Antropologi Papua Kembali ke Rumah

1
678

Oleh: A. Ibrahim Peyon

Pengantar

Dalam sejarah ekspansi dan kolonisasi terhadap masyarakat manusia di dunia telah mempengaruhi dalam berbagai hal termasuk kebudayaan. Ilmu Antropologi adalah salah satu yang paling terkontribusi besar dalam proses kolonisasi. Ada dua pendekatan utama. Pertama, studi-studi lapangan antropologi dapat terkontribusi secara langsung kepada kolonial dan kelompok-kelompok koorporasi untuk kontrol sosial politik di daerah-daerah koloni. Kedua, studi-studi lapangan itu dapat melahirkan teori-teori untuk membangun sistem kekuasaan pengetahuan mereka.

Kedua pendekatan itu memiliki tujuan akhir yang sama yaitu mendudukan, menjajah, menjustifikasi kolonialisme dan sekaligus meniadakan entitas pengetahuan dan kebudayaan masyarakat asli di daerah-daerah yang diduduki itu.

Gagasan tentang antropologi Papua kembali ke rumah adalah sebuah perspektif antropologi yang terfokus pada paradigma, metode-metode dan teori-teori antropologi berbasis pada kultur dan pengetahuan orang-orang Papua sendiri. Pengetahuan yang berbasis pada budaya, filsafat dan sejarah kita sendiri.

Dalam perpektif ini, studi antropologi dilakukan dalam dua pendekatan yaitu pendekatan antropologi indigeneus dan pendekatan antropologi dekolonisasi. Dimana dalam dua pendekatan ini, etnografer menempatkan diri sebagai aktivis dalam dinamika sosial kultur di dalam masyarakat Papua.

Etnografer sebagai aktivis berarti dia terlibat dalam gerakan-gerakan sosio-kultur dalam melakukan studi-studi lapangan, etnografer sendiri sebagai aktor, pelaku sejarah dan budaya. Diatas dari itu, sang etnografer membangun paradigma, metode dan teori-teori antropologi dalam perspektif antropologi indigeneus dan antropologi dekolonisasi.

Antropologi Indigeneus berarti sebuah perspektif antropologi yang berbasis pengetahuan dan kebudayaan orang-orang asli. Sebuah perspektif antropologi tentang metodologi, epistimologi dan teori-teori antropologi dibangun oleh orang-orang asli atas dasar pengetahuan dan kebudayaan dari kultur mereka sendiri untuk kepentingan mereka dan orang lain.

Sedangkan Antropologi dekolonisasi adalah perspektif antropologi yang dibangun oleh antropolog untuk melawan arus teori antropologi yang berpihak kolonialisme, kapitalisme dan kekuasaan dominan demi kebebasan manusia dan masyarakat dunia. Itu berarti dia menciptakan sendiri paradigma, metode-metode dan teori-teori antropologi yang diangkat dari filsafat, kultur dan sejarah kebudayaan orang Papua untuk kepentingan mereka dan masa depan antropologi.

Paradigma antropologi kembali ke rumah berarti perspektif antropologi yang beroposisi dengan metode dan teori-teori antropologi yang menjadi produk dari dunia luar selama ini.

Metodologi

Metode antropologi dalam perspektif ini membutuhkan perspektif antropologi radikal, kritis dan terfokus kepada pengetahuan dan kebudayaan masyarakat Papua sendiri. Antropologi dalam perspektif ini adalah harus melepaskan diri dari belenggu rasionalis dan intelektualisme liberal yang tak terpisahkan dari kolonialisme dan kapitalisme global. Dengan demikian, antropologi dibebaskan dari tatanan itu dan membangun tatanan dunia baru, metodologi baru dan teori-teori baru yang berakar pada kebudayaan, keadilan sosial dan kemerdekaan manusia. Berperang dengan metodologi dan teori-teori antropologi selama ini diciptakan oleh kelompok dominan untuk memelihara kemajuan dari posisi dominasi, pemerintah kolonial, etnosentris dan rasialis. Teori-teori itu tercipta untuk menjaga kuasa sosial dan politik kelompok dominan, pemerintah kekuasaan dan kapitalisme serta koorporasinya.

