ArtikelCatatan Aktivis PapuaPerlawanan adalah Jalannya Kemerdekaan

Perlawanan adalah Jalannya Kemerdekaan

Oleh: Omikson Balingga)*
Penulis adalah sekretaris diplomasi KNPB Pusat

13 tahun KNPB melawan ilegalitas pendudukan kolonial Indonesia di West Papua. 13 tahun pula puluhan aktivis KNPB dipenjara, masuk Daftar Pencarian Orang (DPO), ditembak, dan diracuni.

Perlawanan KNPB, tujuannya adalah bangsa Papua bisa merdeka.

KNPB pahami bahwa perlawanan dan kemerdekaan memiliki makna terwujudnya demokrasi di tangan rakyat Pejuang bangsa Papua secara utuh, maka perjuangan haruslah bermakna pada revolusi demokratik.

KNPB pahami bahwa kemerdekaan bukanlah sekedar deklarasi, proklamasi, atau melahirkan negara dan pemerintahan. Bukan pula sekedar mengganti kekuasaan “asing” ke tangan “pribumi”. Bukan itu!. Perlawanan KNPB selama 13 tahun adalah situasi dimana rakyat bangsa Papua benar-benar mengambil alih kekuasaan untuk menghilangkan kekuasaan itu sendiri (demokrasi sepenuhnya) merebut tanah da manusia Papua bebas dari segala bentuk penindasan.

Pembebasan tanah dan manusia sepenuhnya hanya akan terwujud bila dalam tindakan nyata perlawanan rakyat pejuang, seutuhnya didasarkan pada kesadaran perjuangan rakyat bangsa Papua itu sendiri; di saat rakyat mengkonsolidasikan diri dan menentukan pilihan politiknya sendiri; di saat rakyat Papua mampu memisahkan diri dari kesadaran palsu, dari budaya ikut-ikutan, menuju perjuangan revolusioner.

Baca Juga:  Freeport dan Kejahatan Ekosida di Wilayah Suku Amungme dan Suku Mimikawee (Bagian 4)

Perjuangan revolusioner adalah perlawanan rakyat pejuang yang didasarkan pada perjuangan pembebasan Papua seutuhnya; menghancurkan segala bentuk penindasan melalui gerakan perlawanan bersama; perlawanan oleh dan dari setiap manusia tanpa batas suku, agama, budaya, jenis kelamin, dan golongan.

Karena itu, 13 tahun KNPB hanya memediasi kemauan politik rakyat West Papua melalui aksi-aksi demokratis. Sebab rakyat tertindaslah yang memahami penindasan dan jalan keluarnya; bukan oleh segelintir elit kolonial maupun kelompok nasionalis borjuis dengan dengan segala politik koptasinya. Itu tidak!.

13 tahun konsistensi KNPB pada gerakan perlawanan rakyat secara demokratis adalah sebagai bagian dari perjuangan revolusi demokratik bagi negara-negara dunia ketiga seperti Indonesia yang belum mencapai pembebasan nasionalnya, dimana mestinya diwujudkan dengan memerdekakan bangsa Papua.

Dalam konteks demokrasi yang demikianlah, KNPB meminta Indonesia agar mewujudkan hak penentuan nasib sendiri bangsa Papua; membuka ruang demokratik melalui referendum yang damai kepada bangsa Papua untuk menentukan pilihan politiknya sendiri.

Tindakan memaksa, menghalangi dan menghancurkan kehendak rakyat Papua dengan dalil kosong “Integritas NKRI” itu menunjukkan kemanusiaan Indonesia yang tidak beradab; yang tidak memiliki makna demokrasi seutuhnya, melawan segala nilai dan falsafah konstitusi bernegara, yang tidak pantas diterapkan dalam peradaban manusia yang sudah maju.

Baca Juga:  Mengungkap January Agreement 1974 Antara PT FI dan Suku Amungme (Bagian II)

Bernegara sendiri itu mesti merupakan hasil maju dari kemandirian untuk menjalankan demokrasi untuk memenuhi kehendak bersama dari rakyat yang sebelumnya terjajah menjadi bebas dari struktur penindasan; dan itu dimulai dari kehendak bersama. Manifestasi kehendak rakyat itulah yang melandasi gerakan perjuangan KNPB.

Kaum progresif revolusioner inilah yang mesti mengambil jalan di depan memimpin sikap kaku rakyat pejuang tertindas Papua yang telah lama mendendam sakit hati penindasan. Kaum progresif tidak memaksa kehendak rakyat tetap duduk, berdiri, bertahan dan maju bersama-sama dengan rakyat, menghadapi setiap penindasan yang dihadapi secara nyata.

13 tahun KNPB melakukannya dengan segala pengorbanan, dan kesetiaan membuat kita meyakini bahwa perubahan (revolusi) adalah suatu kenyataan dari proses maju mundur, mati hidup, jatuh bangun, rusak perbaiki. Inilah esensi kemajuan dari setiap perjalanan panjang, bahwa hidup adalah perjuangan sampai menang. “Perlawanan adalah jalannya kemerdekaan”.

Baca Juga:  Kami Minoritas, Tetapi Kami Tidak Akan Kalah!

13 tahun KNPB berjuang bersama rakyat tertindas dengan bermartabat untuk mengakhirinya dengan bermartabat. Karena perjuangan kita bukanlah suatu perlombaan antara sesama pejuang. Perjuangan kita adalah perjuangan rakyat-bangsa tertindas melawan penindas, yakni penguasa kolonial, kapitalis, beserta semua yang sedang menyukseskan (memperkokoh) kepentingannya.

Karenanya, kita tetap erat pegang kendali perjuangan sambil mengorganisir rakyat pejuang di seluruh teritori West Papua, karena pejuanglah rakyat. Kita tetap berada pada jalur perlawanan, dan terus melangkah maju bersama rakyat pejuang sambil menolak semua siasat para penindas dan agen Jakarta.

Kita, rakyat Papua adalah pemilik tanah air kita. Kita, rakyat Papua bisa mengatur diri kita tanpa diatur oleh kolonialisme, kapitalisme, karena leluhur kita telah membuktikan 500 tahun yang lalu. Hidup tanpa kolonialisme, dan kapitalisme!.

Perlawanan adalah jalannya kemerdekaan. Kemerdekaan akan mencari jalan sendiri. Keyakinan dan kepercayaan saja tidak cukup. Harus ada perlawanan!.

Selamat memperingati hari bangkitnya semangat juang, rakyat pejuang di negeri revolusi.

Salam satu cinta!.

Terkini

Populer Minggu Ini:

Referendum Vanuatu Berupaya Menanamkan Stabilitas Setelah Pemerintahan Terbuka

0
"Vanuatu memiliki sistem pemerintahan yang demokratis, tetapi ketika referendum berfokus pada penghapusan hak konstitusional seorang anggota Parlemen, apakah kita masih berada di negara demokrasi?" kata seorang pengguna bernama Peserta Anonim di grup Facebook Yumi Tok Tok Stret.

Fortnightly updates in English about Papua and West Papua from the editors and friends of the banned 'Suara Papua' newspaper.