Tanah PapuaMamtaUdepouya Park Sangat Cocok Anda Kunjungi Selama PON XX Papua

Udepouya Park Sangat Cocok Anda Kunjungi Selama PON XX Papua

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Memang Tanah Papua memiliki beragam destinasi wisata menarik dikunjungi orang. Wisata alam dengan keindahannya tak kalah memikat hati tatkala dikunjungi, bakal menyejukkan batin yang amat berkesan.

Tak salah bila Udepouya Park memberi pilihan bagi wisatawan domestik yang telah berdatangan bersamaan dengan ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Tanah Papua. Event nasional empat tahunan itu akan dibuka secara resmi oleh presiden Joko Widodo, hari ini, Sabtu (2/10/2021).

Yan Awikaituma Ukago, pemilik Udepouya Park & Toneeowa Jr, membuka pintu bagi siapapun yang hendak berkunjung ke taman indah karyanya.

Awikaituma menyadari, tamu dari berbagai provinsi ke Papua baik sebagai panitia, ofisial, atlet maupun penonton tentu tak saja sekadar menyaksikan pertandingan demi pertandingan dari berbagai cabang olahraga di arena PON XX.

Mereka umumnya pasti penasaran dengan indahnya alam Papua. Setiap kontingen kemungkinan sudah rencanakan mau berkunjung ke tempat-tempat wisata. Karena itu, ia menyediakan taman asri yang sangat layak untuk dikunjungi.

“Selama ini memang saya tidak pernah pungut biaya sedikitpun. Banyak orang usulkan harus begitu, tetapi saya gratiskan siapapun boleh berkunjung. Semua bebas masuk dan menikmati alam indah ini mahakarya Allah,” tutur Yan kepada suarapapua.com.

Jelang PON XX, ia terpaksa memasang tarif bagi setiap pengunjung Taman Udepouya. Tarifnya tak terlalu mahal.

“Selama PON ini dengan berat hati saya pasang tarif untuk hargai anak-anak yang selama ini tinggal di rumah, biasa sapu-sapu dan saya minta tolong kerja,” kata Awikaituma.

Menikmati keindahan panorama Jayapura dari ketinggian dengan alam nan asri dan segarnya  udara sudah banyak diakui oleh orang-orang yang pernah berkunjung ke Udepouya Park. Kesan mereka bahkan disebarluaskan sejak tahun 2014 hingga taman indah ini mulai terkenal.

Taman Udepouya terletak di Jl. Serui nomor 95, Dok VIII, Jayapura Utara, Kota Jayapura.

“Kami buka selama beberapa hari, dan akan ditutup pada tanggal 28 Oktober mendatang,” jelasnya.

Anda boleh menikmati keindahan kota Jayapura dari Taman Udepouya. (Dok. Pri.)

Dengan Hati

Awikaituma mengakui Taman Udepouya merupakan buah tangannya sendiri. Ia kerjakan dengan hati.

Bermodalkan talenta untuk atur taman sejak kecil, ia akhirnya sulap daerah gersang itu menjadi sebuah taman yang amat menyenangkan bagi setiap pengunjung.

Baca Juga:  FAO Bareng Masyarakat Yoboi Tanam dan Kelola Sagu Sebagai Pangan Lokal

“Tanah ini saya miliki tahun 2005 dari Mama Meraudje, yang punya tanah. Kemudian saya jadikan kebun singkong, tetapi tidak subur karena gersang, kondisi tanah kering merah berdebu. Pada tahun 2009, saya coba tanam pohon buah, tetapi kurang subur juga. Karena kondisinya begitu, saya akhirnya berusaha keras hingga bisa bikin taman ini,” tuturnya.

Dari Udepouya Park menikmati indahnya alam Kota Jayapura. (Dok. Pri.)

Awikaituma merasa bersyukur mendapat tanah berkelas yang harusnya sudah dimiliki pengusaha besar atau para pejabat.

“Saya rasa Tuhan jaga sampai saya tiba di tahun 2005. Tuhan tahu saya punya hobby dan talenta dan saya bisa wujudkan itu.”

