Kisah Resina Lokbere, Mahasiswi Papua di Rusia yang Hampir Hilang Harapan

    0
    1284

    Perempuan Papua itu tampak kebingungan di sebuah stasiun kereta di Kota Moskow. Dia bingung kemana mau melangkah ke kota yang ditujunya berdasarkan tiket kereta yang su ada dalam genggamannya. Dia sudah berusaha keras bertanya kepada polisi-polisi dan petugas di stasiun kereta tapi tidak ada yang mengerti bahasa Inggris. Dengan cuaca dingin akhir musim gugur, dia mulai kebingungan, panik, putus asa, dan shock menemukan kereta ke kota yang dituju.

    Untung saja ada seorang pak tua yang membantu dia mengantarnya ke kereta yang dimaksud dengan melihat informasi yang tertera pada tiketnya. Hanya bermodalkan bahasa isyarat akhirnya dia bisa menarik napas dan duduk tenang di dalam ruangan kereta yang nyaman untuk mengantarnya ke kota tempat dia akan mengejar impian terbesar dalam hidupnya.

    Resina Lokbere pertama kali tiba di Rusia tanggal 25 Oktober 2019 untuk mengikuti kelas bahasa selama setahun. Rosina berada di Rusia untuk melanjutkan pendidikan Master degree Teologi dengan konsentrasi Pastoral. Dia mengaku mempunyai mimpi untuk melanjutkan kuliah di Dallas Amerika Serikat dan pernah mengambil kelas persiapan Bahasa Inggris, tetapi kenyataan Tuhan bermaksud lain, dia akhirnya mendapat beasiswa untuk melanjutkan program S2 di Orel State University Rusia.

    “Saya sudah pernah mengikuti kursus persiapan bahasa Rusia di Papua Language Institute Jayapura, tetapi saya rasa masih kurang. Saya ingat pertama tiba di Moskow, saya ingin membeli air, tetapi saya bingung bagaimana cara berkomunikasi, bahkan saya salah membeli air yang ternyata mengandung soda,” ungkap Resina.

    Resina Lokbere adalah wanita yang berasal dari Nduga-Papua. Dia menamatkan pendidikan di sekolah dasar di Kampung Mbua-Nduga, melanjutkan Sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas di Kota Wamena. Resina mendapatkan gelar sarjana teologi dengan konsentrasi pastoral di Sekolah Tinggi Teologi Jaffray Jakarta.

    ads

    “Saya mendapatkan beasiswa ini ketika saya mengalami masa-masa titik terendah dalam hidup. Saya kehilangan tujuan, impian dan semangat dalam hidup karena kehilangan sosok ayah dan ibu yang pergi untuk selama-lamanya. Setelah kembali dari Jakarta dengan mendapatkan gelar teologi, saya merasa kehilangan semangat dan merasa putus asa,” ungkap Lokbere.

    Awal melamar beasiswa Rusia, Resina mengakui bahwa ia mengalami banyak tantangan. Mulai dari persepsi orang terhadap negara Rusia yang memiliki paham komunis, tetapi dia diyakinkan oleh pengajar mereka di kelas bahasa Rusia yang adalah putra asli Papua yang berasal dari Paniai dan Lani Jaya. mereka merupakan lulusan dari Rusia yang mengajar kelas persiapan bahasa Rusia di Papua Language Institute Jayapura, sehingga Resina tetap yakin melangkahkan kaki ke Rusia.

    Tantangan Kuliah di Rusia

    Resina bilang, ia mengalami kesulitan dalam beradaptasi dengan kehidupan barunya di Rusia. Salah satu kesulitannya adalah karena tidak banyak orang Rusia yang tahu bahasa Inggris.
    “Kalau sekolah di negara-negara berbahasa Inggris masih agak mudah, karena di Indonesia kita sudah bisa mempersiapkan kemampuan bahasa Inggris, sehingga sampai di negara tujuan, kita bisa mempermantap kemampuan bahasa Inggris tersebut. Tetapi di Rusia ini berbeda jauh dan tidak sesuai ekspektasi kita.

    Resina juga bercerita bahwa setelah dia tiba di Kota Orel Russia, langsung dia masuk kelas mengikuti kelas persiapan bahasa Rusia. Kelas tersebut sudah berjalan beberapa minggu, dan Resina terlambat mengikutinya dan baru tiba di Rusia selang kursus berjalan. Bahkan setelah masuk kelas, dosen mereka tidak pernah menjelaskan ulang materi yang telah diberikan, dan mau tidak mau, suka tidak suka dia harus menyesuaikan diri.

    “Tahun-tahun awal saya sangat berat, awal tiba saya sudah shock, dan ini menjadi pergumulan berat dalam hidup, saya merasa minder, dan tidak ada apa-apa karena kelas sudah berjalan dan saya menyesuaikan sendiri. Saya hampir putus asa, tetapi saya berharap dan berserah kepada Tuhan, akhirnya saya bisa melewati ini semua,” beber Resina.