Di Papua, teori-teori itu diadopsi oleh pemerintah Indonesia melalui Universitas-universitas dan lembaga-lembaga penelitian yang memainkan peran untuk menjaga posisi kolonialisme Indonesia di Tanah Papua.

Bila teori-teori itu digunakan untuk penghancuran manusia dan kebudayaan lain, maka dia harus kehilangan dirinya untuk menemukan diri sendiri, harus merancang metodologi dan teori-teori antropologi yang berbasis kebebasan semaksimal mungkin untuk menjadikan itu menjadi milik masyarakat dunia yang bebas dan bermartabat. Antropologi harus kembali ke rumah untuk membangun apa yang sudah ada di rumah, merancang metode-metode secara produktif, perspektif-perspektif, filsafat, sejarah, pandangan hidup, pengalaman dan pengetahuan kita sendiri dalam membangun teori-teori perbandingan dan merumuskan strategi-strategi yang efektif untuk transformasi sosial politik yang diinginkan.

Metodologi penelitian dalam perspektif ini berarti peneliti antropologi harus menjadi aktif dalam tema-tema penelitian. Tema gerakan sosial misalnya peneliti antropologi harus menjadi seorang aktivis, merancang bersama gerakan sosial budaya dan terlibat secara aktif dalam gerakan sosial di lapangan. Posisi etnografer di sini sebagai pelaku, perancang dan pencipta sejarah dan kebudayaan dalam proses dekolonisasi dan perjuangan nasional. Peneliti antropologi tidak memisahkan diri dari proses itu, tetapi menjadi bagian dari proses.

Peneliti antropologi dalam perspektif ini bukan seorang etnografer yang mengedarkan kuesioner untuk mencari pendapat dari objek penelitian, tetapi dia sendiri adalah bagian dari objek sekaligus subjek penelitian. Peneliti antropologi secara aktif terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan di lapangan, terlibat dalam evaluasi dari seluruh proses sosial budaya itu. Dengan terlibat dalam seluruh proses itu akan mengungkapkan kebudayaan secara keseluruhan, tentang nilai, makna, pandangan hidup, sejarah, kebudayaan, struktur sosial dan tatanan kehidupan. Proses macam ini memerangi pandangan teori-teori reduksionisme, difusionaisme, rasionalisme dan teori perbandingan. Teori-teori yang mereduksi dan merusak makna dan kompleksitas kultural keaslian.

Dengan mendefinisikan kebudayaan sesuai perspektif mereka dan memasukan elemen-elemen kultural mereka ke dalam kebudayaan-kebudayaan asli untuk dapat subordinasi dan inferiorisasi makna dan nilai-nilai kebudayaan kita. Metodologi antropologi dalam perspektif ini adalah melawan paradigma-paradigma ini dan menempatkan kebudayaan indigeneus dalam posisinya.

Dengan mendefinisikan kembali kebudayaan kita, maka akan mengembalikan roh dari kebudayaan itu sendiri. Penelitian antropologi dengan melibatkan diri dalam proses itu, maka si peneliti adalah instrumen penelitian itu sendiri.

Peneliti tidak hanya mengedarkan kuesioner atau pedoman penelitian, tetapi dirinya sendiri adalah sebagai instrumen penelitian itu melalui pendekatan antropologi sense. Seorang etnografer harus melakukan penelitian melalui pengamatan lapangan, perasaan yang sudah dirasakan ketika selama di sana, apa yang sudah dia mendengarkan melalui cerita orang-orang selama di lapangan, melukiskan apa yang diperoleh melalui penciuman selama di lapangan dan sentuhan-sentuhan yang dirasakan dalam seluruh proses sosial budaya itu. Hanya dengan demikian, peneliti antropologi menggungkapkan seluruh atmosfer sosial budaya dalam ruang dan waktu.

