Rakyat Papua di Sorong Raya Tuntut Kemerdekaan

0
8083

SORONG, SUARAPAPUA.com — Hari ini, Selasa (19/12/2018), ratusan orang Papua dari wilayah Sorong Raya menyampaikan aspirasi kemerdekaan pada hari aneksasi West Papua ke Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui Tri Komando Rakyat (Trikora) 19 Desember 1961.

Aspirasi menuntut kemerdekaan itu mengemuka dalam beberapa orasi politik pada aksi massa yang dipusatkan di depan supermarket Thio, Remu Utara, Kota Sorong.

Pantauan suarapapua.com, aksi massa dalam rangka 19 Desember 1961 sebagai awal pemusnahan bangsa Papua itu diadakan dibawah wadah Solidaritas Rakyat Papua Barat wilayah Sorong Raya yang terdiri dari KNPB, Sonamappa, AMP, GempaR, FNMPP, FIM-WP, dan Lafas Community.

Seperti sebelumnya, aksi massa kali ini pun dipimpin langsung ketua KNPB wilayah Sorong Raya, Arnoldus Jansen Kocu.

Kocu mengatakan, hari ini rakyat Papua menyampaikan aspirasi kemerdekaan secara santun.

“Masyarakat Papua yang datang untuk melakukan aksi demo hari ini jumlahnya sedikit, karena kami dibunuh habis oleh negara kolonial,” ujarnya.

Peristiwa Trikora, menurut Kocu, tercatat dalam lembaran sejarah bangsa Papua sebagai awal pemusnahan hingga hari ini.

“Trikora 19 Desember 1961 dilakukan setelah manifesto politik Papua 1 Desember 1961 sebagai tonggak kemerdekaan Papua, namun Soekarno mencaplok teritori West Papua, dan sejak itu ribuan rakyat Papua dibantai, dibunuh, disiksa dalam berbagai operasi militer yang dilakukan oleh negara terhadap rakyat Papua Barat,” tuturnya.

Ditegaskan, Trikora diumumkan Soekarno untuk merebut menggabungkan Papua ke dalam Indonesia. Isi Trikora adalah “Gagalkan “Negara Papua” bikinan kolonial Belanda; Kibarkan sang Merah Putih di Irian Barat tanah air Indonesia; dan mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air dan bangsa Indonesia”.

“Tanggal 19 Desember ini bertepatan dengan hari aneksasi bangsa Papua dengan dikumandangkannya Trikora sebagai awal terjadinya perampasan, pemusnahan, penjajahan, pelanggaran HAM di Tanah Papua,” ujar Kocu.

Salah satu orator menyatakan, rakyat Papua terancam punah berawal dari Trikora 1961. Solusinya adalah menuntut hak politik untuk merdeka sebagai satu bangsa berdaulat. “Merdeka solusi menyelamatkan rakyat Papua dari kepunahan,” tegasnya.

Kocu juga membacakan enam poin penting tuntutannya pada aksi massa kali ini.

  1. Berikan hak penentuan nasip sendiri bagi rakyat Papua Barat.
  2. Segera luruskan sejarah politik Bangsa Papua Barat.
  3. NKRI segera tarik pasukan militer organik dan non organik dari Tanah Papua secara umum dan terlebih khusus di wilayah Sorong Raya.
  4. Segera bentuk peradilan HAN di wilayah Sorong Raya Papua Barat.
  5. Segera hentikan kekerasan militer di Nduga
  6. Segera lakukan referendum di Papua Barat secara damai dan demokratis.

Alimin Marsaoli, angota Lafas Community saat berorasi mengatakan, rakyat West Papua tidak perlu diam, tidak perlu takut kepada pemerintah Indonesia.

“Bicara hal yang benar tidak boleh takut. Kalau masih tetap takut untuk bersuara demi kemerdekaan West Papua, maka rakyat Papua akan punah karena pasti pembantaian dan pembunuhan terus terjadi di atas negeri emas ini,” ujar Alimin.

Dari catatan sejarah yang ada, ia mengungkapkan bahwa sejak 19 Desember 1961 hingga kini banyak kasus pembunuhan dan perampasan hak orang Papua masih terus terjadi di Tanah Papua.

“Jangan biarkan itu berlanjut lagi. Mari kita bangkit melawan penjajah di atas tanah air kita ini,” teriak Alimin.

Aksi berlangsung aman. Massa aksi pulang dengan tenang.

Diketahui, Trikora dikumandangkan presiden Soekarno di Alun-alun Utara Yogyakarta, 19 Desember 1961. Bersamaan dibentuk Komando Mandala untuk memulai Operasi Trikora sebagai operasi pembebasan Irian Barat bergabung dengan Indonesia dibawah pimpinan Mayjen Soeharto.

Pewarta: Ferdinan Thesia
Editor: Markus You