat diketahui publik.

Dalam kaitan ini tentu perlu pula menjalin kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan, salah satunya untuk mendukung pembangunan di Tanah Papua. Ini seturut amanat Undang-undang nomor 40 tahun 1999 tentang Pers yang menjadi landasan pijak pekerja media konvensional maupun media siber.

Alberth menyadari hadirnya AWP mau menjawab sejumlah kondisi dan kebutuhan jurnalis asli Papua agar karya-karya jurnalistiknya makin berkualitas. Yomo bilang, itu hanya dapat terjadi manakala setiap anggota komunitas terus menerus dibekali dan membekali diri dengan berbagai bentuk pelatihan yang pada akhirnya berdampak positif dalam pekerjaan rutin demi menjamin tersedianya konten atau produk jurnalistik berkualitas.

Baca Juga:  Tim Relawan Gelar Penggalangan Dana Bagi Korban Longsor di Kampung Kwelena Yahukimo

Di kesempatan sama, Arnoldus Belau, salah satu penggagas AWP, mengaku terkejut sekaligus senang melihat jumlah jurnalis OAP yang terdata telah mencapai lebih dari 100 orang.

“Pertama kali digagas oleh beberapa wartawan Papua di Jayapura pada tahun 2017, kemudian disepakati untuk bikin organisasi yang sudah disahkan tahun lalu. Ada hal luar biasa terutama jumlah keanggotannya lebih dari 100 orang, juga ada yang masih belum terdata. Dari jumlah ini ternyata kita memang banyak dan tersebar di mana-mana,” kata Belau.

Dari data pengurus AWP, sejauh kini tercatat 109 orang wartawan OAP se-Tanah Papua. Jumlah ini belum komplit. Pendataannya masih dilanjutkan.

Arnold juga senada, AWP rumah bersama anak-anak Papua yang berprofesi sebagai wartawan. Maka, AWP mesti dijadikan tempat kumpul, tempat belajar untuk meningkatkan kapasitas diri, tempat diskusi diantara sesama jurnalis OAP.

“Ini bukan rasis atau diskriminatif, tetapi ini tanggung jawab moral bersama untuk menjawab diskriminasi yang dialami wartawan OAP,” ujarnya sembari berpesan para jurnalis asli Papua tetap berkarya memenuhi kebutuhan publik mendapat berita dan informasi.

Dinamika diskusi kelompok. (Dok. AWP)

Diketahui, oganisasi AWP secara resmi hadir di Tanah Papua sejak 7 Oktober 2023 yang ditandai acara launching di aula Susteran Maranatha, Waena, kota Jayapura. Hadirnya AWP untuk mendukung upaya pengembangan kapasitas sumber daya manusia (SDM) pekerja media dan profesionalisme serta etika jurnalis asli Papua. Dijadikan rumah bersama segenap jurnalis OAP agar kemudian berdampak positif dalam perjalanannya kedepan.

Komunitas ini berawal sejak 2017 dengan sering kumpul-kumpul untuk diskusi bahkan curhat seputar dinamika peliputan berita. Saat itu komunitas bernama Forum Jurnalis Asli Papua (FJAP) sebelum diganti menjadi Asosiasi Wartawan Papua (AWP).

Sekira enam tahun berlalu, legalitas AWP baru diakui pemerintah pada tahun lalu. Tanggal 7 Januari 2023 resmi terdaftar di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia RI dengan nomor AHU-0000-115.AH.01.07.Tahun 2023. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Literasi di Papua Sangat Rendah, 30 Persen Anak Belum Bisa...

0
"Pemahaman literasi yang baik adalah fondasi penting dalam pendidikan. Pendidikan yang baik dan layak adalah kunci untuk masa depan yang lebih berkualitas bagi anak-anak dan masyarakat Papua," ujar Marthen S Sambo.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.