Hingga menjadi taman bagus yang ada sekarang, ia memulainya sejak tahun 2006. Itu setelah tinggalkan rumah dinas PU Papua di Kotaraja, dan memilih bikin pondok sebagai tempat tinggal di Dok VIII.

Rumah kecil itu didirikan setelah tahun 2010 diberikan bantuan berupa material oleh Jansen Monim, kepala dinas PU Papua, tempat Yan Ukago bekerja.

“Rumah kecil itu di kondisi tanah yang gersang. Debu tanah merah selalu tertiup kalau ada angin. Dinding rumah jadi noda debu warna merah, jadi tiap saat saya selalu siram. Karena itu kemudian halaman rumah saya lapis dengan tanah hitam dari Sentani serta tanaman rumput dan pohon cemara serta pohon lain. Rumput saya kumpul-kumpul di pinggir jalan, selalu bawa parang dan sekop di mobil. Itu sudah hobby, jadi saya kerja tiap hari kalau ada waktu kosong,” Ukago mengisahkan.

Setelah tanah merah yang ditutupi dengan tanah hitam, rutin disiram dan coba tanam bunga selalu gagal, tetapi lambat laun mulai tumbuh baik.

“Sejak itu saya mulai tanam rumput. Tahun 2012, rumput dan bunga mulai tumbuh. Saya ambil rumput di pinggir jalan, rumput yang merayap. Saya kerja sendiri. Istri juga tidak tahu saya ambil rumput dimana. Beberapa bunga saya beli di tempat jual tanaman hias,” tuturnya.

Bunga dan pohon hias yang dibeli di taman hias Waena, jika dihitung sejak tahun 2010 hingga sekarang sudah habis Rp20 juta.

Ini waktu pertama kali Awikaituma masuk tahun 2006, tampak gersang dengan tanah merah, tiada yang hijau seperti sekarang. (Dok. Pri.)

Dengan modal pengetahuan dibarengi jiwa seni yang dimilikinya hingga Udepouya Park bisa ada. Prinsip utama dalam penataan lingkungan di taman ini, tidak ganggu alam, semua tumbuh dengan kebebasan yang Tuhan beri.

Baca Juga:  Pembangunan RS UPT Vertikal Papua Wajib Perhatikan Dampak Lingkungan

Awikaituma berprinsip, untuk menghargai ciptaan Allah, tanah-tanah yang ada tidak dirubah, tidak ratakan, semua dibiarkan apa adanya. Ia hanya tata bagian-bagian tertentu saja, rapikan bagian yang orang lalai. Batu, pohon pinang, rumput tetap hidup harmoni bersama manusia.

“Semua pohon yang ada tidak ditebang, kecuali bagian yang ada aktivitas manusia. Tempat genangan air hujan juga saya buat kolam kecil. Semua hidup harmoni dalam satu ekosistem. Tanah halaman juga tidak diratakan. Tidak gunakan alat berat, lekukan tanah semua seperti saat awal saya masuk, hanya rapikan dengan sekop agar mudah tanam rumput,” bebernya.

Hutan di taman ini buatan, tetapi tampak terasa alami.

“Ini yang menjadikan Taman Udepouya beda dengan taman lain. Banyak tamu yang datang merasa betah dan takjub melihat kondisi taman. Mereka bawa berita, mulai tahun 2014 halaman rumah ini menjadi terkenal. Ini rumah pribadi saya, tidak dibangun oleh pemerintah.”

Gratis

Setelah mulai terkenal, Awikaituma akui banyak orang berbondong-bondong ke Udepouya Park. Jumlah yang datang, sebelum pandemi Covid-19, yakni antara tahun 2104 sampai 2019, bisa mencapai 120 hingga 200 orang perhari.

“Kami tidak pernah kenakan tarif masuk. Saya merasa tanah ini Tuhan beri, saya beli harga murah, uang awal 15 juta rupiah, kemudian belakangan saya tambah 50 juta rupiah untuk perluasan lahan. Dengan view yang indah, harga tidak semurah,” kata Awikaituma.