    Setelah kelas persiapan bahasa Rusia selesai, saya juga masih bergumul dengan jurusan, karena saya dipengaruhi oleh seorang teman bahwa mengambil jurusan teologi di Rusia tidak sebagus yang dipikirkan karena ada doktrin yang berbeda, tetapi Resina dikuatkan oleh Tuhan dan dinasehati oleh teman sekamar, sehingga dia tetap kokoh mengambil S2 Teologinya.

    Resina mengatakan bahwa, ketika dia mengambil jurusan teologi, dia tidak hanya belajar tentang teologi saja, tetapi dia belajar tentang disiplin ilmu lain seperti sejarah, ekonomi dan sosial, sehingga Resina merasa akan sangat membantu ketika dia kembali ke Papua.

    Di Rusia suhu musim dingin di setiap kota berbeda-beda. Di kota Oril tempat Resina tinggal memiliki derajat -20 sampai -28 derajat celcius, bahkan di daerah lain bisa mencapai -30 bahkan sampai -40 derajat. Resina mengaku bahwa banyak sekali tantangan yang mereka hadapi, mulai dari faktor bahasa dan tulisan Rusia yang sulit dan berbeda, bahkan budaya masyarakat Rusia yang sangat berbeda.

    “Orang Rusia jarang senyum, apalagai ke orang asing, beda sekali dengan kita di Indonesia. Ketika mereka berbicara, kita tidak bisa menduga bahwa mereka sedang marah, atau tidak. Mereka berwatak keras, serius, dingin dan tidak bisa senyum sembarangan. Tetapi mereka adalah orang baik ,tetapi budaya mereka memang seperti itu, ketika kita sudah mengenal mereka dekat, ternyata mereka baik,” katanya.

    Kelas Bahasa di Rusia semakin berat ketika pandemik covid19 melanda dunia. Di Rusia juga memberlakukan kelas secara daring. Kelas daring dirasakan sangat sulit tidak seperti kelas tatap muka di ruangan kelas. Sehingga membuat perjuangan Resina terasa berat untuk menguasai bahasa Rusia.

    Perempuan yang menyukai warna ungu ini mengaku memiliki tantangan yang sulit, tetapi dia fokus di keinginan dan mimpinya ke depan bagi tanah Papua.

    “Saya tidak akan menyerah dengan keadaan, saya akan berjuang sekuat tenaga bertahan di Rusia sampai saya selesai kuliah. Disamping saya akan melayani di gereja di Papua nantinya ketika kembali, saya juga ingin menjangkau anak-anak di jalanan terutama di kota Wamena, saya ingin membangun rumah seperti rumah baca atau rumah singgah dan ingin memajukan mereka di bidang literasi.”

    “Apalagi ketika tahun 2018 sampai sekarang, banyak warga Nduga yang mengungsi ke Wamena, banyak anak-anak Nduga yang terlantar, tidak sekolah, dan masa depan mereka dibidang pendidikan tidak pasti. Hal ini yang membuat saya tetap bertahan walaupun sering berada dititik terendah dalam hidup,” tutur Resina.

    Impian Resina untuk bertahan membuat dia mulai belajar banyak, dia bergaul dengan siapa saja, tidak menyerah, walaupun ada titik jenuh, bosan, rindu pulang, rindu keluarga, tetapi Resina tetap tidak akan menyerah dengan keadaan.

    “Banyak anak-anak Papua yang ingin kuliah keluar negeri, saya berharap mulai sekarang waktu dipergunakan baik untuk meningkatkan kualitas diri, belajar bahasa asing, jangan berekspektasi besar dan tinggi, karena kehidupan yang akan dijalani di luar negeri akan berbeda dengan apa yang dipikirkan, dan anda akan stress dan kecewa. Resina juga mengingatkan bahwa sebelum keluar negeri, siapkan mental, kesehatan fisik, dan berpegang teguh tujuan anda kuliah keluar negeri.

    “Tetap percaya diri karena biasa kita menganggap kita di Papua itu tidak bisa, bodoh, tertinggal, tidak bisa bersaing, ternyata itu tidak benar, karena di luar negeri derajat dan kemampuan semua orang hampir sama. Yang terpenting adalah tetap semangat, tetap belajar dan percaya diri serta tetap percaya dan berserah kepada Tuhan, maka kita bisa maju dan membangun tanah Papua menjadi lebih baik kedepan,” tutup Resina. (*)

    )* Dilaporkan oleh Karel Syorel. Seorang pemuda Papua yang mengelola portal karelsyorel.com. Atas izinnya, kami terbitkan artikel ini. 

    SUMBERkarelsroyer.com
    Artikel sebelumnyaNumbuk Telenggen Bertanggungjawab Atas Penyerangan Pos TNI di Gome
    Artikel berikutnyaMarga Fadan akan Lakukan Pemetaan Tapal Batas Tanah Adat