Kisah Hidup Ottow dan Geissler Yang Penuh Perjuangan

0
7701

Peringati Hut PI di Tanah Papua yang ke 164 tahun (5 Februari 1855-5 Februari 2019.

1. Carl Wilhelm Ottow

Carl Wilhelm Ottow dilahirkan pada tahun 1826 dari seorang ibu yang saleh. Setiap pagi dan sore bersama dengan anak-anaknya dia berlutut dan berdoa. Dia selalu menekankan kepada anak-anak dan mendidik mereka untuk menjadi orang yang baik. Peran sang ibu di dalam keluarga Ottow ini ternyata merupakan penentu dalam kehidupan rohani. Karena ayah serta keluarga lainnya tidak beriman. Posisi ibu yang sangat dominan ini terutama terlihat di dalam pengawasannya yang ketat dalam mendidik anak-anaknya. “Anak-anaknya tidak akan mengenal rupa dunia ini yang mempesona dan menarik hati. Si ibu mencegah anak-anaknya untuk mengenal godaan-godaan dunia ini”.

Anak-anak diwajibkan pergi ke gereja setiap hari Minggu, tetapi baru pada usia 18 tahun, oleh pemberitaan seorang pendeta, Ottow mulai tertarik hatinya, hingga sejak itu timbul keinginannya untuk menyebarkan ajaran Kristen di antara orang-orang kafir. Hal itu membuat Ottow mulai tergugah minatnya, tetapi ia masih menghadapi suatu tantangan di dalam lingkungan keluarganya yang bukan orang beriman itu.

Ibunya juga tidak mau mengijinkan Ottow pergi jauh karena Ottow selalu membantu dalam banyak pekerjaan di rumah. Selama bertahun-tahun Carl Ottow tetap bertahan dengan doa-doanya. Ia segera berhubungan dengan Gossner dan dalam pertemuan itu ia menceritakan kesulitan-kesulitannya kepada Gossner. Tetapi, ia tidak mendapatkan dukungan dan nasihat yang diharapkan dari Gossner. Sebaliknya, Gossner menulis secara tegas kepadanya: “Kalau orang tua anda berkeberatan, saya pun tidak, sekali lagi saya pun tidak akan menerima anda.”

Tolakan yang tegas ini tidak dapat membuat Carl melepaskan keinginan dan semangatnya. Dengan penuh ketabahan ia melakukan “pekerjaan zending” di lingkungan sendiri. Pada setiap malam dan hari Minggu ia berkeliling. Ia mengunjungi orang-orang sakit dan orang-orang yang membutuhkan bantuan. Ia berhasil antara lain mengembalikan seorang pelacur yang sakit kepada jalan Tuhan, dan di rumah pada hari Minggu ia mulai membentuk kelompok penelaahan Alkitab, yang dengan segera mendapat sejumlah peserta.

Melalui kegiatan-kegiatan rohani ini, ia mampu meyakinkan ayahnya dan saudara-saudaranya, dan membuat mereka terkesan, karena sikap ayahnya akhirnya berubah sedemikian rupa, hingga kemudian si ayah memimpin sendiri doa sebelum makan, yang dilakukannya sambil berdiri (Kamma 1981:40).

Pada salah satu pertemuan di rumahnya, Carl Ottow jatuh pingsan, “jatuh seolah-olah orang mati”. Peristiwa ini membuat orang tuanya berpikir, bahwa jika anaknya dilarang melakukan pekerjaan zending, Tuhan dapat mengambil nyawanya. “Maka itu, sekalipun dengan hati yang berat, mereka pun mengijinkannya pergi”. Sekarang Ottow diambil sebagai murid oleh Gossner, tetapi mengenai lama pendidikannya kita tidak tahu. Satu-satunya yang tercatat ialah: “Setelah beberapa lama Ottow dididik oleh Bapak Pendeta Gossner, maka pada tanggal 18 April 1852, dengan pertimbangan yang matang dan penyelidikan yang tekun, ia pun diambil janjinya oleh Gossner untuk bekerja dengan tekun di antara orang kafir”.

Ottow menulis kemudian, bahwa ia “mengucapkan janji ini dengan kepercayaan akan bantuan Tuhan dan dengan senang hati”. Tanggal 14 Mei 1852 ia minta diri dari orang tuanya dan keluarganya. “Hubungan kasih-sayang diputuskan demi Tuhan, dengan sedih dan sekaligus suka hati”. Ottow kemudian pergi ke Zetten, dekat Hemmen, dan di situ ia bertemu dengan Geissler.

