Kadepa: Kita Harus Tunggu Putusan MK

0
2068

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Meskipun sudah banyak dukungan diberikan kepada Laurenzus Kadepa untuk menjadi ketua Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP) periode 2019-2024, tentunya harus menunggu putusan dari Mahkamah Konstitusi (MK).

“Saya berterimakasih atas dukungan dari masyarakat dan semua yang ada di Tanah Papua, namun inti dari pada itu, kita harus dengar putusan MK yang sementara sidangnya sedang digelar,” kata Kadepa usai menyampaikan pandangan DPRP terhadap kasus Nduga, Kamis (18/7/2019) di P3W Padang Bulan, Abepura, kota Jayapura.

Dukungan itu, menurut Kadepa, hasil penilaian murni yang diungkapkan berbagai pihak. Hanya saja, ia minta kepada para pendukungnya tetap bersabar menanti putusan MK.

“Memang sampai sekarang sudah didukung oleh banyak orang, tetapi saya belum ambil kesimpulan, karena untuk hal ini, tahapannya masih berjalan di MK. Kalau dari hasil rekapitulasi suara tingkat provinsi, memang Nasdem dengan Demokrat unggul,” bebernya.

Kadepa menyebut Partai Nasdem menempati urutan pertama partai peraih suara terbanyak pada pemilihan legislatif tahun 2019. Dari sistem ranking, wajar saja bila dukungan terus mengalir kepada legislator asal Meepago ini.

“Saya respons semua itu. Tetapi kita harus terima keputusan dari MK bersama-sama. Jika ditetapkan Nasdem, maka peta politiknya otomatis saya layak, satunya saya kader pertama dan yang kedua saya memiliki suara terbanyak di partai,” ujar Kadepa.

Nelius Wenda, koordinator Serikat Perjuangan Mahasiswa Papua (Sepaham) di tempat yang sama menyampaikan dukungannya kepada Laurenzus Kadepa memimpin lembaga DPRP.

Bagi Nelius, masyarakat Papua inginkan pemimpin yang berhati rakyat, pemimpin yang selalu hadir di setiap masalah.

“Kita tidak mau orang yang diam dibalik layar dengan harta dan kekayaan negara saja, sementara rakyatnya menderita, ditembak, dibunuh dan lain-lain. Itu kita tidak suka. Kita mau orang yang selalu bicara untuk Papua. Legislatif yang selalu turun lihat di lapangan. Kaka LK layak untuk posisi itu,” tutur Nelius.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You