Presma USTJ: Indonesia Itu Pelaku Pelanggar HAM dan Orang Papua Su Tidak Percaya

“Mau harapkan apa dari Indonesia lagi. Hari kita bisa lihat bagaimana Jokowi berikan jabatan yang istimewa terhadap pelaku pelanggaran HAM di papua. Saat ini juga di mata kami Indonesia di tanah Papua itu bukan sebuah negara yang datang membangun Papua tapi bagi kami indonesia adalah kolonial diatas tanah papua"

289
Nelius Wenda, Presma USTJ saat berorasi di hadapan ribuan rakyat Papua di Putaran Taksi, Perumnas III tidak beberapa bulan lalu di Jayapura. (Dok Suara Papua)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Nelius Wenda, Presiden Mahasiswa (Presma) Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ menegaskan, mahasiswa dan rakyat Papua sudah tidak lagi percaya pada pemerintah Indonesia untuk penyelesaian pelanggaran HAM di tanah Papua sejak awal Papua dipaksa kawin dengan Indonesia.

“Kami sebagai mahasiswa sudah tidak percaya dengan pemerintah indonesia untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM di Papua. Indonesia pelaku Pelanggaran HAM di Papua mana mungkin dia akan mengaku dan selesaikan pelanggaran HAM di Papua. itu hanya omong kosong,” tegas Nelius kepada suarapapua.com di Jayapura, (9/12/2016) malam.

Kata Wenda, ketidak mampuan pemerinta kolonial Indonesia menyelesaikan pelanggaran HAM di Papua itu bisa dilihat dari sikap presiden yang terkesan melindungi semua aktor pelanggar HAM di Papua dan juga pelaku kejahatan terhadap kemanusiaan di lingkarannya.

“Mau harapkan apa dari Indonesia lagi. Hari kita bisa lihat bagaimana Jokowi berikan jabatan yang istimewa terhadap pelaku pelanggaran HAM di papua. Saat ini juga  di mata kami Indonesia di tanah Papua itu bukan sebuah negara yang datang membangun Papua tapi bagi kami indonesia adalah kolonial diatas tanah papua, itu semua jelas dari semua perlakuanya selama ini bagi orang papua,” tegasnya.

Maka itu, untuk menyatakan ketidakpercayaan itu, dirinya sebagai pimpinan mahasiswa di USTJ merasa perlu untuk menyuarakan penyelesaian pelanggaran HAM di tanah Papua.

“Kami mahasiswa USTJ merasa perlu untuk bersuara tentang pelanggaran HAM yang terjadi di tanah Papua sebagai wujud kepedulian kami mengambil bagian dalam aksi demo damai memperingati Hari HAM sedunia 10 Desember 2016,” ungkapnya.

Wenda menghimbau kepada seluruh mahasiswa USTJ agar tidak tutup mata dan membungkam mulut dan mata hati untuk menyuarakan kebenaran dan penderitaan rakyat Papua.

“Saya pesan juga kepada teman-teman pemuda dan mahasiswa jangan tutup mata dan telinga untuk bersuara tentang kekerasan yang terjadi diatas tanah kita sendiri ,mari kita tidak lagi membedakan ko gunung, ko pantai tapi kita bergandengan tangan nyatakan kepada indonesia dan dunia bahwa kita satu yaitu Papua,” harapnya.

Semetara itu, Ones Suhuniap, sekretaris umum KNPB Pusat menghimbau kepada seluruh pengurus dan anggta KNPB serta seluruh rakyat papua agar turut mengambil beserta untuk memeringati hari HAM sedunia pada hari ini yang akan dimediasi oleh Solidaritas Korban Pelanggaran (SKP) HAM Papua.

“KNPB Pusat menghimbau supaya seluruh pengurus dan anggota KNPB moblisasi umum dan ambil bagian dalam aksi pada hari ini. Selain itu Semua harus siapkan foto-foto pelanggaran HAM masa lalu data HAM sekarang,” himbau Ones.

Kata Suhun, sesuai dengan pembagian tugas oleh penyelenggara, maka titik kumpul masa perumnas III waena diberi tanggung jawab kepada KNPB. Untuk itu ia menghimbau agar semua anggota dan pengurus KNPB pusat dan wilayah bahwa pada tanggal 10 hari HAM nanti semua kumpul di vietnam jam 7.00 WPB pagi.

 

Pewarta: Arnold Belau