Mengingat apa yang tertulis di atas itu, dapatlah kini diambil beberapa kesimpulan (Kamma 1981:42): Ottow tidak memperoleh kesan positif dari pengaruh kebudayaan Kristen di Barat, tidak pula dari superioritas Barat. Baginya sudah jelas, bahwa lingkungan kebudayaan tertentu di Eropa yang “Kristen” ini tidak memberikan jaminan adanya “kehidupan Kristen yang beriman”; malah sebaliknya. Setiap orang dapat mercari jalan hidupnya sendiri, walaupun jalan itu bertentangan dengan pendapat umum. Dengan mengetahui dan percaya akan hal inilah akhirnya dia melakukan pekerjaan zending di Tanah Papua.

  1. Johann Gottlob Geissler

Johann Gottlob Geissler dilahirkan pada tanggal 18 Pebruari 1830 di Langen-Reichenbach, Jerman. Ayahnya adalah seorang penjahit dari anggota gereja Lutheran yang aktif. Pada waktu itu Johann berumur 14 tahun, ia mencatat dalam buku hariannya sebagai berikut: “Tetapi mengenai kehidupan rohani di dalam diri manusia dan mengenai kelahiran kembali, kita waktu itu belum mengerti”. Setelah pindah ke Berlin bersama ayahnya, ia belajar pada seorang tukang perabot rumah. Johann secara teratur pergi ke gereja, dan juga mengunjungi semacam Sekolah Minggu untuk orang dewasa.

Di atas pintu bangunan sekolah itu tertulis “Pergilah ke seluruh dunia dan beritakanlah Injil”. Geissler langsung terkesan oleh kata-kata ini. Dan lebih dari itu, di sini ia diterima dengan ramah oleh sekelompok besar anak-anak muda, di antaranya calon-calon zendeling, yang memimpin kumpulan-kumpulan doa yang diadakan di situ. Johann Geissler menyadari bahwa kepercayaan adalah akibat dari pilihan, dan bukan dari ikut- ikutan.

Malam Tahun Baru 1849—1850 disebut oleh Johann yang masih berumur 19 tahun itu sebagai malam yang sangat penting: “Mataku mulai terbuka waktu itu, dan Roh Kudus bekerja dalam hati.” Ia mohon dalam doanya untuk menjadi seorang Kristen yang benar, “dan Sang Gembala menerimaku di dalam kasihNya”. Dan waktu ia sedang memikirkan, dengan cara bagaimana ia bisa menjadi milik Kristus dengan cara penuh, muncullah zending di depan matanya. Mengenai ini ia mengatakan: “Dan Tuhan pun memberikan anugerahNya kepadaku untuk berdoa bagi orang – orang kafir yang malang itu”. Ia berpikir untuk mencalonkan diri pada zending, tetapi ia merasa dirinya tidak sesuai untuk itu (Kamma 1981:43).

Pada tanggal 14 Agustus 1851, Johann waktu itu berumur 21 tahun, dalam suatu pesta zending ia mendengarkan khotbah mengenai nats “Pergilah ke seluruh dunia”. Setelah ini ia pun tidak ragu-ragu lagi: ini ditujukan kepadanya. Keraguannya mengenai pengetahuannya, pengertiannya dan kepercayaannya terhapus oleh kata-kata di dalam nats itu: “KepadaKu telah diberikan segala kuasa di surga dan di bumi” (Mat 28 : 18 br). Tetapi selama itu ia sendiri tidak mendaftarkan diri sebagai anggota siswa Zending.

Karena ia mempunyai pandangan sendiri bahwa “Saya tidak mau mendaftarkan diri, karena saya mencari apa yang menjadi kehendak Tuhan, dan saya berpikir: bila Tuhan menghendaki saya maka Ia bisa memimpin dan membawa saya, tanpa saya harus melakukan sesuatu atau pun berusaha, dan jika dikehendakiNya, saya akan diberiNya kebijaksanaan dan akal” (Kamma 1981:45).

Pada suatu hari ia bertemu dengan Gossner dalam suatu “perkumpulan pembinaan”, yang diadakan oleh Gossner untuk para calon zendelingnya. Tanggal 27 Oktober 1851, Johann Geissler diterima di rumah Gossner, dan “di sana dia, dengan doa terus-menerus, membaktikan diri untuk mendalami Sabda Tuhan dan pelajaran seterusnya secara bulat”.

Di atas sudah dinyatakan, bahwa Gossner biasa menampung anak-anak muda itu setidak-tidaknya selama beberapa tahun. Siang hari mereka melakukan pekerjaan tukang atau kegiatan-kegiatan yang lain, dan malam hari mereka mendapat pelajaran. Tetapi ternyata Geissler langsung meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang pembuat mebel. Ia mendapat pelajaran terus-menerus selama tiga bulan, lalu pada akhir bulan Pebruari 1852 ia ditahbiskan untuk melakukan pekerjaan zending (Kamma 1981:46). Kemudian ia menuju Pulau Jawa dan selanjutnya ke New Guinea. 3).