Pendekatan, epistimologi dan teori-teori yang berbeda dari pandangan konservatif, etnosentris, rasialis, kolonialis dan kapitalis yang merusak tatatan sosial dan budaya kita. Antropologi Papua harus dapat mengambil peran secara aktif dan konstruktif dalam membangun pengetahuan dan kebudayaan yang berbasis kepada akar kultural kita sendiri.

Dengan merancang metodologi-metodologi yang cocok, mengembangkan studi-studi etnografis asli dari pengetahuan setempat dan membangun teori-teori konstruktif untuk membebaskan manusia dan kebudayaan dari pengaruh antropologi konservatif. Dengan cara itu, kita sedang melakukan antropologi dekolonisasi dan sekaligus memulai dengan antropologi indigeneus Papua itu sendiri. Itu berarti, antropologi dekolonisasi Papua itu sedang membangun diri sendiri, panggilan kepada kepimpinan ilmu pengetahuan dan mengembangkan teori-teori kita sendiri, mendorong untuk menciptakan iklim sosial politik yang baru, keperpihakan kepada institusi-institusi kita sendiri, dapat memungkinkan dan mendukung demokrasisasi otoritas intelektual dan teoritis.

Itu berarti kita memutuskan arus pengetahuan tentang warisan antropologi yang berbasis pada etnosentris, antropologi kapitalis yang terlibat aktif dalam kolonial dan dominasi imperialis selama ini. Produksi pengetahuan antropologi berfungsi untuk menguntungkan kepentingan elit dan karena itu antropologi dalam perspektif ini perlu kita menciptakan sendiri di luar paradigma itu. Melalui kritik radikal semacam itu secara kritis kita memeriksa peran peneliti dalam representasi antropologi kebebasan dan menganalisis kerangka teoritis selanjutnya.

Redefinisi Antropologi

Dengan proses identifikasi dengan metodologi antropologi tersebut salah satu hal yang penting adalah mendefinisi kembali konsep-konsep sejarah dan kebudayaan sesuai dengan konsep-konsep masyarakat dalam kebudayaan setempat. Redefinisi dilakukan untuk mengembalikan nilai, makna dan jiwa dari kebudayaan tersebut agar kembali kepada entitasnya.

Banyak konsep-konsep kebudayaan kita telah didefinisikan oleh pihak luar, tetapi konsep-konsep itu terbukti telah  mensubordinasi dan menginferiorisasi manusia dan kebudayaan kita. Definisi-definisi yang penuh dengan sarat makna, etnosentrisme, rasisme, kolonialisme dan imperialisme yang menempatkan konsep-konsep kebudayaan kita dalam tataran yang rendah dan subordinasi.

Kita di Papua, konsep-konsep yang sudah didefinisikan itu telah tertanam demikian kuat di dalam dokmatisme gereja-gereja di Tanah Papua misalnya. Konsep-konsep itu sering muncul dan mengidentifikasi kepercayaan mereka sendiri sebagai agama kafir, kuasa gelap, penyembah berhala dan agama iblis untuk menyebut agama-agama asli orang Papua. Konsep-konsep ini meniadakan agama asli, mendegradasi, menginferiorisasi dan mengkriminalisasi kebudayaan dan kepercayaan orang Papua sendiri. Agama dan kepercayaan yang sudah berabad-abad lamanya telah menjadi keyakinan iman manusia Papua dan sebaliknya Tuhan yang mereka percaya itu telah melayani dan melindungi orang Papua. Sebelum mereka percaya kepada Tuhan dan agama-agama orang timur tengah seperti Kristen, Katolik dan Islam.

