Peringati HUT ke-81 Injil Masuk di Paniai, Jemaat Diminta Bersatu

0
60

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Bertepatan dengan masuknya Injil di Enarotali, Paniai, pada 13 Januari 1939, Gereja Kemah Injil (Kingmi) di Tanah Papua Koordinator Paniai, hari ini (13/1/2020) adakan ibadah perayaan HUT ke-81 di Gereja Antiokhia Iyaitaka, Enarotali.

Ibadah dengan tema bertajuk “Dimana Saudaramu, Umat Kingmi di Tanah Papua?” ini diikuti ribuan jemaat dari 12 Klasis se-koordinator Paniai, Sinode Papua.

Pendeta Tilas Mom, lewat khotbahnya yang terambil dalam Kejadian 4:9, Roma 1:16-17 dan Lukas 4:18-19, berharap karena masih banyak yang belum terima Injil secara utuh, Injil harus terus diberitakan dimana-mana, terutama di daerah-daerah terpencil yang hingga kini belum disentuh Injil.

“Tetapi pertama mari kita mulai dulu dari keluarga (suami, istri dan anak) iman Kristus harus kuat. Lalu keluar ke jemaat dan tempat dimana kita bekerja. Dan paling penting adalah ke anak-anak kita yang masih dipengaruhi miras, cium aibon, seks bebas dan lain-lain. Jangan kita alergi dengan mereka. Mereka harus kita selamatkan, bagaimanapun juga,” ujar Tilas.

Menurut sekertaris Sinode Kingmi Papua ini, supaya demikian, seluruh jemaat harus bersatu kuat dalam iman dan saling mendoakan satu sama lain, orang Papua pada umumnya dan khusus jemaat Kingmi Papua.

“Kita mungkin di sini sekarang aman bisa beraktivitas bebas. Tetapi saudara-saudara kita di daerah lain tidak. Mau tidur, mau makan dengan aman saja tidak bisa. Maka, kami Sinode Papua ajak mari semua jemaat di Tanah Papua saling mendoakan dan membantu apa yang bisa kita berikan ke sesama kita. Karena dengan demikian, kita wujudkan cinta kasih Allah dalam diri kita,” ujarnya.

Pdt. Gerald Gobai, ketua koordinator Paniai Sinode Papua, dalam sambutannya, mengatakan, ibadah ini merupakan bentuk ucapan syukur atas amanah Allah bisa hadir di Paniai dan Papua pada umumnya sejak 81 tahun yang lalu.

“Sehingga pesan inti di hari istimewa ini yang kami pimpinan gereja mau sampaikan adalah kita dari jemaat, klasis, koordinator sampai tingkat sinode harus bersatu kuat. Tidak boleh tercerai-berai. Saling benci, marah, musuh dan semua yang tidak baik, yang bikin kita hancur, mari tanggalkan,” kata Gerald kepada jemaat yang datang dari 12 Klasis.

Karena, lanjut dia, kalau sudah bersatu, semua yang tidak diinginkan seperti pertumpahan darah dimana-mana serta lainnya di atas tanah Papua, tidak akan terjadi.

“Dan dengan sendirinya sikap saling hargai menghargai itu akan muncul. Masyarakat akan hargai pemerintah dan sebaliknya dalam melaksanakan kegiatannya masing-masing,” ujarnya.

Martinus Degei, ketua panitia, mengaku sangat bersyukur kepada Tuhan karena kegiatan ibadah berjalan lancar walau kesiapan dan persiapan yang dilakukan sangat mepet.

“Panitia dibentuk tanggal 6 Januari 2020. Tanggal 7 sampai 12 kemarin, kami kerja keras siapkan semua-semuanya. Ini waktu yang sangat singkat, apalagi ini acara besar. Tetapi puji Tuhan, tidak ada kendala, semua berjalan lancar. Tuhan luar biasa,” ucapnya saat ditemui suarapapua.com usai ibadah.

Degei katakan, acara bisa terlaksana berkat dukungan seluruh jemaat dari 12 Klasis. “Kepada mereka, kami berterima kasih sekali. Karena lewat sumbangan wajib per Klasis dan sukarela mereka, perayaan ini bisa berjalan lancar. Tuhan memberkati mereka,” ungkapnya.

Untuk diketahui, dalam perayaan ibadah ini, ada beberapa acara yang diisi diantaranya sumbangan lagu dari gabungan Sekolah Minggu koordinator Paniai dan dari gabungan Klasis. Juga, pemberian penghargaan berupa uang transportasi dari pengurus koordinator Paniai kepada pendeta-pendeta tua zaman Belanda.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Arnold Belau