PolhukamDemokrasiRuang Panggung HAM Harus Dihidupkan di Wilayah Sorong Raya

Ruang Panggung HAM Harus Dihidupkan di Wilayah Sorong Raya

SORONG, SUARAPAPUA.com — Keresahan rakyat mengungkapkan isi hati ataupun pendapat tidak tersalurkan lantaran ruang bicara kian terkekang. Karenanya, perlu alternatif dengan menghidupkan ruang panggung Hak Asasi Manusia (HAM) bagi setiap orang untuk dapat mengekspresikan sebebas-bebasnya.

Solusinya, ruang panggung HAM harus dihidupkan di wilayah kepala burung Pulau Papua atau Sorong Raya. Ini terus digaungkan dalam setiap orasi dari mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Solidaritas Rakyat Anti Militerisme dan Peduli HAM di Tanah Papua saat acara refleksi dan pemasangan lilin di Sorong City, Sabtu (30/3/2024) malam.

Dalam panggung lilin refleksi untuk mengenang dua anak muda Papua: Definus Kogoya dan Warianus Murib yang telah dianiaya oleh prajurit TNI dan kasus kekerasan lainnya yang terjadi sejak Papua dipaksakan masuk dalam pangkuan ibu pertiwi Indonesia dari tahun 1961 hingga 2024.

Panggung solidaritas anti militerisme dan peduli HAM Tanah Papua saat malam refleksi di Sorong City, Sabtu (30/3/2024) malam, untuk mengenang dua korban penganiayaan oleh prajurit TNI di kabupaten Puncak, Papua Tengah. (Maria Baru – Suara Papua)

Alfo Reba, salah satu aktivis Papua, mengatakan, ruang panggung HAM akan terus diciptakan agar masyarakat Papua dan non Papua dari berbagai wilayah Nusantara yang hidup di kota dan kabupaten Sorong. Menurutnya, ruang berekspresi perlu bagi mereka yang peduli tentang isu HAM Papua.

Baca Juga:  Situasi Kamtibmas di PBD Butuh Sinergi Bersama

Kata Alfo, semua bisa mengambil bagian untuk bersuara entah berupa kesenian, sastra, diskusi ataupun orasi terbuka. Hal tersebut dilakukan mengingat tingkat kekerasan mulai dari kekerasan langsung dari aparat dan kekerasan tersistematis dari negara yang juga berdampak pada lapisan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik dan lainnya bagi masyarakat asli Papua di Tanah Papua.

“Teman-teman ini adalah panggung kita. Panggung HAM. Ruang ini tidak terbatas di sini saja, tetapi akan terus dilakukan karena pelanggaran HAM yang rakyat Papua alami sejak tahun 1961 sampai sekarang adalah gambaran bagaimana negara memperlakukan rakyat Papua seperti binatang seperti diungkapkan mendiang Filep Karma, seakan kitorang setengah binatang. Ruang ini untuk rakyat Papua dan non Papua yang hidup di wilayah Sorong Raya. Mereka yang punya kepedulian tentang HAM bisa melibatkan diri di sini. Malam panggung, kita salurkan semua rasa jiwa karena di media sosial seperti facebook pun kita dibatasi,” tutur Reba menyemangati muda-mudi yang hadir dalam malam refleksi tersebut.

Baca Juga:  Kata Para Tokoh dan Aktivis Terkait Gerakan “All Eyes on Papua”

Dalam malam refleksi yang berjalan dengan aman, tetapi tetap dipantau informan atau sebutan lain Intel, anak-anak muda dan mahasiswa bergantian menyampaikan isi hatinya melalui puisi, lagu, orasi, dan bercerita. Hadir juga solidaritas dari Ternate yang menyumbangkan aspirasinya melalui musikalisasi puisi yang indah dan militan tentang masalah sejarah, sosial, politik dan lingkungan dengan penuh semangat dan lantang.

Panggung solidaritas anti militerisme dan peduli HAM Tanah Papua melakukan malam refleksi di Sorong City, Sabtu (30/3/2024) malam, untuk mengenang dua korban penganiayaan oleh prajurit TNI di kabupaten Puncak, Papua Tengah. (Maria Baru – Suara Papua)

Dikemukakan, ruang HAM dan solidaritas bersama telah menyediakan ruang diskusi, ruang mimbar bebas, ruang nonton film dan kegiatan lainnya akan dikemas untuk membangun solidaritas terhadap kasus pelanggaran HAM yang terjadi di Tanah Papua dan wilayah Sorong Raya khususnya.

Baca Juga:  Perda Pengakuan dan Perlindungan MHA di PBD Belum Diterapkan

Ronaldo Kinho, koordinator kegiatan panggung HAM, mengatakan, harus ada ruang-ruang bersama yang dihidupkan di wilayah Sorong, sehingga anak muda berkumpul dan berbagi dinamika sosial yang sedang terjadi di Tanah Papua karena ruang bebas sepertinya sulit didapatkan di dunia kampus.

“Ruang bersama seperti ini harus ada di sini. Kita butuh ruang refleksi, ruang mimbar bebas, ruang panggung budaya, ruang nonton, dan ruang diskusi, sehingga kita saling belajar bersama mengasah kemampuan membaca situasi di Papua,” ujar Kinho.

Lapak buku jalanan juga turut dibuka di malam refleksi untuk dibaca simpatisan ataupun pengunjung. (Maria Baru – Suara Papua)

Selain panggung refleksi, hadir komunitas buku jalanan yang membuka lapak buku di samping panggung refleksi. Simpatisan ataupun pengunjung berkesempatan membacanya. []

Terkini

Populer Minggu Ini:

Memorialisasi Perjuangan HAM Melawan Lupa Melalui Film Yang Tak Pernah Hilang

0
“Film ini sebagai upaya menghidupkan kembali ingatan tentang kawan yang hilang dan tidak adanya upaya untuk mengungkap keberadaan mereka hingga kini,” ujarnya.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.