Konsep-konsep tentang mitologi, kepercayaan, sejarah dan kebudayaan macam itu perlu dan harus dapat dirumuskan kembali. Konsep tentang mitologi misalnya adalah satu konsep yang perlu dipisahkan. Antara sejarah dan mitos. Mitos adalah sebuah hayalan yang membentuk satu rangkaian cerita yang tidak berdasarkan fakta. Sedangkan sejarah adalah sebuah kejadian berdasarkan fakta. Sejarah penciptaan manusia dalam pengetahuan dan kebudayaan orang Papua adalah entitas dasar yang sangat sakral tentang asal-usul kehadiran manusia di bumi, dan hal itu tidak bisa didefinikan sebagai sebuah mitologi seperti definisi antropologi barat selama ini. Definisi macam ini adalah bentuk inferiorisasi sejarah dan kebudayaan, mendegredasi makna dan nilai manusia dan kebudayaan.

Pada sisi lain, mereka mendefinisikan kebudayaan mereka sendiri sebagai yang superior dan rasional yang kemudian dipaksakan untuk menerima kepercayaan, sejarah dan kebudayaan mereka itu. Dalam hubungan dengan kemerdekaan Papua, sering Indonesia mendefinisikan sebagai separatis, gerakan nasionalisme etnik dan sejenisnya. Konsep-konsep yang mendegredasi nilai-nilai dan makna-makna perjuangan bahwa Papua adalah entitas dari sebuah nation dan bangsa. Fakta bahwa Papua adalah sebuah bangsa tersendiri yang sama dengan bangsa Indonesia dan bangsa-bangsa lain di dunia. Redefinisi antropologi adalah mengembalikan nilai, makna dan spirit kebudayaan itu sebagai entitas dari sebuah bangsa.

Dengan redefinisi itu dapat menciptakan kembali sistem pengetahuan manusia tentang pandangan dunia, sejarah, kebudayaan dan diri manusia itu sendiri sebagai bangsa dalam masyarakat dunia.

Papuanisasi pengetahuan

Kekuasaan kolonial yang paling utama adalah penciptaan pengetahuan dengan paradigma, metodologi, epistimologi dan teori-teori yang mendudukan masyarakat di daerah-daerah koloni. Pengetahuan itu merasuk dalam berbagai lini kehidupan sosial, budaya, filsafat, psikologi dan religi.

Karakteristik dari kolonisasi pengetahuan dalam pikiran masyarakat tertindas antara lain: a). Intervensi dari sumber eksternal –dari kolonial– dalam lingkup mental subjek atau kelompok subjek yang ditindas; b). Intervensi untuk mempengaruhi aspek sentral dari struktur pikiran, modus operasi dan isinya; c). Efeknya tahan lama dan tidak mudah dilepas; d). Ada asimetris ditandai kekuasaan antara pihak yang terlibat; e). Para partisipan dapat menyadari atau tidak menyadari peran mereka dari penjajah atau terjajah; f). Keduanya dapat berpartisipasi dalam proses secara sukarela atau tidak.

Semua itu adalah karakteristik dari kuasa pengetahuan yang merasuki struktur mental dan pikiran manusia tertindas.

Dalam paradigma antropologi di Papua, kita berbagi proses pikiran kolonial ini dalam berbagai metode, epistimologi dan teori-teori antropologi tentang filsafat, kebudayaan dan sejarah Indonesia di sekolah dasar hingga mimbar-mimbar akademik. Metode-metode dan teori-teori itu dirancang khusus untuk menanamkan ideologi pengetahuan dalam struktur mental dan pikiran orang Papua. Konstruksi dari kuasa pengetahuan itu tereproduksi dalam bentuk asimetris pengetahuan antara penjajah dan terjajah.

Ketika kita membaca berita media di Jayapura dulu, Bupati Habel Melkias Suwae atau Benhur Tomi Mano, sering melarang aksi demonstrasi damai KNPB di Jayapura, maka itu bentuk lain dari produk karakteristik pengetahuan asimetris itu. Atau, saat ini Bupati John Wempi Wetipo mati-matian menghadirkan markas Brimob di Wamena. Itu merupakan produk dari karakteristik asimetris antara penindas dan tertindas.

