Ini Seruan KNPB Peringati HUT Manifesto Politik Bangsa Papua ke-58

0
253

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Pusat meminta rakyat Papua Barat dari Sorong – Almasuh untuk merayakan hari ulang tahun manifesto politik lahirnya embrio negara Republik West Papua dengan doan dan ibadah dengan tenang.

Dalam surat elektronik yang diterima Suara Papua, KNPB menyatakan,  setiap tanggal 1 Desember kita selalu merayakan  sebagai hari manifesto politik bangsa Papua Barat. Hari dimana Atribut bangsa Papua Barat pertama kali diperkenalkan di muka umum oleh tokoh-tokoh proklamator.

Proklamasi kemerdekaan  tersebut telah diakui kuat secara dejure dan defacto. Sehingga seluruh Rakyat Papua Barat dari Sorong sampai ke Almasuh-Maroke Wajib mengheningkan cipta, tundukkan kepala, terutama mengenang kembali semangat awal peletakkan dasar dan api perjuangan ini.

Supaya sejarah lahirnya embrio bangsa ini, tidak dikaburkan oleh jaman dan generasi untuk mengenang juga jasa para pahlawan bangsa yang telah gugur di medan revolusi.

Kita juga wajib hening segenap jiwa dan raga bagaimana  mengantarkan Perjuangan rakyat Papua Barat dengan Utuh ke pintu  gerbang kemerdekaan sejati.

Bulan Desember adalah Hari Penuh damai dan tenang. Dalam Ketenangan kita, tentu Negara (Iblis) tidak akan pernah memilih diam, Iblis selalu menciptakan peluang dan celah bagi kita sekalian.

Maka itu mulai dari hari ini, Kamis 28 November 2019 sampai memasuki bulan Desember, sebaiknya Rakyat Papua memperingati hari Kemerdekaan Negara Republik Papua Barat Ke-58 Tahun dengan tenang merayakan dalam bentuk ibadah.

Memperingati 1 desember biasanya berbeda dan terpisah dengan perayaan atau upacara yang dilakukan oleh Militer Papua Barat (TPNPB-OPM). Militer akan merayakan dalam bentuk upacara Kemiliteran atau Kenegaraan di seluruh  KODAP Teritori Papua Barat.

Ingat, bulan Desember adalah Bulan Kudus dan Bulan Bersejarah bagi kita semua. Tanggal 1 adalah Hari Kemerdekaan Bangsa Papua Barat, tanggal 10 hari HAM sedunia, tanggal 19 hari aneksasi, tanggal 25 hari Natal, tanggal 30 adalah kunci tahun dan di dalam bulan Desember pula banyak Pejuang pro Kemerdekaan yang telah  Gugur.

Oleh sebab itu KNPB Pusat mengimbau agar:

  1. 1 Desember, rakyat Papua secara damai memperingati hari manifesto kemerdekaannya dalam doa ibadah, sekaligus ibadah penyambutan bulan natal yang dimaknai sebagai bulan damai.
  2. Para petinggi TNI POLRI tidak boleh menjadikan konflik Papua sebagai lahan proyek untuk meraup uang negara. Misalnya, 1 Desember di Papua dimanfaatkan sebagai kesempatan untuk mengumpulkan dana pengamanan sebanyak banyaknya.
  3. Kepada TNI POLRI tidak boleh memanfaatkan media lokal dan nasional (elektronik maupun cetak) untuk sengaja memanasi situasi menjelang 1 Desember. Seakan-akan hari berbahaya, membuat masyarakat Asli Papua, Non Papua dan Pemerintah pun ikut ketakutan.
  4. Mulai hari ini, kepada Para Petani, Nelayan, Pekerja buruh, Pejabat kolonial, TNI POLRI, Guru, Mahasiswa, pelajar, dan mama-mama Pasar segera meliburkan diri (tinggalkan semua pekerjaan).
  5. 1 Desember 2019, Tidak ada hubungan dengan Intervensi oleh KOMISI HAM PBB, KOMISI DEKOLONISASI, Wartawan Internasional, Dewan Gereja, ICP, PIF, MSG, atau Negara Asing (Luar Negeri), dengan isu apa pun atas Nama PBB atau Pasifik atau atas nama Papua Merdeka.
  6. Itu adalah isu provokatif – omong kosong belaka atau kata lain menipu rakyat. Jadi jangan rakyat terpancing isu seperti ini. Itu sudah biasa, karena yang sedang bermain isu juga orang yang kita tahu, dia mau korbankan rakyat pada tanggal 1 desember atas nama pribadi dan PBB. STOP, Karena ini juga motif provokasinya sama dengan Korbankan Mahasiswa Ekśodus di Jayapura – Expo pada 23 september bulan lalu.
  7. Kepada Rakyat West Papua bersama 23 Wilayah KNPB dan 4 Konsulat KNPB Boleh Merayakan HUT NEGARA REPUBLIK PAPUA BARAT yang Ke-58 Tahun, sesuai dengan Situasi dan kondisi sosial politik di wilayahnya masing-masing. Jangan mudah terprovokasi dan terlibat dalam aksi anarkis dan kriminal yang justru mengorbankan rakyat dan agenda utama atas nama Papua Merdeka atau isu-isu luar negeri.
  8. Dalam berlangsungnya Ibadah, ada yang berupaya memancing situasi, kemudian mengibarkan Sang Bintang Fajar di tengah-tengah aparat kolonial indonesia atau orang mabuk yang teriak-teriak berarti dia itu adalah provokator yang perlu diamankan secara khusus oleh keamanan KNPB.

Di keluarka  : MABES KNPB  28 November 2019

Pukul.           : 17: 54 WPB

 

Ttd

 

Warpo Sampari Warik Wetipo

Ketua I KNPB Pusat