Lima Hari di Kota Sorong Galang Dana Peduli Yustus Srekia

0
40

KOTA SORONG, SUARAPAPUA.com — Mahasiswa bersama organisasi paguyuban se-Sorong Raya, provinsi Papua Barat, di kota Sorong, melakukan penggalangan dana untuk membantu biaya operasi kanker bibir Yustus Srekia (26) yang diderita selama 21 tahun.

Noak Salamuk, koordinator lapangan solidaritas pedui kemanusiaan, mengatakan, penggalangan dana dilakukan karena merasa iba terhadap Yustus yang kondisinya kian memprihatinkan tanpa ada perhatian dari pemerintah meski pernah dijanjikan beberapa waktu lalu saat kunjungi ke rumahnya.

“Penggalangan dana ini untuk biaya operasi saudara Yustus. Belum ada perhatian dari pemerintah kabupaten Sorong Selatan. Makanya, kami mahasiswa dan pemuda dari wilayah Sorong Raya yang ada di Sorong melakukan penggalangan dana. Kegiatan kemanusiaan ini kami rencanakan selama lima hari,” kata Noak saat dijumpai suarapapua.com di kota Sorong, Kamis (7/11/2019).

Menurut Noak, aksi penggalangan telah dimulai sejak Rabu (6/11/2019). Hasil pada hari pertama, terkumpul sebanyak Rp19 juta lebih.

“Sekarang hari kedua, kami melakukan penggalangan di dua titik lampu merah yaitu lampu merah Gereja Maranata dan kilo meter delapan koto Sorong,” jelasnya.

Aksi penggalangan dana diinisiasi para mahasiswa dari Universitas Kristen Papua (UKiP), Universitas Muhammadiyah Sorong (UMS) dan beberapa kampus lain.

Yulianus Blesia, sekretaris solidaritas peduli kemanusiaan se-Sorong Raya, menjelaskan, Yustus Srekia berasal dari Sorong Selatan sedang membutuhkan uluran tangan sesama.

“Hingga sekarang belum ada upaya dari pemerintah untuk membantu biaya operasi yang begitu besar,” ujarnya.

Blesia menginformasikan rencana Yustus akan dikirim ke Jawa untuk menjalani operasi kanker mulut.

“Biaya operasi pasti sangat besar, tentu membutuhkan uang yang banyak, sehingga kami anak-anak muda pegang karton dan megaphone di lampu merah untuk memohon masyarakat umum Sorong Raya secara suka rela membantu saudara kita yang sedang tidak berdaya,” tutur Blesia.

Salamuk juga berharap kepada Pemkab Sorsel tak melupakan penderitaan dari salah satu warganya.

“Saudara Yustus Srekia sedang menderita kanker ganas, harus mendapat pengobatan yang baik. Bila perlu pemerintah mengawal sampai pada proses operasinya di Pulau Jawa nanti,” pintanya.

Diberitakan media ini sebelumnya, mahasiswa Politeknik Katolik Saint Paul Sorong melakukan penggalangan dana untuk membantu penderita kanker ini.

Aksi penggalangan dipimpin Kalvin Isir, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Poltek St Paul Sorong, Kalvin Isir.

Menurut pengakuan Kalvin, dari penggalangan dana berhasil dikumpulkan Rp30 juta yang selanjutnya diatur untuk membiayai pengobatan pasien tersebut.

“Sesuai informasi yang saya ketahui, Yustus sejak umur lima tahun menderita kanker di mulut. Saat ini dia berumur 26 tahun, jadi menderitanya sudah 21 tahun,” imbuhnya.

Ini dibenarkan Agustinus Semunya, ketua GMKRI Cabang Sorong Selatan, yang merasa sangat prihatin dengan kondisi Yustus.

“Kami sangat prihatin, sehingga kami melakukan penggalangan dana untuk membantu biaya pengobatannya. Dana Otsus yang banyak-banyak itu dikemanakan? Yustus perlu dibantu segera. Jangan tunggu orang mati dulu baru pemerintah sibuk,” ujarnya.

Aksi kemanusiaan mereka, kata Agus, dilakukan di sepanjang jalan utama Kota Teminabuan.

Yustus Srekia, warga dusun Rais, distrik Teminabuan, kabupaten Sorong Selatan, mengharapkan perhatian dari pemerintah dalam hal ini instansi tekni terkait untuk membantu operasi dan pengobatan kanker ganas yang sedang dideritanya.

Kondisi kanker sangat memprihatinkan karena kian membesar bahkan sudah menutupi sebagian besar bagian mulutnya.

Ketika jurnalis Suara Papua mendatangi kediaman Yustus Srekia, Sabtu (5/10/2019), ia mengaku tim dari Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan Sorsel pernah mendatanginya dan mengambil data untuk ditangani sekalian dibiayai pengobatannya.

“Ya, mereka pernah datang dan ambil data lalu pergi. Tetapi, sampai sekarang ini tidak ada respons,” kata Yustus.

Ia bersama keluarganya sudah tak tahu lagi langkah yang mesti mereka lakukan untuk penyembuhannya. Semenjak didatangi pihak dinas, keluarga merasa sedikit legah.

“Sudah tidak ada kabar dari pemerintah, jadi saya dengan keluarga hanya serahkan pada Tuhan dan harapkan belas kasih untuk penyembuhan saya,” ucapnya lirih.

Yustus mengaku tak bisa berobat karena kondisi keluarga yang pas-pasan, sehingga belum bisa membiayainya, apalagi mahal biaya pengobatan dan operasinya.

Pewarta: SP-CR03
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email