Kami Tidak Butuh Sawit, Kami Hanya Butuh Hutan

0
1105

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Solidaritas Korban Kelapa Sawit Nabire (SKKSN) menggelar diskusi dengan tema “Dampak Sawit Terhadap Masyarakat Adat”, yang menghadirkan korban Sawit Nabire dan korban sawit Keerom yang diselenggarakan di aula asrama Intan Jaya, Expo, Waena, Papua, pada Senin (4/4/2016).

Diskusi dipandu oleh koordinator solidaritas korban Sawit Nabire, John NR Gobai. Dan yang menjadi pembicara adalah kepala suku besar Yerisiam Gua dan tokoh pemuda adat Arso.

“Kami tidak pernah meminta perusahaan dan kami juga tidak pernah meminta mereka memberikan kami kesejahteraan,” kata Daniel Yarawobi, kepala suku Yerisiam Gua, dalam diskusi tersebut.

Lanjut dia, “Selagi kami masih ada di atas tanah ini, di atas tanah adat kami, maka kami akan tetap berjuang sampai kami mengembalikan hak kami sebagai masyarakat adat.”

Sebab menurutnya, kehadiran perusahaan kelapa Sawit di kabupaten Nabire, distrik Yaur, kampug Sima, bukan kemauan dari masyarakat adat pemilik hak ulayat.

Daniel juga menegaskan, PT. Nabire Baru yang selama ini beroperasi di atas tanah Yerisiam Gua itu bukan datang atas permintaan masyarakat adat setempat. Itu hanya beberapa masyarakat yang diperalat dan disuap oleh perusahaan untuk melawan mayoritas masyarakat adat suku Yerisiam Gua.

“Perusahaan kelapa sawit hanya menambah penderitaan bagi kami. Saat Paskah kemarin, kami tidak bisa melakukan ibadah dengan baik karena tempat ibadah kami tenggelam oleh air akibat hujan dan banjir yang berakibat dari hutan kami yang dibabat oleh perusahaan kelapa sawit,” tuturnya.

Lanjut Daniel, “Semua itu bisa terjadi karena tanah kami sudah banyak yang tandus dan hutan kami dibabat habis.”

Sementara itu, Emil Fatagur, tokoh pemuda dari kampung Wor, distrik Arso yang juga hadir mewakili masyarakat adat Keerom para korban sawit dari PT. PN II Arso, mengatakan, pada saat awal investor masuk, masyarakat adat ditipu.

“Kami ditipu dan kami diterlantarkan lantaran kepentingan pemerintah dan perusahaan sawit yang berinvestasi di atas tanah kami ini. Saya adalah korban dari kepala sawit, saya juga anak dari orang tua yang telah ditipu oleh perusahaan kepala sawit di tanah kami,” ujarnya.

Diakui Emil, dulu ia ikut orang tua untuk menuntut hak sebagai pemilik hak ulayat di perusahaan. Dan kini setelah sudah dewasa, perjuangan dari orang tuanya itu akan tetap dilanjutkan.

Emil Fatagur yang juga aktivis Sawit Keerom ini mengatakan, ada hutan berarti ada adat, sebab setiap tahun masyarakat selalu melakukan pesta adat yang disebut Yonggua. Namun kini sulit sekali mereka adakan pesta Yonggua karena sulit mendapat buruan dan makanan dari alam.

“Saya sangat berharap sekali kepada mahasiswa dan lembaga swadaya masyarakat agar dapat mendukung usaha kami juga di Arso agar kami bisa menggugat perusahaan. Walau memang itu berat, tapi kami akan selalu lawan dan tuntut hak kami,” tegasnya di akhir diskusi tersebut.

Editor: Arnold Belau

HARUN RUMBARAR