Selama ini di taman tersebut sudah digunakan untuk banyak kegiatan. Misalnya untuk acara, halaman taman dipakai oleh anak-anak sekolah, acara pramuka, foto prawedding, acara nikah, ibadah denominasi, dan acara khusus lainnya.

“Acara anak-anak sekolah seperti ujian seni budaya dan pramuka sudah sekitar 20-an kali. Acara prawedding sudah sekitar 30-an kali,” katanya.

Disediakan juga tempat bersantari ria di taman ini. (Dok. Pri.)

“Untuk acara nikah, di taman saya sudah dua kali, yaitu pasangan Thedy Pekei, kemudian pasangan Emanuel Modhy Giyai. Ada juga acara TV Papua dua kali. Kemudian, selama Covid-19, izin lokasi dari Dewan Paroki Waena untuk buat video ibadah Lumen Christi. Dan beberapa kegiatan kecil lainnya. Ya, termasuk foto-foto dari semua pengunjung,” urai Awikaituma.

Baca Juga:  Inilah Sikap Resmi KNPB Terhadap Agenda Pemilu 2024

Semua acara yang diadakan di Taman Udepouya termasuk pengunjung tak dipungut biaya. Baginya, hanya satu alasan, lokasi ini Tuhan beri melalui Mama Meraudje dengan harga murah.

“Dulu saya tata halaman ini hanya hobby saja, tidak ada dalam otak saya untuk bisniskan.”

Awikaituma justru merasa heran mengapa makin hari orang yang datang ke tamannya makin banyak.

“Awalnya saya sempat tutup pintu pagar, tetapi akhirnya saya kewalahan juga buka tutup, akhirnya saya biarkan terbuka sepanjang masa, gratis.”

“Tetapi kali ini dengan izin Tuhan, kami kenakan tarif, itu juga selama PON saja,” imbuh Ukago.

Salah satu bagian dari Taman Udepouya di Dok 8, Kota Jayapura. (Dok. Pri.)

Banyak Keunikan

Mulai tahun 2013, anggota keluarga Awikaituma bertambah banyak. Rumah kecil awal itu ditingkatkan menjadi dua lantai dengan bahan beton.

Empat tahun kemudian, pada tahun 2017, bagian depan rumah dirombak, dinding batu tela diganti dengan papan kayu. Ia yakin, rumah papan lebih serasi dengan alam yang hijau.

Di taman indah yang dikelolanya terdapat tempat foto di bagian bawah taman yang menjorok ke jurang. Itu ia bangun dengan struktur beton senilai Rp200 juta.

Biaya cukup besar juga Awikaituma keluarkan untuk bangun gazebo Honai, bikin kolam ikan tempat tampung air hujan, talud taman samping turun, jembatan masuk, gapura, pagar, termasuk ratakan tempat parkir dan talud penahan, dan biaya kecil lainnya yang tidak disebutkan satu persatu.

“Sudah ratusan juta rupiah saya pakai untuk bangun Taman Udepouya. Penataan taman ini tidak ada unsur tukang luar. Semua anak-anak di rumah sendiri yang kerja. Saya tinggal kasih arahan sesuai imajinasi.”

Kunjungi Taman Udepouya akan memberi kesan tersendiri. (Dok. Pri.)

Satu dari banyak keunikan di Udepouya Park, terdapat batu di tengah taman yang suka dipilih pengunjung untuk berpose dengan latar pemandangan laut dan kota Jayapura.

“Itu batu buatan dari semen. Waktu itu saya oleskan dengan tanah merah, akhirnya nampak seperti batu asli. Semua orang heran pakai cat apa, padahal cuma lumuran tanah merah. Ini konsep murah meriah,” kata Awikaituma.

Pewarta: Markus You

Terkini

Populer Minggu Ini:

Hasil GCC: Ratu Viliame Seruvakula Terpilih Sebagai Ketua Adat Fiji

0
“Kami sekarang sampai pada titik di mana melihat hasil kajian ini cukup jelas bahwa selama beberapa tahun terakhir, masyarakat menjadi lebih sadar dalam mencari sesuatu untuk membantu mereka, membimbing mereka maju, terutama kaum muda,” kata Viliame.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.