Lockdown: Selamatkan yang Tersisa dari Novel Coronavirus

0
1808

Oleh: Rawap)* 

Seandainya, Covid-19 itu pace komen satu di tanah Tabi, besok dia bisa jadi Wali Kota Jayapura. Bagaimana tra bisa Wali Kota? Setelah tampil macam artis di segala macam siaran berita di televisi. Covid-19 yang berawal dari Tikus pu bapa tua yang kerja di perhubungan malam,  yaitu kelelawar  yang dong pasarkan di pasar, di Kota Wuhan Negeri Cina. Langsung barang itu viral di banding kampanye BMD belakangan ini! Gilanya, Covid-19 yang juga dibilang virus Corona itu, dong duduk sosialisasi dari dalam gereja sampe di para-para pinang. Tidak padang bulu; ko mau mahasiswa ka, nelayan ka, buruh pelabuhan ka, ANS ka, supir taksi ka, penjaga toko ka, , apa lagi yang belum sa sebut itu, semua duduk sosialisasi virus Corona dia. Padahal  de tidak kasih dong gaji untuk sosialisasi dia. Sa heran saja.

Sa tamba heran karena kemarin di pasar ikan Hamadi waktu sa sengaja, mau kasih kaget anak-anak tukang catut ikan, sa yang kaget. Karena anak-anak tukan catut ikan di pasar yang biasanya duduk tunggu perahu nelayan pasti sambil cerita Papua merdeka, tiba-tiba jadi relawan satgas penanganan virus Corona yang dipimpin Doni Mordano. Jadi ada satu orang yang pu tugas sosialisasi Virus Corona, baru yang lain duduk dengar. Dong duduk dengar sosialisasi satu arah sampe tidak sadar kalau sudah ada perahu-perahu nelayan yang sandar di dermaga pasar lelang ikan.

Sebenarnya sa mau tegur dong untuk jangan sibuk sosialisasi virus corona. Dong harus tetap fokus sosialisasi tidak langsung di pasar hamadi dengan cerita perjuangan supine[1] antar dong saja. Siapa tahu ada amber-amber[2] di pasar Hamadi yang teragitasi dengan dong punya cerita, itu kan bagus. Guna bangun solidaritas amber untuk perjuangan supine di Papua.

Baca Juga:  Vox Populi Vox Dei

Tapi sa kurungkan niat itu. Karena memang kitong tidak bisa anggap enteng virus Corona. Virus Corona/Covid-19 bukan kandidat kuat dalam bursa pemilihan Wali Kota di daerah matahari terbit karena masih ada BMD (Boy Markus Dawir). Juga Corona dia bukan artis, pula bukan manusia. Tapi deeeemmii virus Corona dia tidak bisa dianggap enteng karena dia adalah virus yang belum sampai setahun viral. Tetapi dia sudah menjangkit 156.400 orang dengan kasih mati 5.800 orang di seluruh dunia (angka ini dinamis). Sungguh mengerikan. Sudah begitu, badan kesehatan dunia (WHO) sudah menetapkan Covid-19 wadah pandemi yang dapat menular dengan cepat melalui udara dan cairan tubuh.

ads

Jadi coba sekarang kitong bayangkan virus corona dia punya  bahaya itu. kitong tidak hanya akan geleng-geleng kepala. Namun jika kitong manusia pasti ada rasa was-was dalam kitong pu diri ketika kitong tahu virus corona dia punya bahaya itu. Kitong lihat saja! Amerika yang dalam segala hal kitong orang Papua angkat dua jempol buat dia saja, kemarin (Sabtu/14 Maret/2019), dia punya tua Presiden buang handuk dan putuskan. Bahwa terkait virus Corona, Amerika ditetapkan dalam keadaan darurat nasional.

Baca Juga:  Indonesia Berpotensi Kehilangan Kedaulatan Negara Atas Papua

Tapi ada yang aneh dengan pace Gubernur, Wali Kota dan para Bupati yang ada di Papua dong punya otak. Dong lebih takut Presiden Jokowi yang hanya menang bicara banyak waktu kampanye daripada dong punya jutaan suara yang waktu coblos dong, yang sekarang lagi dalam ketakutan. Jutaan suara pemilih ini ada yang takut sampe tidak pergi ke gereja hanya untuk menghindari diri dari kerumanan orang yang membawa resiko lebih besar dan cepat terjangkit coronavirus.  Seperti yang  pace Jokowi bilang dalam komfrensi pers di Istana Kepresidenan yang ada di Bogor, pada (Senin, 16/03/2020), di Kompas TV- Jakarta. Bahwa tidak ada lockdown di daerah tanpa perintah pusat. Presiden hanya mengajak warga untuk menjaga jarak, dan mengurangi kerumanan orang yang membawa resiko lebih besar.

Ada lagi pesan dari tuan Jokowi! Dia ajak cuci tangan. tetap belajar, tetap bekerja dan tetap beribadah. Ajakan ini memang gila karena ajakan pertama Jokowi bilang mengurangi kerumanan orang, tapi ajakan lain bilang tetap bekerja dan tetap belajar, dan tetap beribadah. Padahal semua perintah itu, pasti tidak bisa terhindar dari yang namannya kerumanan.

Sa jadi heran sampe mau jadi hermanus lagi. Karena para kepala daerah di Papua dong berfikir kitong orang Papua punya fisik secara alami sudah ditempah dengan kitong punya kondisi geografis jadi nanti kitong bisa selamat dari bahaya coronavirus. Kalau memang dong berfikir demikian maka dong benar-benar kurang bacaan dan tidak peduli sama kitong sesama orang asli Papua. Dong punya otak sama dengan Jokowi yang mau bunuh kitong orang asli Papua sampe habis baru dong kuasai kitong punya tanah yang kaya akan sumber daya alam ini.

Baca Juga:  Musnahnya Pemilik Negeri Dari Kedatangan Bangsa Asing

Tapi kalau memang sa salah dan keliru soal kitong punya kepala-kepala dearah yang hari ini bersikap lombo-lombo loyo terhadap Jakarta. Maka sebaliknya, dong akan membangkang terhadap pernyataan tuan Jokowi dan dong nyatakan Papua lockdown. Dong nyatakan Papua lockdown bukan karena otoritas terkait di Papua telah menyatakan Bumi Cendrawasih darurat virus corona. Tetapi karena virus corona yang belum viral satu tahu saja sudah bunuh ribuan  manusia di Dunia. Baru dia mau bunuh siapa ladi di Papua!? Orang Papua sudah mau punah diatas negerinya sendiri. Jadi yang sisa ini harus dong jaga baik.

Menurut saya, coranavirus dalam waktu tidak lama ini akan menggemparkan Papua. Karena sudah ada satu pasien positif terifeksi virus corona karena memiliki kontak terkahir dengan pasien nomor 50 yang sudah meninggal di Bogor. Dan tentunya pasien itu sudah punya kontak langsung dengan orang-orang di sekitarnya. Jadi belum terlambat bagi kepala daerah di Papua untuk menerapkan lockdown di Bumi Cendrawasih untuk jaga orang Papua yang sisa-sisa ini.

)* Penulis adalah aktivis SONAMAPPA

Referensi:

[1] Bahasa dalam suku Biak = tanah ini.

[2] Bahasa dalam suku Biak = orang berada yang kemudian dikonotasikan menjadi orang pendatang.

Artikel sebelumnyaUntuk Pertama Sejak Wabah Dimulai, Cina Laporkan Tidak Ada Kasus Corona Baru
Artikel berikutnyaIkatan Alumni FH Uncen Bikin Raker Perdana