Keduanya saling terikat untuk menjaga kepentingan dan memihak posisi-posisi dominan. Tetapi si tertindas tidak menyadari dirinya bahwa dia sedang diperalat oleh penindas. Karakteristik ini berbagi oleh berbagai proses pikiran penjajahan, oleh karena itu, ‘kolonisasi pikiran’ mungkin terjadi melalui transmisi kebiasaan mental dan diisi dengan cara melalui sistem sosial dan budaya, selain struktur kolonial.

Misalnya, melalui keluarga, tradisi, praktek-praktek budaya, agama, ilmu pengetahuan, bahasa, ideologi, keteraturan politik, media, pendidikan, dan lain-lain. Medium-medium ini menciptakan kolonisasi pengetahuan dan pikiran dalam masyarakat Papua saat ini. Medium-medium ini sebagai epidemik yang merusak karakter, struktur mental dan struktur pikiran.

Antropologi Papua kembali ke rumah berarti antropologi yang membuat sistem sendiri, merancang metode sendiri, epistimologi dan teori-teori antropologi sendiri. Teori-teori antropologi yang mengembalikan pengetahuan asli dan menciptakan epistimologi tersendiri, dan teori-teori yang  membebaskan pengetahuan manusia dari pengaruh kolonial di Tanah Papua.

Antropologi kembali ke rumah berarti sepenuhnya menjadi antropologi yang anti-kolonial, sepenuhnya mengakui kebutuhan untuk memerangi sumber dan efek dari kolonisasi pikiran pada orang-orang asli, antropologi yang memiliki hubungan intim antara budaya, pertempuran dan perjuangan kemerdekaan nasional. Antropologi yang berkontribusi pada perjuangan nasional dan kebebasan manusia. Antropologi yang mempunya dasar timbal balik dari budaya nasional dan perjuangan untuk kemerdekaan nasional. Antropologi yang dapat memerangi pemikiran menyederhanakan kebudayaan nasional dan kebudayaan nasional sebagai inferioritas oleh kolonial.

Antropologi kembali ke rumah berarti antropologi yang mampu mengembalikan kebudayaan nasional pada posisinya sebagai identitas bangsa Papua.

Antropologi dalam perspektif ini memiliki peran utama antara lain: a). membangun kesadaran masyarakat tentang identitas, budaya, sejarah, filsafat dan struktur sosial-budaya. b). secara bertahan menghapus dan membersihkan pengetahuan, sejarah dan budaya kolonial yang sudah berakar di Tanah Papua. c). Mengidetifikasi sejarah dan kebudayaan dari struktur-struktur kebudayaan lama yang masih hidup dalam masyarakat. d). Merancang struktur-struktur kebudayaan Papua untuk dikembangkan menjadi entitas kebudayaan nasional. e). Menghubungkan antara budaya dengan perjuangan kemerdekaan nasional. f). Mempersiapkan fondasi untuk menghapus seluruhnya dari sisa-sisa kebudayaan kolonial setelah Papua mencapai kemerdekaan.

Pada ruang-ruang yang akan dibersihkan itu akan mengisi dengan nilai-nilai, sistem sosial, sistem kultur, pengetahuan, sejarah, adat istiadat, kepercayaan dan memungkinkan kami untuk membangun kestabilan nenek moyang, keluarga dan kominitas. Kestabilan yang menjaga kesinambungan antara manusia, leluhur, kultur, keperyaan dan lingkungan. Itu berarti antropologi yang memperkuat hubungan antara inti dengan manusia, antropologi yang mampu mengembalikan jiwa atau spirit ke-Papua-an untuk Papua. Maka, antropologi Papua kembali ke rumah berarti re-Papua-nisasi manusia dan kebudayaan Papua secara total.

Penulis adalah staf pengajar Jurusan Antropologi Uncen dan kandidat doktor di Universitas Ludwig-Maximilians.

print