Perjalanan Menuju ke Tanah Papua Pada bulan April 1852 Ottow dan Geissler bertemu di Hemmen Belanda setelah berjalan kaki dari Berlin. Di tempat ini mereka mulai belajar dasar-dasar bahasa Belanda bersama dengan calon-calon Zendeling lain. Pada tanggal 25 Juni mereka naik ke kapal menuju Pulau Jawa dan pada tanggal 7 Oktober mereka tiba di Batavia, kini Jakarta. Pada Oktober Geissler mulai menyelenggarakan satu sekolah di Batavia dan Ottow pergi ke Kampung Makassar, di mana ia membuka sekolah untuk anak-anak Tionghoa dan Sunda.

Pemerintah Hindia Belanda waktu itu telah menetapkan, bahwa para zendeling yang tidak berkewarganegaraan Belanda hanya diijinkan masuk ke Kalimantan. Oleh karena itu mereka menerima ijin dari penguasa di Batavia hanya berlaku sampai di Ternate saja. Pada saat itu Tanah Papua dianggap sebagai bagian dari Residensi Ternate, karena itu Sultan Ternatelah yang harus memberikan ijin masuk ke Tanah Papua.

Di Ternate mereka dibantu oleh Pendeta J.E. Hovekerlah, seorang pendeta dari Indische Kerk (Gereja Hindia Belanda) di Ternate. Ia membantu agar rencana ini tetap dilaksanakan. Ia mengumpulkan keterangan-keterangan dari para pedagang berbagai perusahaan yang dengan teratur mengunjungi Tanah Papua, dan membicarakan rencana menetap di Papua ini dengan pejabat-pejabat yang bersangkutan di Ternate dan Tidore. Selama di Ternate banyak diceritakan hal-hal negatif tentang orang Papua yang berhubungan dengan situasi-situasi yang menakutkan. Orang-orang Papua digambarkan sebagai orang yang jahat, suka berperang dan merampok.

Pandangan ini sesungguh menunjukkan sifat-sifat asli mereka sendiri. Dimana orang-orang Ternate itu datang ke Papua untuk merampok barang-barang orang Papua, mencuri dan menangkap orang Papua yang dapat dijadikan sebagai budak-budak itu. Tetapi semangat kedua misionaris tersebut tidak diruntuhkan oleh desas desus orang-orang Ternate itu. Mereka masih dengan kuat memegang Injil di tangan dan kepercayaan iman di dalam hati mereka. “Ottow dan Geissler tetap tidak mau mengurungkan niatnya. Mereka berpendapat bahwa adalah kehendak Tuhan bagi mereka untuk pergi ke kepulauan orang-orang Papua ini” (Kamma 1981:51).

Pada tanggal 12 Januari 1855, kedua pioner itu berangkat menuju Tanah Papua. Mereka berlayar dengan sekunar “Ternate” menuju masa depan mereka. Sesudah 25 hari kemudian kapal itu membuang sauhnya di hadapan Mansinam. Pada waktu kapal itu mendekati tujuan, kedua orang utusan Injil itu pun menjadi gelisah, tetapi mereka menganggap ini sebagai petunjuk positif.

“Dua malam lamanya kami tak dapat tidur karena gembira”, tulis Geissler. “Anda tak dapat membayangkan”, tulis Geissler kepada Gossner, “betapa besarnya rasa sukacita kami, waktu pada akhirnya tanah tujuan terlihat. Pada tanggal 5 Februari 1855, pada hari Minggu pagi jam 6 ternyata sauh dibuang di labuhan Dore yaitu pulau Mansinam. Matahari terbit dengan indahnya. Yah, semoga matahari yang sebenarnya, yaitu rahmat Tuhan menyinari kami dan orang-orang kafir yang malang itu, yang telah sekian lamanya merana di dalam kegelapan. Semoga Sang Gembala setia mengumpulkan mereka di bawah tongkat gembalaNya yang lembut”.

Dengan segera nanti Geissler akan melihat, bahwa sama sekali tidak ada yang “merana di dalam kegelapan” itu. Sekoci pertama yang menuju  daratan membawa kedua orang penginjil itu ke Mansinam, pada pagi hari tanggal 5 Pebruari, kata-kata ini diucapkan “Dalam nama Allah kami menginjakkan kaki di tanah ini”. Mereka tidak menyebut apa-apa tentang penduduknya, kedua orang itu lalu masuk ke dalam semak-semak lalu berlutut di sana untuk mencurahkan isi hati. Mereka berdoa kepada Tuhan untuk mendapatkan “kekuatan, tenaga, terang dan kebijaksanaan, agar semua dapat dimulai dengan sungguh-sungguh, baik dan agar Tuhan sudi menaruh belas kasihan pada orang-orang kafir yang malang itu” ((Kamma1981:87). Pada hari ini dimulailah sejarah peradaban baru bagi orang Papua itu.

)*Disaduri dari bukunya A. Ibrahim Peyon, dengan judul “Terang Bersinar di Balik Gunung”.