Tege, Camilan Unik dari Dogiyai

0
1536

Oleh: Hari Suroto)*

Serangga banyak dijumpai di Tanah Papua. Terdapat sekitar 100.000 spesies. Dari keseluruhan spesies serangga itu, bisa dikatakan jumlah kumbang yang terbanyak.

Di Kabupaten Dogiyai, misalnya, serangga jenis tonggeret atau dalam bahasa setempat disebut tege, paling banyak diburu untuk dijadikan lauk yang cukup lezat dan dianggap sebagai makanan favorit.

Karena dianggap favorit, anak-anak suku Mee di distrik Mapia, kabupaten Dogiyai, saban hari cenderung mencari tege. Mencari dan menangkapnya merupakan keasyikan tersendiri bagi mereka seusai pulang sekolah.

Mereka menggunakan ranting pohon yang ujungnya diberi getah perekat untuk menangkapnya. Tege biasa hidup di pepohonan, dikenal suka mengeluarkan suara nyaring dan berlangsung lama.

Selain di hutan, tege mudah didapatkan di pekarangan rumah maupun kebun.

Cara mengolah pun sangat mudah. Tege ataupun jankrik hasil tangkapan, mereka akan bakar ramai-ramai untuk dimakan bersama teman-teman atau dibawa pulang untuk dimasak. Kadang juga dibawa pulang dan dimasak dengan cara digoreng. Rasanya gurih dan lezat.

PBB memperkirakan pada tahun 2050, penduduk dunia akan mencapai 9,7 miliar dan manusia terancam kelaparan. PBB mendesak penduduk dunia untuk mengkonsumsi serangga untuk memerangi kelaparan. Serangga mengandung gizi dengan kadar protein tinggi, lemak dan mineral. Serangga juga dianggap sangat efisien untuk dijadikan pangan yang dikatakan lebih ramah lingkungan.

Belajar dari kabupaten Gunung Kidul, provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, ternyata serangga jenis belalang dapat diolah menjadi oleh-oleh khas, bahkan pada hari libur lebaran, harganya bisa mencapai Rp400 ribu per kilogram.

Tege dari Dogiyai yang selama ini hanya dikonsumsi sebagai lauk sehari-hari, sebenarnya bisa diolah menjadi tonggeret goreng dan bisa dijual sebagai oleh-oleh khas Meepago. Dipromosikan sebagai cemilan ekstrim khas Meepago dengan dijual di restoran yang sering dikunjungi turis. Kualitas olahannya tentu harus dijaga agar dilirik penikmat.

)* Penulis adalah peneliti Balai Arkeologi Jayapura.