Akademisi Uncen Minta Polisi Jangan Tahan Raga Kogoya

0
3982

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pengamat sosial dan politik dari Universitas Cenderawasih (Uncen) Jayapura, Marinus Yaung, menyebut tangisan seorang ibu adalah ungkapan isi hati yang benar, sehingga diminta agar jangan berani menahan Ibu Raga Kogoya.

“Saya mau sampaikan dengan tegas bahwa jangan berani-beraninya menahan Ibu Raga Kogoya, karena dia adalah seorang ibu dan ungkapan yang keluar dari isi hati adalah ungkapan yang benar dan tidak mengada-ada. Jadi, saya mau sampaikan bahwa jangan menahan, kalaupun ditahan, kita akan ukir masalah baru,” tuturnya saat bersama Ibu Raga Kogoya di halaman kantor DPRP Papua, Kota Jayapura, Sabtu (22/12/2018).

Marinus menjelaskan, Raga Kogoya ditangkap Tim Mabes Polri di bandar udara Wamena saat hendak ke Jayapura bersama tim investigasi. Kogoya ditahan karena memberikan keterangan terkait situasi Nduga kepada media internasional BBC News Indonesia.

Menurut Yaung, seorang perempuan adalah simbol perdamaian bagi orang Papua. Maka, kalau Raga Kogoya ditahan, ia memprediksi, akan memancing konflik lebih besar lagi.

“Saya minta kepada Kapolda dan Kapolri, jangan tangkap, jangan tahan Ibu Raga Kogoya. Perempuan itu simbol perdamaian orang Papua,” tegasnya.

Marinus menyatakan akan mengawal kasus tersebut pada hari Senin (24/12/2018) di Wamena. Ia berjanji akan memastikan Ibu Raga Kogoya harus bebas.

“Itu yang pertama dari saya. Terus yang berikut, pernyataan Kapendam terkait tanggapan Gubernur Papua, itu tidak masuk akal. Sebagai kepala daerah jelas harus melindungi rakyatnya. Bagaimana mungkin rakyatnya dibunuh kok mau diam.”

Tanggapan Kapendam terhadap pernyataan Gubernur dan DPRP yang lagi hangat sekarang, bagi Yaung, akan membuat suasana kurang kondusif di tanah ini.

“Masyarakat kami di Kabupaten Nduga ada dalam trauma masa lalu dari tahun 70-an sampai sekarang. Kemudian kalau militer tidak tarik dengan alasan masih belum ditemukan 4 orang yang hilang, saya juga akan tanya nasib Aris Masoka, saudara saya sopirnya Theys Eluay yang hilang dan sampai hari ini belum ditemukan itu,” ceriteranya sembari duduk dengan Raga Kogoya.

Sementara itu, Raga Kogoya mengaku ditangkap bersama kedua anaknya di bandara Wamena oleh tim Mabes Polri. Kata dia, penangkapan dilakukan terkait keterangan yang disampaikan ke jurnalis BBC News Indonesia.

Ia mengaku ditahan di Polres Wamena selama 3 jam dan diminta keterangan, tetapi katanya tak memberikan keterangan apapun kepada penyidik. Sedangkan tas, laptop, handphone bersama semua barang yang dibawanya ditahan.

“Saya waktu itu mau ke Jayapura, tetapi tanpa ada surat izin atau surat pemberitahuan, saya langsung ditahan bersama anak saya yang berusia enam tahun dan diminta keterangan orang itu makanya saya jadi beri waktu tiga hari untuk ke Jayapura bersama tim investigasi,” tuturnya kepada suarapapua.com di halaman kantor DPRP.

Ibu Raga berharap karena pihak kepolisian melalui Mabes Polri berikan waktu hanya 3 hari, maka kemungkinan besar dari Jayapura akan kembali ke Wamena pada Senin (24/12/2018).

“Saya dengan tim yang turun dari Wamena akan berangkat kemungkinan hari Senin sampai di atas (Wamena), tentu saya akan diperiksa dan itu butuh kuasa hukum,” kata Raga.

Ia berharap, kuasa hukum perlu mendampinginya dalam proses pemeriksaan.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You