Delapan Tahun Suara Papua: Dari Kami untuk Papua

0
108
HUT ke-9 Suara Papua

10 Desember 2011 adalah hari dimana Suara Papua lahir. Satu langkah berani dari seorang panutan kami di Suara Papua, Alm. Oktovianus Pogau lakukan. Sejak berdiri, kami sudah ambil sikap untuk tidak jadi jubir “Mati Harga”. Menulis dan mewartakan apa adanya dengan bahasa yang mudah dipahami. Semuanya konten dari Papua. Karena target pembaca kami adalah orang Papua.

Delapan tahun, umur yang masih sangat muda. Untuk sampai di tahun ke delapan ini, banyak tantangan kami lalui. Intimidasi ke wartawan kami, serangan ke web sampai dengan yang paling berharga adalah pembredelan yang dilakukan pemerintahan Jokowi dibawah komando mantan Menkominfo Rudiantara. Tepatnya bulan November – Desember 2016. Saat itu Alm. Okto sudah berpulang di awal tahun. Saya menggantikan posisinya menjadi sopir pada Suara Papua. Suara Papua dibredel pas waktu sa baru jadi sopir untuk media ini baru delapan bulan.

Teman-teman LBH Pers Jakarta sangat memberikan perhatian penuh. Mulai dari advokasi sejak diblokir hingga kembali dibuka. Selain itu, AJI dan semua orang yang peduli terhadap Papua. Tanpa mereka, mungkin saat itu Suara Papua sudah tidak jalan lagi. Terima kasih untuk itu.

2011 – 2014 kami membuktikan diri bahwa kami bisa bertahan tanpa apa pun. Bisa bekerja dengan kerja bakti. Semua anak-anak muda. Ada yang hanya taruh nama, ada yang bekerja dengan sungguh-sungguh meski tak pernah ada seribu rupiah yang dihargai. Inilah kenapa saya bilang kerja bakti.

2014 – 2016 kami mencoba untuk menata dan atur sebuah langka yang baik. Ini langkah penting. Sebab satu modal penting adalah semangat dan terbukti bisa bertahan tiga tahun. Biasanya media kalau mau hancur atau tidak jalan, bisa dilihat di tahun kedua dan ketiga. Tahap ini kami lewati dengan baik.

Dengan keterbatasan yang ada, semangat yang ada, anana muda Papua yang berani dan tak pernah lelah masih semangat, kami tetap jalan. Januari – April 2017 situs ini mati karena diserang lewat bot. Alm. Bernard Agapa memberikan perhatian besar. Saya ke Jakarta. Kami lakukan usaha-usaha kecil untuk selamatkan situs ini. Dan di bulan April situs ini kembali mengudara. Anak-anak muda, yang jadi aset penting Suara Papua, mulai bingung. Karena empat bulan situs ini taduduk. Tapi pas saya kabari bahwa sudah mengudara, senangnya bukan main. Sama dengan pas siang-siang panas bahaya baru ada yang siram air. Semangat mereka luar biasa.

Saya fokus dan berkomitmen untuk membuat dan menata lagi dari awal. Bersama beberapa staf yang luar biasa, kami rencanakan dan targetkan untuk lebih maju dari sebelumnya. Tahun 2017, kami punya kantor sendiri. Tetapi mulai aktif berkantor tahun 2018. Karena kami perlu benahi dan lengkapi alat-alat kerja yang bisa mendorong kerja-kerja kami. Dalam dua tahun, kemajuan cukup baik. Dan akhirnya, kami bisa punya kantor dan bisa berkantor di kantor kami sendiri. Bagi kami, ini pencapaian besar yang kami capai.

Tahap kedua adalah kami berkomitmen untuk benahi SDM kami. Beberapa kontributor tersebar di beberapa wilayah. Di Papua dan di Indonesia. Dan pas 2019 tinggal sedikit. Saya tetap berkomitmen untuk benahi SDM. Untuk internal, kami lakukan pada pertengahan tahun. Berjalan dengan baik hingga selesai. Pada bulan ke 10 kami bikin perekrutan terbuka untuk anana muda agar bisa menjadi jurnalis di Suara Papua. Satu hal yang cukup bikin hati legah adalah pelamar tercatat ada 48 orang, sedangkan yang kami butuhkan adalah 15 orang untuk ditempatkan di tujuh wilayah adat di Tanah Papua. Tahap kedua, 25 orang dinyatakan lolos ke tahap berikut. Dari 25 orang, kami seleksi lagi. Proses seleksi cukup ketat. Dan berhasil kami dapatan 15 nama anak-anak muda Papua. Berikutnya, kami lakukan training. Selama sebulan ini mereka menjalani masa trial. Dan mereka lewati dengan baik. Dengan daya yang ada, Suara Papua terus berjalan.

Dari kami untuk Papua?

Ini tidak benar! Memang saya akui, kami tidak banyak buat dan berarti. Dan kalau saya bilang kami banyak berbuat untuk Papua, tidak benar. Karena sejatinya kami hadir untuk menjadi kawan dan sobat orang Papua. Kami hadir untuk menjadi alat yang bisa digunakan untuk suarakan apa yang hari ini orang Papua rasa, alami, jalani dan lihat.

Sebagai media massa yang ada di Tanah Papua, kami tetap menyediakan ruang, memberikan ruang bagi orang Papua untuk menyampaikan apa pun yang sedang orang Papua alami dan jalani.

Soal yang lain, saya sama sekali tidak punya hak untuk menilai diri saya sendiri (Suara Papua). Yang bisa menilai dan memberikan penilaian adalah anda semua, para pembaca.

Dan hari ini adalah hari dimana Suara Papua lahir delapan tahun lalu. Terima kasih untuk Alm. Okto Pogau, Alm. Marselino Tekege dan Alm. Bernard Agapa yang sudah lebih dulu mendahului kami.

Saya juga patut memberikan selamat untuk para wartawan Suara Papua yang hari ini merayakan ulang tahun ke-8. Saya berharap agar tetap semangat untuk menjadi yang terbaik untuk pribadi, keluarga dan Papua.

Selamat HUT ke-8 Suara Papua.

Arnold Belau
Pemimpin Redaksi Suara Papua